Menjadi Titik Kecil pada Lingkaran Kebaikan

Setiap kali “terjebak” dalam sebuah lingkaran kebaikan, saya teringat tulisan bertajuk Lipatan oleh Ade Candra berikut ini:

Tangan saya membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian. Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan. Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan.Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”.

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan ‘bersentuhan’. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

“Orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

KI sangatta.jpg

Allah begitu baik, masih memberi saya kesempatan menjadi sebuah titik kecil pada sebuah lingkaran kebaikan bertajuk “Kelas Inspirasi Sangatta 2016”. Masih terukir jelas di benak saya begitu menerima email info pendaftaran KI Sangatta dari seorang sahabat di ILUNI UI, Allah menggerakkan jari saya dengan cepat ke link tersebut dan segera mendapat email konfirmasi. Continue reading

It Takes a Village to Raise a Child (Catatan NoBar TBCLC)

Judul di atas diambil dari peribahasa asal Afrika yang kini justru sangat populer sekaligus menjadi tema diskusi santai yang kami sepakati setelah menonton film The Beginning of Life bersama di ruang RecHall Tanjung Bara.

Saya dan teman-teman di Tj Bara Community Learning Club sangat antusias menonton dan mendiskusikan berbagai lesson learned yang tersirat di film tersebut.

Sebuah terobosan terbesar neuroscience telah menemukan bahwa bayi bukan sekedar berisi muatan genetik. Perkembangan manusia dibentuk melalui kombinasi genetik, kualitas relasi dan lingkungan mereka. Saksikan bagaimana ratusan narasumber mulai dari ahli, orang tua, guru dan bahkan anak-anak menyampaikan pandangan mereka tentang tumbuh kembang anak. Sebuah film dokumenter yang menampilkan sinematografi yang indah dan menyentuh emosi. Film The Beginning of Life menampilkan beragam pandangan dari banyak narasumber dan dari berbagai konteks sosial budaya, sehingga perbedaan pandangan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, pilihan terbaik adalah “ambil yang baik, tinggalkan yang buruk” dari film ini. Pemandu bertanggung jawab memfasilitasi diskusi yang kontruktif dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.

Poster edited nobar

Continue reading

Trombositosis, Akhirnya Kita Kenalan..

Seminggu terakhir ini, kami sekeluarga akhirnya kenalan juga dengan jenis penyakit yang kurang populer dan sering menyebabkan orang yang pertama kali mendengar mengira saya salah ketik.

Sabtu lalu, suami menyarankan saya memeriksakan Mush’ab ke dokter anak karena tampaknya batuk-batuk yang dialami sudah demikian lama, lebih dari dua minggu. Walaupun nomer antrian yang kami terima menunjukkan angka buncit yaitu 25, kami tetap berusaha tersenyum, itung2 sambil keliling kota Sangatta 😀

Daan setelah pukul 19.30 nama Mush’ab dipanggil masuk ruangan. Setelah menjelaskan kronologis batuk Mush’ab seraya sang dokter memeriksa mulut dan tenggorokan juga dada, dokter meminta saya membawa Mush’ab cek darah dulu ke laboratorium.

Karena ini pertama kali sesi cek  darah bagi Mush’ab maka masuk ke lab pun Mush’ab masih senyum-senyum becanda dengan saya. Daan, ketika jarumnya masuk, jeng jeng, nangis.. alhamdulillah tak lama. 15 menit kemudian, hasil selesai dan kami bawa ke dokter.

Dokter melingkari dua angka yaitu di bagian trombosit dan leukosit, trombosit Mush’ab sangat tinggi dibanding batas maksimal normal nya yaitu antara 150rb-500rb, sementara angka trombositnya 753rb. Leukosit pun cukup tinggi yaitu 12.900. Continue reading

Mengantongi Ijin “Me Time” dari Suami

Kalimat di belakang laki-laki hebat ada wanita hebat, pun sebaliknya berulang kali saya dengar. Saya pun termasuk yang mengamini hal tersebut. Setiap kali melihat sosok figur keren dan hebat, saya percaya pasti di belakangnya ada support team entah dari suami, istri ataupun sosok yang dikirim oleh Allah untuk membantu.

20151101_172641

Beberapa bulan terakhir ini, walau saya sangat sadar saya bukan termasuk orang hebat, saya sangat tersanjung dengan ijin dan dukungan dari suami tercinta untuk kembali beraktifitas di beberapa aktifitas luar, Continue reading

Lipatan Baru Bertajuk “Sangatta Membaca”

Alhamdulillah, kami kembali diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi bagian dari “lipatan” baru, kali ini bertajuk kegiatan “Sangatta Membaca” bersama belasan pemuda alumni berbagai universitas yang sedang berdomisili atau merantau di Sangatta. Lipatan yang dimaksud seperti tulisan Ade Chandra, berikut ini

Tangan saya membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian. Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan. Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan. Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”.

