Happy Parents, Happy Kiddos…

Belajar lagi, belajar terus, sepanjang hayat…

Pekan ini, ada 1 kelas lagi yang saya ikuti.. Kelas pendampingan penyusunan portofolio anak. Seperti kelas2 produktif lainnya ada banyak nice homework yang harus kami kerjakan..

Hari pertama kami diminta menuliskan kelebihan diri sendiri (yeayy narsis time :D, gak ding ya, list ini dibuat dari observasi diri sendiri dipertajam oleh hasil Talents Mapping)

Continue reading

Advertisements

Manajemen Keuangan Persiapan Persalinan

Orangtua mana yang tidak excited menyambut kehadiran buah hati? Bahkan banyak yang membuat countdown pribadi dalam rangka menanti hari H si jabang bayi lahir…

Nah, salah satu perasaan yang terselip saat menantikannya adalah dag dig dug bagaimana menyiapkan dana dan anggaran untuk melahirkan nantinya. Mengapa demikian? Selama hamil, calon Ibu masih bisa mengatur bidan atau dokter kandungan yang cocok secara personal bagaimana mereka menjelaskan dan memeriksa kondisi kehamilan, termasuk bidan atau dokter mana yang masih masuk di budget mereka. Karena, banyak juga instansi tempat bekerja yang tidak mengcover biaya pemeriksaan kehamilan, sehingga perlu pintar-pintar memilih bidan atau dokter yang sesuai dengan preferensi dan budget yang ada.

Continue reading

A-Z Merencanakan dan Mengelola Kegiatan Komunitas

Tulisan ini dibuat untuk menyemangati seorang sahabat yang sedang berusaha memulai membuat kegiatan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya melalui sebuah seminar dan sejenisnya yang akan diisi oleh narasumber “kondang”.

Saya sendiripun belum handal mengurus kegiatan semacam itu, tapi semoga beberapa tips yang saya bagi bisa bermanfaat untuk teman-teman sesama pejuang dakwah melalui majelis ilmu yang ingin diselenggarakan. Karena kegiatan yang diadakan teman saya ini nantinya berupa majelis ilmu bagi wanita atau orang dewasa maka saya akan fokus membahas pengelolaan kegiatan semacam itu terlebih dahulu, jika ada yang tertarik membuat event dengan audience anak-anak akan dibahas di tulisan lainnya. Continue reading

Spiritual and Edu-Trip with Kiddos: Sebuah Catatan Perjalanan (Day 4-KL)

22 Des 2017

Hari ini adalah hari kedua kami di KL, cerita hari pertama ada di link ini.

Kami memulai hari ini sejak jam 3 pagi, saya dan suami bangun Qiyamullail kemudian membangunkan anak-anak pukul 4.30 karena adzan Shubuh di KL sekitar pukul 05.30 (kalau ga salah agak lupa pokoknya emang agak siang). Anak-anak pun mandi bersiap sekaligus membawa beberapa kebutuhan ringan karena kami berencana berdiam di masjid hingga waktu dhuha kemudian sholat dhuha di masjid baru mencari sarapan dan lanjut berjalan kaki ke dataran merdeka dll karena jaraknya tak terlalu jauh dari Masjid Jamek.

Oh iya, sebelum cerita panjang lebar tentang perjalanan hari ini saya ingin sedikit sharing tentang alasan kami hingga akhirnya memilih Hotel Cosmo di dekat Masjid Jamek ini. Awalnya, kami mengincar hotel di area Bukit Bintang atau KL Sentral agar dekat dengan berbagai jenis transportasi dan pusat perbelanjaan, namun.. kami berniat tetap menjaga “suhu” perjalanan ini adalah perjalanan spiritual, perjalanan yang kami harapkan bisa menambah keimanan anak-anak. Suami meminta saya mencari info tentang hotel apa di Bukit Bintang yang dekat dengan masjid, kami tidak menemukannya. Akhirnya kami sepakat memesan kamar di hotel terdekat dari masjid Jamek jaraknya hanya 100meter saja sehingga memudahkan kami untuk sholat berjamaah di sana.

