Lipatan Baru Bertajuk “Sangatta Membaca”

Alhamdulillah, kami kembali diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi bagian dari “lipatan” baru, kali ini bertajuk kegiatan “Sangatta Membaca” bersama belasan pemuda alumni berbagai universitas yang sedang berdomisili atau merantau di Sangatta. Lipatan yang dimaksud seperti tulisan Ade Chandra, berikut ini

Tangan saya membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian. Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan. Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan. Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”.

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan ‘bersentuhan’. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

“Orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

Acara ini diinisiasi oleh beberapa alumni yang ingin berkontribusi nyata mengajak anak-anak di Sangatta sebagai generasi penerus yang kami harap bisa membawa Sangatta menjadi daerah yang lebih baik, tingkat kemiskinan berkurang, pengangguran berkurang, gizi baik tercukupi, karena rasanya sangat ironis ketika tinggal di Kota dengan pendapatan daerah yang luar biasa tinggi namun sebagian besar masyarakatnya juga hidup kurang layak, baik dari segi air bersih, listrik, infrastruktur dasar lainnya 😦 Continue reading

Advertisements