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan ‘bersentuhan’. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

“Orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

Acara ini diinisiasi oleh beberapa alumni yang ingin berkontribusi nyata mengajak anak-anak di Sangatta sebagai generasi penerus yang kami harap bisa membawa Sangatta menjadi daerah yang lebih baik, tingkat kemiskinan berkurang, pengangguran berkurang, gizi baik tercukupi, karena rasanya sangat ironis ketika tinggal di Kota dengan pendapatan daerah yang luar biasa tinggi namun sebagian besar masyarakatnya juga hidup kurang layak, baik dari segi air bersih, listrik, infrastruktur dasar lainnya 😦 Continue reading

Catatan Ibu di Seberang Pulau

Catatan ini ditulis terinspirasi oleh pertanyaan beberapa teman yang sedang menjajaki kemungkinan suami ditugaskan ke daerah yang cukup jauh dari kota besar dan keramaian seperti daerah yang kami sekeluarga tempati sekarang ini…:)

Mungkin juga menjawab beberapa pertanyaan yang sering kami dengar, gimana di sana? Kerasan? 😀

Walau baru 6 bulan berada di sini, saya dan suami juga anak-anak ternyata cukup menikmati perubahan yang ada saat mulai tinggal di sini hingga sekarang. Tentu saja tetap ada plus minusnya, namun hingga saat ini sukanya masih lebh banyak daripada dukanya 😀 semoga demikian seterusnya..

C360_2015-04-05-16-42-23-557

Supaya lebih nyata sharing plus minus hidup di kota kecil di luar Jawa, saya akan mulai menulis daftar part enak-enaknya dulu yaa.. Continue reading

Hakikat Ibadah bagi Seorang Muslim

Kajian dibuka dengan membaca dan mentadabburi Adz dzariyat 56: ternyata Allah begitu baik memudahkan muslim menemukan tujuan hidup, banyak sekali orang yang selama hidupnya belum menemukan apa tujuan akhir dari hidupnya. Sebagai muslim kita diuntungkan dengan sudah jelasnya tujuan hidup kita. Dan, ternyata seluruh aktifitas kita bisa bernilai ibadah asalkan memenuhi syarat-syaratnya.

Continue reading

Episode Baru Keluarga Kecil Kami

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, sejak akhir Desember lalu kami resmi menjadi warga Sangatta 🙂 Yeaay, menikmati jauhnya hiruk pikuk kota dan keramaian, di sini setiap kali sarapan atau jadwal makan dan santai lainnya, kami bisa memandang langsung ke hutan dari jendela, mendengar kicauan aneka burung.. Kemewahan sederhana yang tidak kami dapatkan di Depok dulu.

Kami sekeluarga berusaha beradaptasi dengan ritme baru, aktifitas baru, sahabat baru, keluarga besar baru… Kira-kira begini episode baru kami di Sangatta. Continue reading

Berkenalan dengan Sangatta

Menjelang pindah beberapa bulan lalu, tiap kali ditanya orang, mau pindah ke mana? Sangatta, jawab saya. Hampir selalu akan dilanjutkan dengan pertanyaan “Sangatta itu di mana ya?” 😀 Wajar sih memang, saya juga belum tentu tahu Sangatta kalau suami tidak ditugaskan ngaudit ke sana dari beberapa tahun lalu, dan akhirnya mulai menetap di sana Agustus lalu, disusul saya dan anak-anak akhir Desember kemarin.

Saat saya tanya ke suami Sangatta itu seperti apa, maka 3 jawaban singkat teratas adalah kota kecil, panas, dan cocok untuk membaca. Kalau dirunut maka dari jawaban pertama hingga ketiga saling terkait satu sama lain 🙂 Karena kotanya kecil terlebih udara relatif panas di siang hari (tapi selama di sini saya jarang menikmati udara panas yang menyengat banget karena saya memang jarang keluar rumah kecuali ke halte bus dan weekend, kedua sedang musim hujan jadi agak merana dengan jemuran clodi yang tak kunjung kering walaupun sdh dispin berkali-kali di mesin cuci, clodi sangat butuh sinar matahari langsung) maka yang paling nyaman ya di rumah sambil membaca buku.

Nah, itu versi suami, versi saya 3 jawaban singkat teratas adalah hutan, nyaman, sepi, Continue reading