Sharing Session : MMC 30 Nov 2017

Assalamualaikum wr wb Ummahat sholihah,

 

Semoga materi di bawah ini bermanfaat ya.. silakan download di sini

KARYABE AN INSPIRING MOM

Advertisements

Sudahkah Saya Menjadi Muslimah Produktif?

Apa artinya menjadi muslimah produktif bagi Anda? Seorang wanita yang bekerja membantu suami mencari nafkah? Atau justru menjadi ibu rumah tangga yang setia menjaga rumah dan anak-anak hingga sang suami pulang dari kantor? Atau bahkan gabungan antara tetap berada di rumah namun tetap bisa menghasilkan tambahan penghasilan untuk keluarga?

Definisi muslimah produktif memang berbeda-beda bagi setiap wanita. Produktivitas pun tidak jarang berkaitan erat dengan besarnya usaha yang dilakukan seseorang untuk meraih kesuksesan yang ditargetkan. Sayangnya, saat ini kesuksesan cenderung didefinisikan secara sempit hanya pada orang yang memiliki harta berlebih. Terlebih saat ini kita hidup di lingkungan masyarakat yang kerap menghubungkan kesuksesan dengan jumlah uang yang dimiliki di bank, sedangkan profesi ibu rumah tangga diartikan sama dengan pengangguran.

Kesuksesan bagi seorang muslimah produktif memiliki acuan yang jelas. Uang pun kini tidak lagi menjadi satu-satunya indikator kesuksesan. Pada beberapa kasus, kesuksesan dapat kita ukur dari seberapa baik seseorang melakukan apa yang dia senangi, serta mensyukuri dan merasa cukup pada apa yang sudah dikaruniakan Allah kepadanya.

Pentingnya Menjadi Muslimah Produktif

Ibnu Qayyim pernah berkata: “Wanita merupakan setengah dari masyarakat yang melahirkan setengah lainnya, sehingga mereka dapat dikatakan sebagai keseluruhan dari masyarakat.” Pendapat dari Ibnu Qayyim tersebut semakin menegaskan peran seorang wanita dalam membangun suatu peradaban. Jika wanita memegang peran sebagai keseluruhan masyarakat, bukankah itu artinya kita harus berjuang untuk menjadi muslimah yang tidak hanya kuat, tapi juga produktif?

Lantas, faktor apa yang dapat dijadikan indikator produktivitas seorang muslimah?

Ketika kita mendengar kata produktif, sering kali yang terlintas dalam pikiran kita adalah daftar pekerjaan yang tidak ada habisnya. Padahal, sibuk belum tentu produktif, lo. Orang-orang yang produktif sebenarnya tidak perlu berusaha untuk membuat hari-harinya selalu sibuk. Justru, mereka yang produktif tahu benar mana yang harus dilakukan, dan mana yang tidak. Orang-orang produktif juga biasanya sangat teratur, efisien, serta pandai memilah mana yang harus dijadikan prioritas.

cover-front-back

Salah satu alat memilah aktifitas harian Muslimah Produktif 🙂

Nah, apakah Anda ingin mengetahui seberapa produktif Anda saat ini? Beberapa ciri muslimah produktif di bawah ini mungkin dapat Anda jadikan patokan produktivitas Anda. Continue reading

Muslimah Belajar: Siapa Bilang Emak2 Tidak Bisa Jadi Agen Perubahan?

Setelah viral joke tentang “Jangan remehkan emak-emak berdaster? Karena kalau sudah dandan, kelar idup loe” Saya justru ditantang untuk menjadi agen perubahan di program kuliah online yang saya ikuti.. Betul, siapa bilang emak-emak macam saya begini tidak boleh punya mimpi untuk jadi Agen Perubahan di lingkungan kami.

