Petikan Hikmah dari Seminar Keluarga “Merawat Cinta Sampai Ke Surga”

Bismillahirrahmanirrahiim

Disampaikan oleh: Ust. Cahyadi Takariawan

Ditulis oleh: Ummu Qonita (yang masih berjuang utk mengikat ilmu melalui tulisan)
Sebagai warga pendatang di sebuah kota kecil dan warga yang tinggal di tengah rimba, seminar semacam ini bagi saya selalu menjadi bagai sebuah oase untuk bisa meneguk sedikit ilmu dari ahlinya.
Ust. Cahyadi memang bukan sosok dengan latar belakang psikolog, namun pengalaman beliau selama 17 tahun menjadi konselor sukarela di area rumah tangga dan pernikahan menjadikan hal2 yang beliau sampaikan selama kurang lebih 3 jam kepada peserta terasa demikian lekat dengan keseharian kami.
Tokoh alim ulama hingga filsuf dan ideolog dalam hal keluarga sepertinya sehati menyatakan bahwa peran sebuah keluarga begitu penting bagaikan miniatur sebuah negara.
*”Cinta, kasih sayang dan kemesraan hubungan yang diperoleh anak2 dlm keluarga merupakan sesuatu yang dapat mencetak jiwa dan perilaku sosial serta politik mereka dlm kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara” Hibah Rauf Izzat – 1997*
Walaupun kutipan di atas mengacu pada kasih sayang pada anak2, sesungguhnya akar utamanya juga adalah pada hubungan ayah dan ibunya. Oleh karenanya, menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan dapat dihukumi wajib dalam kehidupan berumah tangga.
Secara singkat ada 5 langkah menciptakan kebahagiaan keluarga:

šŸ’Œ Kuatkan *PONDASI* Keluarga

šŸ’Œ Kenali *BAHASA CINTA* Pasangan

šŸ’Œ *Saling menyesuaikan diri* dengan pasangan

šŸ’Œ Terima *PENGARUH* dari pasangan

šŸ’Œ Menjadi *SAHABAT SETIA* bagi Pasangan
Dari pemahaman yang saya dapatkan saat seminar, penjabaran masing2 langkah adalah sebagai berikut:
1āƒ£ *Kuatkan Pondasi Keluarga*
Tanyakan kembali pada diri sendiri dan pasangan Anda, apa sebenarnya motivasi yang ada saat akan menikah. Jika jawabannya masih cukuo klise seperti karena cinta, karena ingin bahagia, maka mungkin sekaranglah saatnya diluruskanšŸ˜Š
Mengapa???
Karena cinta pada pasangan akan mudah goyah jika tidak dilandasi dengan hal lain yang lebih fundamental.
Karena harapan tentang kebahagiaan kadang begitu semu, setelah menjalani pernikahan akan sangat terasa bahwa masa euforia bagi sebagian orang terasa sangat singkat dan harus dilanjutkan dengan perjuangan.
Maka tidak salah jika menikah disebutkan sebagai pelengkap separuh agama, karena pernikahan adalah ajang beribadah dengan durasi terlama yang tentu membutuhkan keistiqamahan luar biasa.
Dan menjadi tidak berlebihan jika ditemui dalam Alquran frase Mitsaqan Ghalizha muncul sebanyak tiga kali, yaitu dalam surat An Nisa ayat 21, An Nisa ayat 154, dan Al Ahzab ayat 7. Hanya di surat An nisa ayat 21 yang terkait pernikahan, dua ayat lainnya berkenaan dengan perjuangan dakwah Nabi. Masya Allah jadi demikian beratnya tanggung jawab bagi suami dan istri sehingga oleh Allah digunakan frase yang sama untuk menggambarkan beratnya perjuangan dakwah Nabi.šŸ˜­
Sungguh, pada bagian ini berulang kali saya harus menunduk agar air mata yang jatuh tak terlihat oleh peserta lain.
Air mata makin tak terbendung saat Ust Cahyadi menyatakan bahwa visi dan motivasi tertinggi dan yang seharusnya dimiliki oleh semua keluarga muslim adalah *berkumpul di surga*. Bisa dirujuk juga ke QS Ath Thur 21 dan Ghafir 8.
Maka, jika di dalam perjalanan berumah tangga kadang merasa lelah, berat, serta terbebani, jangan menyerah.. Karena kelelahan itulah yang mungkin akan menjadi tiket kita menuju surga.Ā  Continue reading

Advertisements

Resolusi Keluarga, Quick Win for Kids

Sejak kemarin pagi, saya mendapat tugas negara dari Suami untuk melanjutkan draft Quick Win 2017 untuk 3 anak kami. Alhamdulillah, pagi ini berhasil selesai walaupun rangkaian bulanan Feb-Des belum final. Semoga cerita kami ini bermanfaat untuk Ayah Bunda lainnya.

