Skenario Allah untuk Kaka

Bismillahirrahmanirrahiim

Setelah hampir sebulan berniat mencatat tentang perjalanan berliku kami membersamai Kaka Faza, alhamdulillah Allah berikan jalan lewat pertanyaan sahabat saya tercinta mengenai lembaga tempat Kaka menuntut ilmu Qur’an sekarang ini.

Awalnya tidak ada yang istimewa dengan dini hari saat saya terbangun di tgl 9 Oktober 2017. Ritual andalan pun masih seperti biasa, hingga setelah menunaikan sholat shubuh, saya membuka HP dan terkaget2 dengan pesan yang saya baca Continue reading

Advertisements

Petikan Hikmah dari Seminar Keluarga “Merawat Cinta Sampai Ke Surga”

Bismillahirrahmanirrahiim

Disampaikan oleh: Ust. Cahyadi Takariawan

Ditulis oleh: Ummu Qonita (yang masih berjuang utk mengikat ilmu melalui tulisan)
Sebagai warga pendatang di sebuah kota kecil dan warga yang tinggal di tengah rimba, seminar semacam ini bagi saya selalu menjadi bagai sebuah oase untuk bisa meneguk sedikit ilmu dari ahlinya.
Ust. Cahyadi memang bukan sosok dengan latar belakang psikolog, namun pengalaman beliau selama 17 tahun menjadi konselor sukarela di area rumah tangga dan pernikahan menjadikan hal2 yang beliau sampaikan selama kurang lebih 3 jam kepada peserta terasa demikian lekat dengan keseharian kami.
Tokoh alim ulama hingga filsuf dan ideolog dalam hal keluarga sepertinya sehati menyatakan bahwa peran sebuah keluarga begitu penting bagaikan miniatur sebuah negara.
*”Cinta, kasih sayang dan kemesraan hubungan yang diperoleh anak2 dlm keluarga merupakan sesuatu yang dapat mencetak jiwa dan perilaku sosial serta politik mereka dlm kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara” Hibah Rauf Izzat – 1997*
Walaupun kutipan di atas mengacu pada kasih sayang pada anak2, sesungguhnya akar utamanya juga adalah pada hubungan ayah dan ibunya. Oleh karenanya, menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan dapat dihukumi wajib dalam kehidupan berumah tangga.
Secara singkat ada 5 langkah menciptakan kebahagiaan keluarga:

๐Ÿ’Œ Kuatkan *PONDASI* Keluarga

๐Ÿ’Œ Kenali *BAHASA CINTA* Pasangan

๐Ÿ’Œ *Saling menyesuaikan diri* dengan pasangan

๐Ÿ’Œ Terima *PENGARUH* dari pasangan

๐Ÿ’Œ Menjadi *SAHABAT SETIA* bagi Pasangan
Dari pemahaman yang saya dapatkan saat seminar, penjabaran masing2 langkah adalah sebagai berikut:
1โƒฃ *Kuatkan Pondasi Keluarga*
Tanyakan kembali pada diri sendiri dan pasangan Anda, apa sebenarnya motivasi yang ada saat akan menikah. Jika jawabannya masih cukuo klise seperti karena cinta, karena ingin bahagia, maka mungkin sekaranglah saatnya diluruskan๐Ÿ˜Š
Mengapa???
Karena cinta pada pasangan akan mudah goyah jika tidak dilandasi dengan hal lain yang lebih fundamental.
Karena harapan tentang kebahagiaan kadang begitu semu, setelah menjalani pernikahan akan sangat terasa bahwa masa euforia bagi sebagian orang terasa sangat singkat dan harus dilanjutkan dengan perjuangan.
Maka tidak salah jika menikah disebutkan sebagai pelengkap separuh agama, karena pernikahan adalah ajang beribadah dengan durasi terlama yang tentu membutuhkan keistiqamahan luar biasa.
Dan menjadi tidak berlebihan jika ditemui dalam Alquran frase Mitsaqan Ghalizha muncul sebanyak tiga kali, yaitu dalam surat An Nisa ayat 21, An Nisa ayat 154, dan Al Ahzab ayat 7. Hanya di surat An nisa ayat 21 yang terkait pernikahan, dua ayat lainnya berkenaan dengan perjuangan dakwah Nabi. Masya Allah jadi demikian beratnya tanggung jawab bagi suami dan istri sehingga oleh Allah digunakan frase yang sama untuk menggambarkan beratnya perjuangan dakwah Nabi.๐Ÿ˜ญ
Sungguh, pada bagian ini berulang kali saya harus menunduk agar air mata yang jatuh tak terlihat oleh peserta lain.
Air mata makin tak terbendung saat Ust Cahyadi menyatakan bahwa visi dan motivasi tertinggi dan yang seharusnya dimiliki oleh semua keluarga muslim adalah *berkumpul di surga*. Bisa dirujuk juga ke QS Ath Thur 21 dan Ghafir 8.
Maka, jika di dalam perjalanan berumah tangga kadang merasa lelah, berat, serta terbebani, jangan menyerah.. Karena kelelahan itulah yang mungkin akan menjadi tiket kita menuju surga.ย  Continue reading

Sudahkah Saya Menjadi Muslimah Produktif?

