Muslimah Belajar: Meniti Jalan Produktifitas Diri

Konon katanya saat kita mengerjakan sesuatu yang kita sukai maka saat itu pula kita seperti merasa tidak bekerja.

Saya merasakan benar hal tersebut, saat diminta mengajar seharian tanpa jeda untuk sebuah training walaupun sebenarnya terasa lelah namun tertutupi oleh rasa sukacita berbagi ilmu dan belajar bersama peserta training. Sebaliknya, walau belum 1 jam menekuni jahitan atau rajutan akan membuat saya lelah bukan main karena merasa bosan dan kurang passionate mengerjakannya.

Setelah lama mencoba memetakan SWOT diri dan merumuskan jalur produktifitas diri yang ingin ditempuh namun kadang baru terlihat indah di atas kertas karena saat dijalani sebentar2 mandeg. Menemukan uji talents melalui http://www.temubakat.com rasanya seperti mendapat aliran energi baru setelah membaca dengan cermat apa yang sebenarnya menjadi kekuatan diri dan berusaha memaksimalkannya.

Berikut hasil ST30 saya dari tes yang saya lakukan di http://www.temubakat.com

st30-nay

Setelahnya saya mencoba membuat kuadran aktifitas berdasarkan yang bisa dilakukan dan yang disukai.

kuadran-aktifitas

Sebaiknya kita fokus ke kegiatan yang mana? Tentu saja kuadran 1 di mana hal tersebut kita sukai dan bisa kita lakukan. 🙂 Mari meniti jalur produktifitas diri bersama 🙂

Ayah Ada, Ayah Tiada: Catatan Diskusi NoBar Komite Sekolah SDIT Darussalaam dan IIP Kaltim

Judul di atas diambil dari buku karya Pak Irwan Rinaldi yang kini topik keayahan menjadi salah satu primadona sekaligus menjadi tema diskusi santai yang kami sepakati setelah menonton film The Beginning of Life bersama di ruang Integrity J18 Wisma Prima.

Saya dan teman-teman Komite Sekolah SDIT Darussalaam juga IIP Kaltim sangat antusias menonton dan mendiskusikan berbagai lesson learned yang tersirat di film tersebut.

Sebuah terobosan terbesar neuroscience telah menemukan bahwa bayi bukan sekedar berisi muatan genetik. Perkembangan manusia dibentuk melalui kombinasi genetik, kualitas relasi dan lingkungan mereka. Saksikan bagaimana ratusan narasumber mulai dari ahli, orang tua, guru dan bahkan anak-anak menyampaikan pandangan mereka tentang tumbuh kembang anak. Sebuah film dokumenter yang menampilkan sinematografi yang indah dan menyentuh emosi. Film The Beginning of Life menampilkan beragam pandangan dari banyak narasumber dan dari berbagai konteks sosial budaya, sehingga perbedaan pandangan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, pilihan terbaik adalah “ambil yang baik, tinggalkan yang buruk” dari film ini. Pemandu bertanggung jawab memfasilitasi diskusi yang kontruktif dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.

Poster edited nobar

“The Beginning of Life” adalah film dokumenter dari UNICEF sebagai alat edukasi publik tentang perkembangan anak usia dini atau Early Childhood Developement (ECD). Film ini mengambil scene di 9 negara dengan berbagai sudut pandang orangtua dan para ahli, dengan konteks sosial yang berbeda-beda. Film ini sangat menarik  dan dilengkapi dengan subtitle bahasa Indonesia enak ditonton secara bersama-sama  yang dilanjutkan dengan diskusi.

Tujuan:
1. Belajar mengenai anak bukan kertas kosong dari berbagai sudut pandang yaitu ahli, orang tua, guru dan anak itu sendiri.
2. Mendiskusikan hal-hal yang baik yang bisa dipraktikkan dalam konteks Indonesia dan masing-masing keluarga.
3. Menyebarkan pentingnya dukungan dari semua orang agar anak-anak dapat tumbuh berkembang menjadi manusia seutuhnya.
4. Membangun kesadaran bahwa mendidik anak bukan semata untuk anak dan keluarganya, mendidik anak adalah mendidik bangsa

Dari hasil diskusi kami di dua komunitas pada hari Selasa, 9 Agustus 2016 pukul 08.00 – 11.00 ada banyak hal yang menjadi pembelajaran kami bersama. Setelah film selesai diputar saya menanyakan kesan beberapa peserta diskusi, ada yang sangat terkesan di scene – scene ayah sedang bermain dengan anaknya, ada juga yang terkesan dengan bonding antara anak dan ibunya, kerjasama orangtua dalam mengasuh anak, ketegaran seorang Ibu atau Ayah dengan berbagai hambatan mengasuh namun tetap berusaha. Dari kesan tersebut sebagai pemandu saya mencoba mencari apa tema yang sesuai untuk dibahas, kebanyakan meminta untuk membahas tentang peran ayah dalam mendidik anak. Adapun poin-poin diskusi agar tidak melebar pada curhat tanpa akhir 😀 maka saya batasi pada 3 hal berikut ini