Biasanya, saya dan suami masing-masing menyusun resolusi pribadi kemudian ditunjukkan satu sama lain, pun demikian untuk anak-anak biasanya dalam bentuk outcome, misalnya apa saja capaian yang ditargetkan. Dari hasil evaluasi suami, jika resolusi untuk anak hanya berupa outcome akan sulit dievaluasi di tengah tahun. Karenanya, kami mencoba metode baru yaitu dengan menyusun Quick Win bertahap. Kira-kira teknisnya begini:

  • Awali dengan menyusun daftar quick win apa saja untuk masing-masing anak (ini juga bisa digunakan untuk kami yang dewasa)
  • Kemudian saya kelompokkan per aspek agar mudah dan nyaman dilihat. Aspek versi saya (Spiritual, Literacy, Learning, Soft skill & Life Skill, Project&Experience, dan Sharing, Sport&Leisure)
  • Setelah jadi yang versi tahunan, kemudian saya susun per bulan agar jelas tahapannya
  • Setelah jadi versi bulanan, baru dibreakdown menjadi mingguan bahkan harian

Butuh waktu lama? Iya, lumayan. Tapi mengingat manfaatnya yang bagi kami akan sangat maksimal dalam memonitor capaian kami sekeluarga maka saya berupaya menyusun template di excel seperti ini.. Continue reading

It Takes a Village to Raise a Child (Catatan NoBar TBCLC)

Judul di atas diambil dari peribahasa asal Afrika yang kini justru sangat populer sekaligus menjadi tema diskusi santai yang kami sepakati setelah menonton film The Beginning of Life bersama di ruang RecHall Tanjung Bara.

Saya dan teman-teman di Tj Bara Community Learning Club sangat antusias menonton dan mendiskusikan berbagai lesson learned yang tersirat di film tersebut.

Sebuah terobosan terbesar neuroscience telah menemukan bahwa bayi bukanĀ sekedar berisi muatan genetik. Perkembangan manusia dibentuk melalui kombinasiĀ genetik, kualitas relasi dan lingkungan mereka. Saksikan bagaimana ratusanĀ narasumber mulai dari ahli, orang tua, guru dan bahkan anak-anak menyampaikanĀ pandangan mereka tentang tumbuh kembang anak. Sebuah film dokumenter yangĀ menampilkan sinematografi yang indah dan menyentuh emosi.Ā Film The Beginning of Life menampilkan beragam pandangan dari banyakĀ narasumber dan dari berbagai konteks sosial budaya, sehingga perbedaanĀ pandangan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, pilihan terbaik adalah ā€œambilĀ yang baik, tinggalkan yang burukā€ dari film ini. Pemandu bertanggung jawabĀ memfasilitasi diskusi yang kontruktif dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.

Poster edited nobar

Continue reading

Mush’ab, Bunda dan 2 Potong Biskuit ##WWL Stories

Weekend lalu adalah 2 hari yang cukup bersejarah untuk saya dan Mush’ab. Mengapa? Karena pada dua hari tersebut kami berjuang untuk menapaki “tangga” baru milestone tumbuh kembang Mush’ab. Walau usia baru akan menjelang 21 bulan beberapa hari lagi, kami terpaksa menapaki “tangga” tersebut lebih awal karena panggilan Allah untuk saya dan suami di pertengahan Agustus nanti mengharuskan saya melatih Mush’ab lebih awal demi memudahkan bude nya yang akan membantu mengasuh Mush’ab selama kami ibadah di Baitullah.