Apa artinya menjadi muslimah produktif bagi Anda? Seorang wanita yang bekerja membantu suami mencari nafkah? Atau justru menjadi ibu rumah tangga yang setia menjaga rumah dan anak-anak hingga sang suami pulang dari kantor? Atau bahkan gabungan antara tetap berada di rumah namun tetap bisa menghasilkan tambahan penghasilan untuk keluarga?

Definisi muslimah produktif memang berbeda-beda bagi setiap wanita. Produktivitas pun tidak jarang berkaitan erat dengan besarnya usaha yang dilakukan seseorang untuk meraih kesuksesan yang ditargetkan. Sayangnya, saat ini kesuksesan cenderung didefinisikan secara sempit hanya pada orang yang memiliki harta berlebih. Terlebih saat ini kita hidup di lingkungan masyarakat yang kerap menghubungkan kesuksesan dengan jumlah uang yang dimiliki di bank, sedangkan profesi ibu rumah tangga diartikan sama dengan pengangguran.

Kesuksesan bagi seorang muslimah produktif memiliki acuan yang jelas. Uang pun kini tidak lagi menjadi satu-satunya indikator kesuksesan. Pada beberapa kasus, kesuksesan dapat kita ukur dari seberapa baik seseorang melakukan apa yang dia senangi, serta mensyukuri dan merasa cukup pada apa yang sudah dikaruniakan Allah kepadanya.

Pentingnya Menjadi Muslimah Produktif

Ibnu Qayyim pernah berkata: โ€œWanita merupakan setengah dari masyarakat yang melahirkan setengah lainnya, sehingga mereka dapat dikatakan sebagai keseluruhan dari masyarakat.โ€ Pendapat dari Ibnu Qayyim tersebut semakin menegaskan peran seorang wanita dalam membangun suatu peradaban. Jika wanita memegang peran sebagai keseluruhan masyarakat, bukankah itu artinya kita harus berjuang untuk menjadi muslimah yang tidak hanya kuat, tapi juga produktif?

Lantas, faktor apa yang dapat dijadikan indikator produktivitas seorang muslimah?

Ketika kita mendengar kata produktif, sering kali yang terlintas dalam pikiran kita adalah daftar pekerjaan yang tidak ada habisnya. Padahal, sibuk belum tentu produktif, lo. Orang-orang yang produktif sebenarnya tidak perlu berusaha untuk membuat hari-harinya selalu sibuk. Justru, mereka yang produktif tahu benar mana yang harus dilakukan, dan mana yang tidak. Orang-orang produktif juga biasanya sangat teratur, efisien, serta pandai memilah mana yang harus dijadikan prioritas.

cover-front-back

Salah satu alat memilah aktifitas harian Muslimah Produktif ๐Ÿ™‚

Nah, apakah Anda ingin mengetahui seberapa produktif Anda saat ini? Beberapa ciri muslimah produktif di bawah ini mungkin dapat Anda jadikan patokan produktivitas Anda. Continue reading

Muslimah Belajar: Menyusun Strategi, Mencapai Mimpi

Jika kita bahkan tidak pernah tahu tujuan yang ingin dicapai,

lalu bagaimana mungkin kita bisa meraihnya.

Jika kita tak pernah menuliskan jalur menujuย mimpi,

lalu bagaimana kita tahu bahwa kita sudah dekat atau jauh darinya

Lebih dalam dari itu semua,

selayaknya kita senantiasa berdoa pada yang Maha Memiliki untuk diberikan yang terbaik menurut Rabb yang Maha Mengetahui…

my-life-map

Life map di atas baru saya susun seminggu terakhir saat mendesain buku yang saya rencanakan terbit awal tahun mendatang seputar Jurnal Harian bagi Muslimah Produktif. Selama kuliah dulu, saya sangat rajin menyusun rencana studi, dari semester 1 saya menentukan ingin lulus 3 tahun dengan IPK sekian dll. Setiap akhir semester, saya update rencana tersebut beserta daftar mata kuliah yang ingin saya ambil untuk mendukung cita-cita tersebut. Continue reading