  • Peran ayah yang dirasakan saat ini
  • Peran ayah yang diharapkan
  • Solusi yang dapat diupayakan

dari jawaban 5 meja yang ada, uraiannya antara lain:

  • Sebagian merasakan peran ayah sudah cukup baik bahwa selain urusan mencari nafkah sebagian ayah sudah mau ikut serta antar jemput anak, menemani bermain dan belajar, membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bahkan ada juga yang cakap membantu menyiapkan bekal anak. Walaupun demikian, banyak juga yang merasa bahwa peran ayah masih sangat minim, yaitu hanya menyerahkan uang nafkah dan uang saku anak kemudian menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan dan pengasuhan pada sang ibu, sama sekali tidak mau tahu menahu urusan anak.
  • Peran ayah yang diharapkan oleh sebagian besar peserta yang hadir adalah mampu menjadi Imam dan Qawwam di keluarga yang tanggung jawabnya mencakup pendidikan anak dan istri, memenuhi nafkah keluarga, membantu urusan rumah tangga, dan menjadi teman yang baik bagi istri dan anak.
  • Solusi yang dapat dilakukan antara lain, memperbanyak sesi fathering dengan narasumber yang sesuai sehingga bisa membuka mata para ayah bahwa semestinya pendidikan itu ada di pundak Ayah sebagai kepala sekolah di keluarga, mengajak pemerintah dan berbagai instansi untuk memberikan waktu para ayah agar lebih terlibat seperti adanya cuti melahirkan untuk menemani sang istri seperti di beberapa negara seperti Swedia dan Finlandia

Semoga NoBar dan diskusi tersebut mampu menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya peran orangtua dalam masa pertumbuhan anak-anak sehingga keharmonisan peran antara keduanya mutlak dibutuhkan

Berjuang Menciptakan Rumah Kinclong..

4 bulan lalu, saat pindah dari rumah pertama kami di Depok ke rumah dinas di Sangatta, saya bertekad mengamalkan ilmu yang didapat dari kuliah IIP ttg Manajemen Rumah Resik Rapi 5R. Kenapa baru 4 bulan lalu, waktu di Depok dpt materi itu pas lagi hamil gede dan persiapan pindahan jadi yah sekalian di rumah baru sajalaahhh, pikir saya.😊

Alhamdulillah, saya dimudahkan oleh desain rumah yang diilhami keinginan para expat dgn berbagai lemari built-in. Nah, untuk lebih detail saya tulis bbrp tips sbg pengingat saya pribadi juga: Continue reading

Nikmatnya Berakhir Pekan Bersama Keluarga

Tulisan ini ditulis oleh Mbak Mayang atas tantangan menulis yang sebelumnya saya post di sini. Terima kasih Mbak Mayang, terus semangaaatt yaa…

Jum’at, Sabtu, dan Minggu adalah hari yang cukup sakral untuk keluarga kami. Hari yang selalu dinantikan untuk meningkatkan kualitas kedekatan keluarga kami. Tidak harus pergi ke suatu tempat wisata atau ke mall seperti kebanyakan yang dilakukan oleh kebanyakan keluarga. Namun kami lebih senang untuk melakukan aktivitas di rumah. Banyak sekali aktivitas yang dapat kami lakukan bangun pagi, kami sholat subuh berjama’ah dilanjutkan dengan bersih – bersih rumah. Bersih – bersih rumah adalah aktivitas yang sangat disukai oleh suami, sehingga kami para pasukan harus bekerja sama untuk saling membantu mewujudkan rumah bersih di di akhir pekan. Continue reading

Melukis Sejarah dengan Menulis

Tulisan ini dibuat waktu diminta sharing tentang memulai menulis blog di grup IIP Kalimantan, awal April lalu, semoga bermanfaat 🙂

Bismillahirrahmanirrahiim, mohon maaf ya, bunda – bunda sekalian, baru bisa on dengan aktif lagi, maklum hari libur adalah waktunya memanjakan keluarga 😀 Tapi alhamdulillah, masih diberikan Allah kesempatan untuk berbagi sedikit tentang tema yang di chat sebelumnya banyak dibincangkan.

Menulis, terkesan sederhana, sangat mudah dan mengalir bagi sebagian orang (1), butuh konsentrasi untuk sebagian lainnya (2), butuh perjuangan untuk beberapa orang (3) dan terlihat begitu sulit untuk sebagian sisanya (4). Termasuk yang manakah Anda? Saya sendiri bukan termasuk keempat tipe yang saya sebutkan di atas, hihi.. Saya type orang yang bisa menulis saat kepepet. Misalnya bagaimana? Saat hampir lulus dari Aliyah, saya ingin sekali membeli sesuatu dan saya lihat pengumuman ada lomba menulis cerpen berhadiah Piala Ketua MPR saat itu yang menjabat adalah Bapak Amien Rais dan sejumlah uang. Karena butuh uang, saya memeras otak mencari tema yang tidak biasa, daaan alhamdulillah biidznillah, pengalaman pertama saya mengikuti lomba menulis cerpen berbuah manis, saya mendapat juara pertama. Hadiah saya ambil dengan menumpang becak bersama teman saya, alhamdulillah bahagianya.

Continue reading