PhotoGrid_1469556375119

Memilih 21 Bulan

Awalnya saya diminta untuk menyapih lebih awal lagi karena demikian lengketnya Mush’ab dengan saya šŸ˜€ Utamanya saat bepergian, hampir Mush’ab tidak pernah lepas dari “kantong ASI bunda” selama di perjalanan. Entah sudah berapa kali rute Sangatta-BPN dan sebaliknya selama 8 – 10 jam per 1 trip, Mush’ab duduk manis menyusu dari awal berangkat di rumah, sampai tiba di BPN sampai tiba lagi di rumah šŸ™‚

Harusnya dicoba Ramadhan lalu, namun entah kenapa momen tersebut lewat saja, saya sendiri merasa belum siap. Kami coba mundurkan saat idul fitri, mumpung ayahnya cuti šŸ™‚ Tapi, momen itupun terpaksa lewat lagi, karena kami dalam perjalanan cukup panjang, Sangatta-SMD-Tenggarong-BPN-Sangatta.

Bagi saya, ini adalah skenario yang indah dari Allah, sehingga kami bisa menuntaskan hampir 21bulan perjalanan breastfeeding kami. Hingga akhirnya, sejak tanggal 18 saya sudah mulai ancang-ancang.. Bismillah hari Sabtu dini hari tepatnya pukul 03.00 WITA, mulai dicoba tanpa ASI bangun tidur diajak main, ngemil yang lain, mandi dll. Ā Pukul 08.00, Mush’ab mulai gelisah.. memang biasanya jam segitu waktunya ASI setelah sarapan kemudian tidur. Continue reading

Jurnal Pengasuhan Mei 2016

Setelah lama absen mengisi jurnal pengasuhan online, hari ini bertekad mengisi kembali.. alhamdulillah sedang ada 2 jagoan tamu di rumah jadi lumayan bisa escape setelah menemani bermain 2 jam an tadi.

Di bulan ini, seperti biasa masih banyak kejutan dari catatan harian mengasuh dan memfasilitasi pendidikan 3 buah hati kami di rumah. Continue reading

5 Cara Memotivasi Anak agar Selalu Hemat dengan Uang yang Dimiliki

 

Hemat adalah perkara yang cukup sulit dilakukan oleh anak-anak, bahkan orang tua sekalipun. Itulah mengapa, mendidik anak sejak dini untuk bisa berhemat adalah pekerjaan yang tidak gampang bagi seluruh orang tua. Orang tua harus bisa membuat anak bersikap hemat danĀ  memotivasi mereka agar pandai mengelola uang saku. Dengan mendorong anak agar mau hemat, maka mereka akan terbiasa dengan sikap ini sejak dini dan akan menjadi gaya hidupnya hingga dewasa kelak.

money

Jika Anda masih merasa kesulitan dalam mengajari anak untuk hemat, coba pelajari dan pahami lima cara mudah di bawah ini. Oh ya, yang lebih penting dari semuanya, praktikkan langsung kepada anak saat ini juga, ya. Continue reading

Jurnal Pengasuhan Januari 2016

Layaknya hidup yang terus berputar bahkan kadang ekstrim seperti roller coaster, mengasuh dan mendidik anak pun tak jaub dari itu rasanya bagi saya. Ada kalanya setiap anak begitu baik dan menggemaskan, memeluk sambil bilang “aku sayaaang banget sama Bunda” atau “Bunda, maafin aku ya, kalau aku ada salah” tapiii kadang juga bisa yang tantrum atau moody gak jelas sampe galakin saudaranya even ga mau denger bundanya.

Jadi, harus gimana? Ya, kalau saya terus evaluasi diri, berdoa, kadang pake acara ngomel-ngomel, kalo udah sebel banget mending kabur ke kamar sama Mush’ab, becanda-canda sama si adek biasanya abis gitu si kaka dan mas tergoda pengen ikutan terus minta maaf deh.. šŸ™‚

Baiklah, update per minggu ini: Continue reading

Seharusnya Sabar Itu (Tak) Terbatas

Kalau ada yang kebetulan diberi kemudahan mengurus anak banyak,alhamdulillah itu adalah nikmat luar biasa dari Allah
Kalau ada yang mengalami naik turun emosi saat mendidik anak, count me in, pada satu titik saya pernah merasa,tampaknya saya belum pantas mendapat amanah ini, tapi segera saya istighfar dan yakin bahwa Allah tidak pernah salah menulis qadha dan qadar nya utk setiap makhluk yang Ia ciptakan,juga Allah tidak akan memberi ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya.

