Mengetuk Pintu Langit

Do’a ini terukir beberapa bulan lampau, di mana setiap ada kesempatan sambil menunggu masa puncak Ibadah Haji di Madinah dan Mekkah, saya tuliskan satu demi satu asa. Dan, saat kami berdua bersimpuh di Padang Arafah, do’a ini berulang kami lantunkan untuk mengetuk pintu langit-Nya. Berharap tujuan utama menggapai jannah-Nya dapat dikabulkan oleh-Nya. Lembaran tulisan tangan atas do’a tersebut memang makin usang, tapi harapan untuk meraihnya jauh lebih kuat.. Untuk terus mengingatnya, saya coba abadikan salah satunya melalui tulisan ini.

Continue reading

Menjadi Titik Kecil pada Lingkaran Kebaikan

Setiap kali “terjebak” dalam sebuah lingkaran kebaikan, saya teringat tulisan bertajuk Lipatan oleh Ade Candra berikut ini:

Tangan saya membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian. Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan. Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan.Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”.

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan ‘bersentuhan’. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

“Orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

KI sangatta.jpg

Allah begitu baik, masih memberi saya kesempatan menjadi sebuah titik kecil pada sebuah lingkaran kebaikan bertajuk “Kelas Inspirasi Sangatta 2016”. Masih terukir jelas di benak saya begitu menerima email info pendaftaran KI Sangatta dari seorang sahabat di ILUNI UI, Allah menggerakkan jari saya dengan cepat ke link tersebut dan segera mendapat email konfirmasi. Continue reading

Muslimah Belajar: Keutamaan Adab Sebelum Ilmu

”Janganlah ingin seperti orang lain, kecuali seperti dua orang ini. Pertama orang yang diberi Allah kekayaan berlimpah dan ia membelanjakannya secara benar, kedua orang yang diberi Allah al-Hikmah dan ia berprilaku sesuai dengannya dan mengajarkannya kepada orang lain (HR Bukhari)

Minggu lalu, saya kembali bergabung menuntut ilmu bersama  komunitas para bunda yang senantiasa menginspirasi dengan berbagai cerita dan pengalamannya. Sebelum memulai jenjang menuntut ilmu yang sesungguhnya, kami diingatkan untuk mengingat dan merajut kembali adab-adab yang seharusnya didahulukan oleh para penuntut ilmu sebelum terjun menyelami lautan ilmu yang demikian luas dan dalam.

Pada posting kali ini saya ingin berbagi tentang cita-cita ilmu yang ingin saya dalami dan bagaimana mendahulukan adab sebelum ilmu.

Salah satu buku yang direkomendasikan bagi para penuntut ilmu untuk dibaca sebagai persiapan menempa adab adalah Ta’lim Muta’alim yang di dalamnya membahas antara lain,

  • Hakikat ilmu, hukum mencari ilmu dan keutamaannya
  • Cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan
  • Cara menghormati ilmu dan guru
  • Kesungguhan dalam mencari ilmu, istiqamah dan cita-cita yang luhur
  • Bersikap tawakkal dan wara’ dalam menuntut ilmu
  • Hal-hal yang dapat menguatkan hafalan dan yang melemahkannya, serta beberapa pembahasan lainnya

Continue reading

Hajj Journal: Day 24- Muzdalifah, Mina dan Masjidil Haram 

Saat maghrib menjelang di Arafah, karena kloter kami masih menunggu pemberangkatan urutan ke-6 menuju Muzdalifah, maka sholat maghrib dan isya’ segera kami laksanakan dengan jama’ qashar. Alhamdulillah, mata sempat terpejam untuk istirahat sejenak sebelum pukul 21.00 kami mulai berbaris kembali menaiki bus secara bertahap menuju Muzdalifah.

Pukul 22.45 setibanya di Muzdalifah.. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari batu untuk melempar jumrah. Alhamdulillah.. Tidak seperti yang pernah kami baca dari pengalaman beberapa orang yang menceritakan betapa sulitnya mencari kerikil kecil dis sekitar Muzdalifah, saat itu jutaan kerikil seperti terhampar untuk dipungut. Continue reading

Hajj Journal: Day 22- Memaknai Tarwiyah sesuai Sunnah

Bismillahirrahmanirrahiim.. Siang ini kami akan memulai sunnah tarwiyah. Sebagaimana saya beberapa waktu lalu, mungkin banyak juga di antara kita belum tahu apa makna tarwiyah.

Tarwiyyah (تروية) dalam bahasa Arab berasal dari Fi’il (kata kerja) Rowa-yarwi (روى) yang berarti (1). menceritakan, meriwayatkan, mengisahkan, menarasikan; (2). memancarkan, melewatkan, mengantarkan; (3). mengairi, memberi minum

Dalam kitab “Al-Mughni”, Imam Ibnu Qudamah menjelaskan 2 sebab mengapa tanggal 8 Dzulhijjah disebut Hari Tarwiyyah.  Continue reading

Hajj Journal: Day 21- Menapak Menuju Mina

Hari ini tanggal 9 September pada kalender masehi, di siang hari masih tanggal 7 Dzulhijah menurut penanggalan hijriyah, namun ba’da Maghrib nanti 8 Dzulhijah akan segera menjelang.