Nah, tepat saat adzan kami berjalan menuju Masjid Jamek, hari itu hari Jumat, di perjalanan menuju masjid kami melihat pedagang kaki lima yang menjual nasi lemak mulai bersiap membuka dagangannya. Dalam hati, mantap sudah, setelah dhuha bisa sarapan di sini 😀 Continue reading

Spiritual and Edu-Trip with Kiddos: Sebuah Catatan Perjalanan (Day 3-KL)

Hari ini petualangan kami dimulai, jam 2 saya sudah membangunkan keluarga untuk mulai bersiap-siap kecuali Mas Haidar dan Adek Mush’ab mereka saya biarkan sampai Grab datang baru dibangunkan.

itin day 3

Alhamdulillah, jam 03.30 sesuai jadwal kami berangkat dengan 2 mobil Grab, maklum ya, walau hanya 4 orang dewasa dan 3 anak tapi koper besar kami berjumlah 6, koper kabin ada 2, dan beberapa printilan bekal 😀 Untuk persiapan apa saja yang dibawa cek postingan ini ya… Continue reading

Spiritual and Edu-Trip with Kiddos: Sebuah Catatan Perjalanan (Day 2)

20 Des 2017

Alhamdulillah, setelah semalam sampai di rumah Tante Haroh (adik saya) dengan susah payah karena macetnya Jakarta 😀 tapii terbayar lunasss dengan hidangan makan malam yang mantap, serta obrolan seru dengan Ayah, Ibu, adik2 juga keponakan kecehh… Tabarakallah…

Pagi ini, agenda kami cukup padat, sebenarnya singkat, namun kami harus tahu diri dengan kondisi jalanan Ibukota akan cukup menyita waktu sehingga ada jadwal yang diskip plus masih ada beberapa kebutuhan yang belum selesai seperti tukar mata uang asing, beli tongsis dan tambahan keperluan Kaka Faza. Continue reading

Spiritual and Edu-Trip with Kiddos: Sebuah Catatan Perjalanan (Day 1)

Selasa, 19 Des 2017

Alhamdulillah, hari yang ditunggu-tunggu tiba juga… Tak hanya anak-anak yang sangat excited, sejujurnya saya juga tak sabar dengan pengalaman baru ini. Tulisan tentang persiapan dan overview perjalanan sudah saya tulis di link masing-masing ya sebelumnya.

Sepanjang pagi hingga pukul 11.00 WITA saya dan suami masih sibuk mondar mandir di rumah untuk melengkapi perbekalan yang ada sambil menyiapkan diri dan anak-anak untuk dandan rapi karena pesawat twin otter yang kami naiki terbang pukul 11.45 Continue reading

Berdamai dengan “Kekacauan”

Kondisi “darurat” acapkali dihadapi oleh seorang Ibu dalam dinamika hidup hariannya. Sebagai emak siaga, tentunya sebagian dari kita sudah sangat akrab dengan “panggilan-panggilan” sayang dari Ananda 🙂

Jumat lalu, ada kejadian unik yang saya alami bersama the bocils tentu saja. Kejadiannya sederhana yaitu anak mengompol namun karena waktu dan tempat yang istimewa maka dapat digolongkan menjadi kondisi darurat 😀 Mumpung dulu ada cerita serupa dengan waktu dan lokasi berbeda saya juga mencoba mengulas (halah, apa ini bahasanya) di postingan ini. Siapa tahu bisa jadi referensi saat emak2 siaga mengalami kondisi serupa. Saya urutkan berdasarkan kronologis kejadian, jadi yang diceritakan peristiwa yang terjadi duluan ya.. Continue reading

Menumbuhkan Kecintaan pada Shirah, Menceriakan PERJALANAN

Di setiap keluarga rasanya hampir semua sudah cukup akrab dengan kebiasaan bepergian baik jarak dekat dan rutin seperti proses antar jemput anak-anak dan belanja harian, maupun yang berjarak cukup jauh yang dilakukan pada periode tertentu saja. Saya dan anak-anak, karena sejak 3 tahun lalu berdomisili di sebuah kota kecil hampir di ujung timur arah utara Kalimantan, hampir setiap hari harus menempuh sekitar 40km bahkan sering lebih dengan mengendarai mobil.

 

Panjangnya waktu yang harus kami habiskan di jalan membuat saya harus memutar otak agar perjalanan kami setiap harinya menjadi cukup bermakna bagi anak-anak. Setelah bercerita santai tentang aktifitas mereka, biasanya dulu saya mulai bercerita tentang shirah, masa kecil saya, keluarga besar, sahabat2 saya, bermain quiz tebak shirah hingga akhirnya beberapa bulan terakhir mulai akrab dengan aktifitas berkisah dengan tata cara yang baik dan benar. Sejak dulu sebenarnya sudah sering bercerita, tapi kadang tanpa alur yang jelas dan pesan yang runut. Contoh bercerita asal-asalan yang kadang saya selipkan saat mentok mencari contoh yang sesuai di saat ada momen kurang pas dari anak-anak adalah kisah Pangeran DanDan 😀 Karena ada salah satu anak yang beberapa hari saya perhatikan penampilannya asal-asalan, saya langsung mengarang cerita tentang Pangeran DanDan, bagaimana dari kebiasaan buruknya yang sembarangan berpakaian dia memperoleh banyak kesulitan namun setelah mengubah kebiasaan menjadi anak yang rapi jali, mendadak jadi banyak kejutan indah yang didapatkan. Nah, setelah mendalami ilmu berkisah, alhamdulillah, cerita-cerita khayal macam itu sukses saya jauhi 😀