Agen perubahan tidak harus sebuah gerakan muluk dengan target yang tak realistis, justru kita harus memulainya sejak sekarang dengan memaksimalkan potensi yang kita miliki. Di komunitas tempat saya menimba ilmu tersebut disediakan rumus dan chart panduan sebagai berikut: Continue reading

Muslimah Belajar: Memantapkan Langkah, Mengejar Mimpi

Pembelajaran diri yang saya dalami beberapa bulan terakhir ini, makin jelas titik terangnya (menurut saya). Saya semakin passionate untuk bisa aktif pada bidang pemberdayaan masyarakat melalui berbagai aspek namun yang paling saya minati adalah dari sisi pendidikan dan ekonomi.

Karenanya, saya ingin lebih mempertajam lagi langkah saya berikutnya:

1. Saya ingin menjadi apa ? (BE) Insya Allah saya ingin menjadi perempuan inspirator penggerak masyarakat di bidang pemberdayaan pada aspek pendidikan dan ekonomi. Continue reading

Muslimah Belajar: Meniti Jalan Produktifitas Diri

Konon katanya saat kita mengerjakan sesuatu yang kita sukai maka saat itu pula kita seperti merasa tidak bekerja.

Saya merasakan benar hal tersebut, saat diminta mengajar seharian tanpa jeda untuk sebuah training walaupun sebenarnya terasa lelah namun tertutupi oleh rasa sukacita berbagi ilmu dan belajar bersama peserta training. Sebaliknya, walau belum 1 jam menekuni jahitan atau rajutan akan membuat saya lelah bukan main karena merasa bosan dan kurang passionate mengerjakannya.

Setelah lama mencoba memetakan SWOT diri dan merumuskan jalur produktifitas diri yang ingin ditempuh namun kadang baru terlihat indah di atas kertas karena saat dijalani sebentar2 mandeg. Menemukan uji talents melalui http://www.temubakat.com rasanya seperti mendapat aliran energi baru setelah membaca dengan cermat apa yang sebenarnya menjadi kekuatan diri dan berusaha memaksimalkannya.

Berikut hasil ST30 saya dari tes yang saya lakukan di http://www.temubakat.com

st30-nay

Setelahnya saya mencoba membuat kuadran aktifitas berdasarkan yang bisa dilakukan dan yang disukai.

kuadran-aktifitas

Sebaiknya kita fokus ke kegiatan yang mana? Tentu saja kuadran 1 di mana hal tersebut kita sukai dan bisa kita lakukan. 🙂 Mari meniti jalur produktifitas diri bersama 🙂

Muslimah Belajar: Menjadi Manajer Keluarga Handal

Amanah sebagai seorang istri dan ibu adalah profesi yang sangat menuntut continuous improvement, karenanya jangan pernah berhenti belajar. Belajar dari mana saja. Dari shirah nabi dan ulama, sosok keluarga teladan, buku, blog, seminar, dan aneka majlis serta sumber ilmu lainnya.

Ada banyak…………… sekali aktifitas yang harus dilakukan seorang ibu di rumah, kalau dilist mungkin butuh lebih dari 2 halaman A4 bolak balik untuk menuliskannya. Tapi, karena seorang istri dan ibu juga manusia biasa, maka sangat tidak realistis jika kita memaksakan diri untuk menyempurnakan semua aktifitas tersebut dengan waktu per hari 24 jam. Di buku Manajemen Waktu Para Ulama yang ditulis oleh Syaikh Abdul Fattah, para ulama yang kebanyakan kaum pria karena mereka memang mendedikasikan hidupnya sebagai seorang ulama maka sebagian besar waktunya digunakan untuk belajar dan menulis. Ada yang sampai lupa makan, tidur maksimal 4 jam sehari demi menggapai cita-cita untuk menjadikan ilmu yang mereka pelajari tak lekang oleh waktu dengan cara menulisnya. Continue reading

Muslimah Belajar: Menyusun Strategi, Mencapai Mimpi

Jika kita bahkan tidak pernah tahu tujuan yang ingin dicapai,

lalu bagaimana mungkin kita bisa meraihnya.