Hal itu yang alhamdulillah mampu menguatkan saya untuk tetap berusaha mencari solusi terbaik atas setiap tantangan dalam mendidik anak-anak kami.


Kadang saya merenung, pasti masih ada yang salah dengan ibadah dan doa doa kami, jadi saat muncul tantangan baru kami harus lebih semangat memompa semangat intropeksi diri,terlebih anak kami belum ada yang aqil baligh jadi tantangan tersebut justru harus menjadi pemicu semangat mumpung masih terbuka kesempatan. Continue reading

Berjuang Mengajak Anak Mencintai dan Dekat dengan Qur’an

Apakah di antara pembaca post ini ada yang pernah membelikan mainan atau buku atau apapun untuk ananda tercinta namun ternyata hanya difungsikan dengan baik seminggu pertama setelah barang tiba atau paling hanya 20% dari fungsi yang sesungguhnya? šŸ˜€

Kalaupun ada, tenang saja, tulisan ini sama sekali tidak akan menghakimi Anda (karena penulisnya bukan hakim, hehe, just kidding). Sebagai bagian dari kaum impulsif yang terkadang sangat sulit menahan godaan produk bagus dan menarik apalagi kalau ada iming-iming diskon dan lainnya, percayalah saya sangat memahami hal tersebut.

Nah, apa hubungan judul tulisan dengan kalimat pembuka tentang kurang optimalnya penggunaan permainan edukatif yang kita berikan pada anak hanya karena terkadang kita “malas”, kurang istiqomah, dan beberapa alasan lainnya.

Iya, di tulisan ini saya ingin coba “mencambuk” diri saya kembali untuk optimal menggunakan media belajar yang sudah saya berikan dan mainkan bersama di beberapa waktu lalu bersama anak-anak. Karena tema di atas adalah Al-Qur’an, maka saya mencoba membedah penggunaan Hafiz Doll yang dimiliki Faza dan Haidar sesuai usia dan aktifitas masing-masing (berdasarkan pengalaman pribadi kami saja).

  • Untuk Adek Mush’ab (usia anak 0-2 tahun), sekarang usia Mush’ab 13m

Karena Mush’ab sudah mulai terbiasa dengan suara murattal dari lahir maka, setelah memiliki HD dioptimalkan didengar saat menjelang tidur, di car seat selama menemani bunda berkendara (biasanya di momen yang agak hening karena beberapa waktu lalu saya mendapat ilmu bahwa Qur’an tidak diperkenankan diperdengarkan tanpa “benar-benar” didengarkan. Misalnya, kita sedang asyik ngobrol, tapi murattal jalan terus tanpa didengarkan, itu sama saja kita tidak menghormati bacaan ayat suci di dalamnya.

Saat adek sibuk bermain sendiri, seperti saat asyik menyusun building blockk sementara si mas dan kaka istirahat dan bunda ngetik, maka HD saya nyalakan.

Tujuannya apa? Kami berusaha Adek akrab dengan suara murattal dibandingkan suara lainnya. Kami tidak menargetkan Adek nanti tiba-tiba harus hafal isi mushaf tersebut, namun kami berusaha agar Adek bisa mencintai bacaan tersebut dan nantinya ikhlas mempelajari serta mengamalkan isinya. šŸ™‚ aamiin.C360_2015-10-12-16-38-59-095.jpg Continue reading

Jurnal Harian Januari 2016

Seminggu pertama di tahun 2016, ada beberapa kejutan dari Kaka dan Adek, juga Mas tentunya.

KakaĀ 

  • Semakin gampang dibangunkan sholat shubuh, bahkan terkadang bangun sebelum shubuh
  • Tambah rajin bantu – bantu di dapur, ngelap piring yang sudah dicuci, bikin pizza terutama bagian hias topping
  • Tambah terampil cuci mobil
  • Makin tartil baca Qur’annya
  • Tahfidz dan Muraja’ah masih seperti biasa, agak moody šŸ˜€
  • Lebih bijak sama adek-adeknya, kalo si Adek tantrum di mobil, Kaka cukup sabar berusaha mengalihkan perhatian si Adek
  • Mulai belajar literasi utamanya bagian menuliskan cerita dan menceritakan pengalaman

Continue reading