Mengapa saya putuskan untuk menjauhi cerita semacam itu, pertama, karena masih banyak shirah dengan makna mendalam belum tertanam kuat pada diri anak-anak saya. Kedua, saya ingin membiasakan mereka dekat dengan sosok nyata yang membuktikan bahwa setiap keshalehan itu bisa dilakukan oleh siapa saja (jika tokohnya fiktif seperti cerita saya jaman dulu maka akan mudah si anak bilang, ahh itu kan hanya tokoh khayalan saja bunda, makanya dia bisa begitu cepat berubah drastis).

 

Bagi Ayah Bunda yang belum terlalu akrab dengan ritme aktifitas berkisah, biasanya di awal-awal akan mengalami masa “mati gaya”. Mengapa? Karena jika hanya harus bercerita semata, maka lisan kita biasanya cukup mudah mencari-cari tema untuk dikarang sebisanya, namun untuk berkisah sepatutnya diperlukan tabungan ilmu shirah dalam diri orangtua agar bisa mengisahkan berbagai alur sesuai dengan minat atau kejadian yang bisa dijadikan AHA Moment.

 

Sebagai bunda yang pernah mengalami masa-masa “clueless” tersebut, saya ingin berbagi sedikit tips terlebih dahulu untuk menipiskan rasa grogi saat harus mengisi waktu sepanjang perjalanan dengan anak-anak. Dulu, sebelum tabungan shirah di otak saya mencukupi kadang harus diselingi dengan aktifitas putar otak lainnya yang menarik bagi anak-anak, misalnya lomba membuat pertanyaan seputar topik tertentu, antara lain: hujan, awan, mobil, pohon, dan sebagainya yang terlihat di jalan atau objek lain yang cukup seru dijadikan bahan diskusi. Nah, tentu saja, semua usaha tersebut harus juga diimbangi dengan belajar dan membaca aneka kisah baik yang jenisnya panjang maupun pendek.

 

Kisah yang cukup panjang biasanya saat menceritakan kisah hidup Nabi dan Rasul atau kisah hidup para Sahabat, untuk jenis kisah tersebut biasanya saya menggunakan teknik potong pada scene-scene tertentu. Misalnya, kisah Nabi Yusuf, bisa dibagi dari masa kecilnya, masa remaja hingga masuk penjara, masa diangkat menjadi pejabat kerajaan hingga akhir memaafkan saudara-saudaranya. Begitupun untuk shirah Rasulullah, Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan lain-lain. Sementara yang pendek-pendek biasanya saya ambil dari potongan-potongan kisah dengan tema tertentu.

 

Pernah suatu saat di mobil, salah satu anak saya bersikap tidak jujur pada saudaranya. Spontan saya dan saudaranya menegur sikap tersebut. Setelah itu, saya teringat dua kisah mengenai kejujuran yang cukup masyhur dan saya ceritakan kembali pada mereka.

 

“Kakak, Mas dan Adek mau dengar kisah-kisah orang jujur yang alhamdulillah akhirnya mendapat kejutan nikmat dari Allah?” tanya saya. Mereka spontan berteriak mau.. mau…

 

Kisah pertama tentang seorang perempuan jujur dari Bani Hilal di masa kekhalifahan Umar Bin Khattab. Hampir semua orang sudah familiar dengan kisah ini, maka saya pun tak bosan mengulangnya agar menancap akhlak kejujuran di hati anak-anak.

 

Malam itu, seperti malam lainnya Khalifah Umar sedang berpatroli ke sekeliling kota bersama, Aslam, ajudannya. Hingga Khalifah tiba di sebuah rumah yang terdengar sayup-sayup suara dua orang perempuan.

 

Perempuan pertama berkata “cepat nak, segera campurkan susu itu dengan air mumpung malam masih demikian gelapnya”

 

Perempuan kedua menjawab “jangan bu, bukankah Khalifah sudah melarang semua rakyat melakukannya.”

 

Perempuan pertama kembali menukas “Tapi bukankah banyak pedagang yang melakukannya, lagipula khalifah juga tidak akan tahu bahwa kita mencampurnya.”