Sejak siang hari, tas ransel kami telah tertata rapi. Sebagian dari kami, termasuk saya, merasakan campur aduk emosi antara sangat excited menyambut puncak prosesi ibadah haji yang sudah di depan mata, bahagia, cemas pada keadaan-keadaan di ArMina yang konon agak “mengerikan” karena padatnya manusia dan karakter yang beraneka macam ditambah lagi dengan momok antrian dan joroknya area sekitar kamar mandi dan tenda. Namun sebagai hamba, hal yang paling tepat dilakukan berupaya menyiapkan ilmu, emosi dan spiritual yang positif, fisik, serta perlengkapan se-memadai mungkin kemudian bertawakkal kepada-Nya. Continue reading

Hajj Journal: Day 20- Keterbatasan yang Tidak Membatasi

Bertandang ke tanah haram dan Baitullah adalah sebuah nikmat luar biasa yang Allah berikan pada hamba-Nya. Tak hanya untuk yang sehat secara fisik, sebagian dari mereka adalah hamba Allah dengan keterbatasan fisiknya masing-masing. Ada yang tulang belakangnya sudah tidak tegak lagi, ada yang menderita parkinson, ada yang lumpuh baik sebagian kaki maupun seluruhnya, ada yang terserang stroke dan beberapa sebab keterbatasan lainnya. Bagi mereka, berziarah ke Tanah Haram tetap sebuah kenikmatan tak terhingga. Oleh karenanya mereka bersyukur atas nikmat tersebut. Dengan cara apa? Sebagian dari mereka yang masih mampu berjuang sendiri tampak gagah berusaha menopang tubuh mereka dengan satu kaki yang mereka miliki, sebagian lagi berusaha mengendalikan langkahnya dari kursi roda yang sudah disetting sedemikian rupa bisa mereka gunakan dengan mandiri, sebagian besar lainnya didampingi pasangan, anak, atau kerabat lainnya tampak demikian bersungguh-sungguh merengkuh ridha Ilahi dengan cara sekuat tenaga ikut jama’ah di Masjidil Haram. Continue reading

Hajj Journal: Day 18- Kedermawanan Para Hamba

Hari ini adalah hari terakhir bus beroperasi, selanjutnya jika ingin kr Haram dapat memilih opsi jalan kaki sejauh 3,7km atau naik taksi maupun omprengan dengan tarif berkisar 20-100riyal tergantung kondisi lalu lintas dan kebaikan hati sang driver.

Setelah usai sholat dhuha dan sesi kajian persiapan Armina, saya dan suami menjelajah Syekh bin Bas Road untuk mencari posko tempat pembagian peta Armina. Kami menyusuri sepanjang jalan ke arah berlawanan dari rute bus kami biasanya. Di sepanjang jalan banyak kami temui para dermawan melalui volunteet atau mereka bagikan sendiri berbagai jenis makanan dan barang perlengkapan haji. Ada Fateh (perusahaan ayam potong) yang membagikan 2 container besar makanan siap saji berbahan dasar ayam dalam box eksklusif, ada posko tempat pembagian peta, payung, snack box, minuman dingin, dan banyak lagi lainnya. Ratusan orang bergantian mengantri di depan pintu container pembagian makanan tersebut, kebanyakan dari mereka adalah jamaah asal Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika. Continue reading

Hajj Journal: Day 17-Duka di Tanah Suci

Pagi itu, semua berjalan seperti biasa, suami menjemput saya untuk qiyamullail di masjidil haram sekitar pukul 3. Kami menunggu hingga syuruq dan melangkah pulang kembali ke hotel. Di hotel, karena hidangan bubur kacang ijo semangkuk kecil beserta dua potong kecil roti tawar belum cukup meredam suara keroncong di perut, maka kamipun kembali melangkah ke sekitar hotel. Sambil mencari sarapan tambahan dan belanja beberapa list barang untuk ke Armina beberapa hari làgi, kamipun sampai di Bin Dawood di dekat area jamarat. Untuk ke sana kami naik taksi borongan yang perlh ditawar, ada yang pasang tarif 20riyal, kami baru deal dengan harga 10riyal karena jaraknya dekat sekali. Alhamdulillah, saat turun supirnya hanya meminta 5riyal, mungkin kasihan dengan wajah kami.

Di Bin Dawood fokus kami adalah membeli roti favorit sebagai cadangan makanan selama Armina, khawatir ada keterlambatan konsumsi atau kendala teknis lainnya. Saat menimbang jeruk Afrika, saya melihat raut wajah suami berubah saat memegang handphone-nya. Saya sejak dari hotel belum sempat membuka hp sama sekali. Seusai menimbang saya pun mendekat, suami saya berbisik, Bapak meninggal dunia. Continue reading

Hajj Journal: Day 15- Saudara Muslim Berbagai Bangsa 

Tidak salah jika dinyatakan bahwa Haji adalah momentum muktamar umat Muslim sedunia. Kapan lagi lebih dari 2 juta umat Islam berkumpul di satu daerah yang berasal dari puluhan bahkan ratusan negara yang berbeda. Sebagaimana firman Allah berikut ini:

Saya agak menyesal belum memperlancar kemampuan berbahasa Arab setidaknya untuk bercakap-cakap sehari-hari sehingga kadang baru bisa ngobrol cukup intens dengan sesama bangsa Melayu, atau bangsa lain yang cukup mahir berbahasa Inggris. Selebihnya dengan saudara Muslimah dari Afrika atau Timur Tengah seringkali harus terbata mengucap beberapa vocab bahasa Arab bercampur bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan mereka. Continue reading