Muslimah Belajar: Menjadi Kebanggaan, Membangun Peradaban

Mendidik satu orang Ibu bagaikan mendidik satu generasi – from video IIP

Peran muslimah senantiasa menggetarkan sejak dulu hingga kini, sayangnya tidak semua rajin menelaah dan mendokumentasikannya. Contoh terindah adalah betapa beragamnya peranan Ummul Mukminin dan juga putri Rasulullah dan para sahabat. Ada yang unggul karena entrepreneurshipnya, ketinggian ilmu, jiwa sosial yang senantiasa berbagi, bahkan menjadi ibu rumah tangga seperti Fatimah putri Rasulullah SAW yang demikian profesional mengelola rumah tangga sehingga tetap mampu mendidik generasi Rabbani seperti Hasan Husain juga mendampingi serta menguatkan suaminya Ali bin Abi Thalib.

Sudah saatnya sesama wanita sibuk mendukung sahabat wanita lainnya, baik yang dikenal baik, dikenal melalui teman atau bahkan hanya melalui media sosial. Jika benar bahwa mendidik 1 ibu bagaikan mendidik 1 generasi maka bisa dibayangkan betapa meluasnya dampak positif yang bisa digaungkan dari seorang ibu yang berbagi bersama seorang ibu lainnya. Mari senantiasa berbagi dan menguatkan… Karena… saat kita bertekad menjadi istri dan ibu kebanggaan maka sama halnya kita turut serta membangun peradaban. Continue reading

Hajj Journal: Day 6- Tempat Bersejarah di Sekeliling Masjid Nabawi dan Menikmati Nasi Bungkus ala Arabia

Tempat Abu Bakar ra dibai’at sbg Khalifah Pertama

Seusai shalat shubuh, kami serombongan KBIH Ummul Qura berkumpul di pintu 37 untuk berkeliling sekitar masjid diakhiri melihat-lihat pasar kurma.

Tujuan pertama yang kami singgahi adalah Saqifah Bani Sa’idah terletak di dekat Museum Sejarah Rasulullah, dengan tulisan di tiang seperti di bawah ini

Di tempat itulah Abu Bakar dan Umar mendatangi kaum Anshar yang akan membai’at pemimpin penggati Rasulullah setelah Rasulullah wafat. Abu Bakar memulai negosiasinya dengan menyebutkan keutamaan kaum Anshar kemudian menjelaskan bahwa sebaiknya pengganti Rasulullah adalah berasal dari Quraisy, “mengapa tidak kalian pilih Umar saja sebagai penggantinya?” Sementata Umar justru lebih terang-terangan meminta tangan Abu Bakar untuk dibai’at karena keutamaan Abu Bakar dan isyarat Rasulullah sebelum wafat yang ditunjuk menjadi imam pengganti beliau adalah Abu Bakar. Demikianlah akhirnya Abu Bakar diresmikan menjadi Khalifah. Continue reading

Tetap Produktif Beribadah saat”Berhalangan” di Bulan Ramadhan

Sebagai wanita usia produktif dan telah baligh biasanya selalu memiliki waktu-waktu “halangan” di setiap bulannya, tak terkecuali di Bulan Ramadhan.

Tentang ritual ibadah apa saja yang tetap bisa dilakukan oleh wanita haid telah banyak dibahas oleh banyak ulama di youtube juga aneka artikel, salah satunya di sini.

productive muslimah

Di ย post ini saya hanya akan sekedar berbagi beberapa tips dan ide kegiatan produktif yang dapat dilakukan oleh wanita saat haid di bulan Ramadhan atau bulan lainnya untuk menggantikan ibadah yang tidak bisa dilakukan. Misalnya Continue reading

Berjuang Mengajak Anak Mencintai dan Dekat dengan Qur’an

Apakah di antara pembaca post ini ada yang pernah membelikan mainan atau buku atau apapun untuk ananda tercinta namun ternyata hanya difungsikan dengan baik seminggu pertama setelah barang tiba atau paling hanya 20% dari fungsi yang sesungguhnya? ๐Ÿ˜€

Kalaupun ada, tenang saja, tulisan ini sama sekali tidak akan menghakimi Anda (karena penulisnya bukan hakim, hehe, just kidding). Sebagai bagian dari kaum impulsif yang terkadang sangat sulit menahan godaan produk bagus dan menarik apalagi kalau ada iming-iming diskon dan lainnya, percayalah saya sangat memahami hal tersebut.

Nah, apa hubungan judul tulisan dengan kalimat pembuka tentang kurang optimalnya penggunaan permainan edukatif yang kita berikan pada anak hanya karena terkadang kita “malas”, kurang istiqomah, dan beberapa alasan lainnya.