 

Perempuan kedua menjawab lagi sekaligus membuat perempuan pertama terdiam “Betul Khalifah mungkin tidak akan tahu Bu, namun itu adalah amanah bagi kita, dan Allah pasti mengetahui setiap yang dilakukan hamba-Nya”

 

Mendengar hal tersebut, Umar menandai pintu rumah tersebut dan meminta Aslam menyelidiki empunya rumah setelah pagi datang. Dari hasil pencarian Aslam diketahui bahwa yang semalam berbicara adalah seorang Ibu yang telah menjanda dan anaknya yang telah masuk usia menikah. Mengetahui hal tersebut, Umar segera menanyakan pada putra-putranya “Adakah di antara kalian yang mau menikah dengan perempuan yang seandainya Ayahmu ini masih memiliki kemampuan tentu akan menikahinya sendiri?” Ashim, putra Umar mengutarakan kesediaannya. Menikahlah perempuan jujur dan kokoh imannya tersebut dengan Ashim putra Umar bin Khattab sekaligus dari pasangan ini lah kelak keturunan kedua (cucu) mereka menjadi pemimpin yang luar biasa kearifannya hingga sebagian ulama menjuluki beliau sebagai Khalifah ke-5 setelah Ali bin Abi Thalib.

 

Kisah kedua yang saya ceritakan adalah tentang cermin kejujuran seorang bernama Tsabit bin Ibrahim yang tidak sengaja memakan apel yang ia temukan di pinggiran sungai kota Kufah. Sekejap setelah makan, Ia baru menyadari bahwa apel tersebut bukan miliknya. Demi mencari keikhlasan sang pemilik apel Ia menyusuri jalan dan bertanya kepada satu demi satu orang yang ditemui. Hingga dilihatnya sebuah kebun apel, Ia pun bertanya siapa pemilik kebun tersebut, dijawab oleh sang penjaga lokasi rumah sang pemilik yang cukup jauh namun tetap didatanginya juga. Setelah bertemu dan mengungkapkan maksud kedatangannya, pemilik kebun tersebut menjawab baru akan mengikhlaskan apel yang telah dimakan tersebut jika Tsabit bersedia menikahi putrinya yang buta, tuli, bisu dan lumpuh. Walau sempat galau namun demi menjadikan apel yang terlanjur dimakannya menjadi halal maka iapun menerima syarat tersebut.

 

Namun alangkah terkejutnya Tsabit bin Ibrahim setelah menemui istrinya di kamar, yang ditemui adalah seorang wanita yang cantik, tidak buta, tuli, bisu dan lumpuh. Ketika Tsabit menanyai istrinya apa yang dimaksud ayahnya sebagai buta, tuli, bisu dan lumpuh maka dijawab oleh istrinya tersebut bahwa ia memang buta, tuli, bisu dan lumpuh karena tidak pernah melihat, mendengar, berkata dan melangkah menuju sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.

 

Dari pasangan mulia ini pulalah kelak terlahir Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit.

Terkait kejujuran, ada sebuah hadits pesan dari Rasulullah berikut ini: “Berjanjilah kepadaku enam hal dan aku akan menjanjikan engkau surga. Bicaralah jujur (benar), tepati janjimu, penuhi kepercayaanmu, jaga kesucianmu, jangan melihat yang haram, dan hindarilah apa yang dilarang.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

 

Kisah mungkin bukan sulap yang bisa demikian instan mencetak anak-anak kita menjadi ahli surga, namun kisah – kisah yang terurai dari lisan kita insya Allah dicatat oleh-Nya sebagai ikhtiar tiada henti untuk membangun generasi Rabbani yang terbangun cita-citanya dari teladan kisah orang sholeh di jaman sebelumnya.

 

Mudahkan lisan ini untuk berjuang mengukir keshalihan melalui kisah-kisah yang terlantun dalam setiap kesempatan berinteraksi dengan anak-anak kami ya Rabb…

Ditulis sebagai salah satu sumbangan tulisan di buku Antologi Komunitas Ibu Berkisah

Continue reading

Spiritual and Edu-Trip with Kiddos: Sebuah Catatan Perjalanan (Persiapan)

Alhamdulillah, tgl 8 Jan lalu kami sekeluarga mendarat kembali dengan selamat di Bandara Tj Bara Sangatta. Setelah jarang sekali bisa memegang HP selama safar, alhamdulillah hari ini bisa mulai mencicil berbagi pengalaman bagi teman-teman lainnya yang berencana melakukan perjalanan seperti yang baru saja kami selesaikan.

IMG-20171224-WA0072

Pada postingan ini saya akan sampaikan detail seluruh persiapan yang kami lakukan untuk melakukan perjalanan umrah dan edu-trip tambahan sepanjang perjalanan tersebut, semoga bermanfaat. Continue reading