Jika kita tak pernah menuliskan jalur menuju mimpi,

lalu bagaimana kita tahu bahwa kita sudah dekat atau jauh darinya

Lebih dalam dari itu semua,

selayaknya kita senantiasa berdoa pada yang Maha Memiliki untuk diberikan yang terbaik menurut Rabb yang Maha Mengetahui…

my-life-map

Life map di atas baru saya susun seminggu terakhir saat mendesain buku yang saya rencanakan terbit awal tahun mendatang seputar Jurnal Harian bagi Muslimah Produktif. Selama kuliah dulu, saya sangat rajin menyusun rencana studi, dari semester 1 saya menentukan ingin lulus 3 tahun dengan IPK sekian dll. Setiap akhir semester, saya update rencana tersebut beserta daftar mata kuliah yang ingin saya ambil untuk mendukung cita-cita tersebut. Continue reading

Muslimah Belajar: Memacu Semangat, Melaju Langkah, Istiqamah Belajar

Man Jadda Wajada – Barang siapa bersungguh-sungguh maka insya Allah ia akan berhasil…. Pepatah Arab

man-jadda

20 hari yang melelahkan akhirnya berlalu, cerita tentang 20 hari itu akan saya tuliskan di postingan lainnya. Tapi, kini saya seperti mendapat asupan energi tambahan untuk terus melaju menggapai asa dan mimpi.

Di tengah maraknya gonjang ganjing isu sosial di sekitar saya, entah mengapa saya merasa makin yakin dengan catatan Muslimah Belajar pertama saya bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi alternatif solusi yang penting dan menarik untuk didalami dan dilakukan. Pemberdayaan masyarakat di sini tentu saja bukan melulu dalam konteks “memberi ikan” ada banyak hal yang jauh lebih fundamental dibanding itu semua. Pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan akses pendidikan formal dan informal, juga home education di setiap keluarga menjadi beberapa item penting dalam frame pemberdayaan masyarakat tersebut. Untuk itu, saya dan keluarga berusaha belajar untuk bisa berpartisipasi di dalamnya, walaupun hanya dengan langkah-langkah kecil dan sederhana. Continue reading

Muslimah Belajar: Merajut Cinta, Menuai Bahagia

Jika seorang Ibu dengan anak lebih dari 2 ditanya tentang kapan terakhir menulis surat cinta untuk suaminya, saya insya Allah yakin hanya kurang dari 10% yang menjawab pernah menulisnya dalam kurun waktu 1 tahun terakhir.

Hihi, kok bisa?? Menurut analisis saya yang fakir ilmu ini, kemungkinannya bisa macam-macam Continue reading

Muslimah Belajar: Menjadi Kebanggaan, Membangun Peradaban

Mendidik satu orang Ibu bagaikan mendidik satu generasi – from video IIP

Peran muslimah senantiasa menggetarkan sejak dulu hingga kini, sayangnya tidak semua rajin menelaah dan mendokumentasikannya. Contoh terindah adalah betapa beragamnya peranan Ummul Mukminin dan juga putri Rasulullah dan para sahabat. Ada yang unggul karena entrepreneurshipnya, ketinggian ilmu, jiwa sosial yang senantiasa berbagi, bahkan menjadi ibu rumah tangga seperti Fatimah putri Rasulullah SAW yang demikian profesional mengelola rumah tangga sehingga tetap mampu mendidik generasi Rabbani seperti Hasan Husain juga mendampingi serta menguatkan suaminya Ali bin Abi Thalib.

Sudah saatnya sesama wanita sibuk mendukung sahabat wanita lainnya, baik yang dikenal baik, dikenal melalui teman atau bahkan hanya melalui media sosial. Jika benar bahwa mendidik 1 ibu bagaikan mendidik 1 generasi maka bisa dibayangkan betapa meluasnya dampak positif yang bisa digaungkan dari seorang ibu yang berbagi bersama seorang ibu lainnya. Mari senantiasa berbagi dan menguatkan… Karena… saat kita bertekad menjadi istri dan ibu kebanggaan maka sama halnya kita turut serta membangun peradaban. Continue reading