Iya, di tulisan ini saya ingin coba “mencambuk” diri saya kembali untuk optimal menggunakan media belajar yang sudah saya berikan dan mainkan bersama di beberapa waktu lalu bersama anak-anak. Karena tema di atas adalah Al-Qur’an, maka saya mencoba membedah penggunaan Hafiz Doll yang dimiliki Faza dan Haidar sesuai usia dan aktifitas masing-masing (berdasarkan pengalaman pribadi kami saja).

  • Untuk Adek Mush’ab (usia anak 0-2 tahun), sekarang usia Mush’ab 13m

Karena Mush’ab sudah mulai terbiasa dengan suara murattal dari lahir maka, setelah memiliki HD dioptimalkan didengar saat menjelang tidur, di car seat selama menemani bunda berkendara (biasanya di momen yang agak hening karena beberapa waktu lalu saya mendapat ilmu bahwa Qur’an tidak diperkenankan diperdengarkan tanpa “benar-benar” didengarkan. Misalnya, kita sedang asyik ngobrol, tapi murattal jalan terus tanpa didengarkan, itu sama saja kita tidak menghormati bacaan ayat suci di dalamnya.

Saat adek sibuk bermain sendiri, seperti saat asyik menyusun building blockk sementara si mas dan kaka istirahat dan bunda ngetik, maka HD saya nyalakan.

Tujuannya apa? Kami berusaha Adek akrab dengan suara murattal dibandingkan suara lainnya. Kami tidak menargetkan Adek nanti tiba-tiba harus hafal isi mushaf tersebut, namun kami berusaha agar Adek bisa mencintai bacaan tersebut dan nantinya ikhlas mempelajari serta mengamalkan isinya. ๐Ÿ™‚ aamiin.C360_2015-10-12-16-38-59-095.jpg Continue reading

Berkah Mendidik Anak Laki-Laki dan Perempuan (2)

Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian berlaku baikk kepada mereka, niscaya mereka menjadi penghalangnya dari neraka (HR. Bukhori Muslim)

Barang siapa menanggung dua atau tiga anak perempuan, dua atau tiga saudara perempuan hingga mereka meninggal dunia atau ia mati meninggalkan mereka, aku dan dia seperti ini (Rasulullah sambil mengisyaratkan telunjuk dan jari tengah)- HR. Ahmad

Beberapa orang tua yang memiliki anak laki-laki ptotes, hellooowww kenapa yang mendapat keistimewaan seperti itu adalah mendidik dan membesarkan anak perempuan. Sebagai ibu yang memiliki anak laki-laki dan perempuan saya pun dapat merasakan betapa aktifnya anak laki-laki dibandingkan kakak perempuannya. “Harusnya kan yang punya anak cowok dapet pahala lebih banyak, karena harus legowo beberes rumah hampir setiap saat dan hanya bisa mengelus dada saat satu persatu perabot rumah menjadi korban” kira-kira demikian curcol para ibu dengan anak laki-laki.

Nah, ternyata… mendidik anak perempuan memiliki tantangan tersendiri setelah mereka baligh, berbeda dengan anak laki-laki yang ketika kecil telah diberikan bekal agama akan jauh lebih tegak lurus walaupun ada banyak godaan di luar sana. Belum lagi biasanya anak laki-laki dianggap lebih superior dibanding memiliki anak perempuan, oleh karenanya begitu banyak hadist yang menyatakan keutamaan mendidik dan membesarkan anak perempuan. Continue reading

Berkah Mendidik Anak Laki-Laki dan Perempuan

Ini adalah bulan ketiga serial Catatan saya mengikuti Akademi Keluarga di Parenting Nabawiyah. Sesi Mendidik Anak Laki-Laki dibuka dengan pertanyaan:

Jika ada seorang ayah yang rumahnya kebakaran di malam hari saat seluruh keluarganya sedang tidur, apa yang akan dilakukan sang Ayah tersebut?

Walaupun kami para Ibu yang mengikuti sesi tersebut, namun serentak maupun dalam hati kami menjawab, akan berusaha menyelamatkan keluarganya. Ya jelas dong ya.. Mana ada Ayah yang tega nyari laptop dan barang berharga dulu baru nyelamatin anggota keluarga lainnya. Kemudian kami ditanya sekali lagi, yakin jawabannya begitu. Iya, Insya Allah ๐Ÿ™‚ sok pede ๐Ÿ˜€

Ternyata pertanyaan pembuka itu sebagai ilustrasi bahwa, jika hanya karena api di dunia saja seorang ayah harus sepanik itu menyelamatkan keluarga apalagi untuk melindungi keluarga dari api neraka yang hampir 70 kali lebih hebat dibanding api dunia. Apalagi termaktub jelas di Al-Qur’an: Continue reading