Di Balik Kisah Semut dan Cicak

Sempat ramai dibicarakan tentang kisah semut dan cicak dalam episode pembakaran Nabiyullah Ibrahim AS, yang lebih sering dijadikan perumpamaan adalah kisah semut. Namun, beberapa paragraf yang tertulis di Kitab Bidayah wa Nihayah justru banyak mengutip di bagian kisah cicaknya.

Saat peristiwa pembakaran yang luar biasa tersebut, dikisahkan api yang membara tingginya mencapai puluhan hasta hingga untuk melemparkan Nabi Ibrahim ke dalamnya, laki-laki berbangsa Kurdi bernama Hazan harus membuat alat pelontar khusus. Durasi pembakaran pun bukan lagi berbilang jari jumlah harinya melainkan mencapai 50an hari. Alkisah, seekor semut turut meneteskan air ke dalam api tersebut, yang ketika ditanya, apa manfaatnya? Setidaknya Allah tahu di pihak mana aku berada. Kontras dengan perbuatan semut, cicak justru sebaliknya. Dia ikut meniup api agar api makin membara, ketika ditanya apa manfaat dari tiupannya tersebut, dia menjawab memang tidak ada, tapi ini akan menunjukkan di pihak mana aku berada.

Pada hadits Bukhari no 3359 tertulis bahwa Rasulullah memerintahkan untuk membunuh cicak lalu bersabda “Ia dahulu meniupkan api untuk Ibrahim”. Tertera juga di Hadits Muslim no. 2237. Ada riwayat lain dengan redaksi yang hampir sama di hadits Imam Ahmad bin Hanbal no 25115. Diceritakan dalam kisah Aisyah tentang cicak ini pada HR Ahmad bin Hanbal no. 25299.

Sejak kemarin, di berbagai linimasa ramai dibicarakan terkait dukungan beberapa merek terkenal dan mendunia terhadap sebuah isu. Sebagaimana isu-isu dengan berbagai kepentingan di dalamnya, menjadi sebuah keniscayaan bahwa pro dan kontra akan senantiasa bergulir, kadang mengalir dengan tenang, namun juga bisa jadi saling menyulut emosi masing-masing pihak. Merasa benar tentu tak bisa dihindari, namun saling nyinyir yang agak miris dibaca dan didengar.

Ada yang segera berusaha menghindari produk-produk di bawah lini merek tersebut, apakah salah? Ya tidak juga, mungkin memang value dalam diri mereka tidak sejalan dengan merek tersebut. Apa substitusinya, bisa menggunakan merek perusahaan besar lain, merek perusahaan lokal, produk di daerahnya, atau opsi lain.

Ada yang masih berat meninggalkan walau dalam hati merasa tidak sesuai dengan value perusahaan tersebut, dari riset kecil-kecilan biasanya karena dua alasan ini, pertama sudah terlanjur cocok banget dengan merek tersebut, kedua karena merek tersebut mampu menghadirkan solusi terbaik dengan deal harga terbaik. Apakah salah? Ya tidak juga, kecondongan hati kan tidak bisa dipaksakan.

Ada yang sebenarnya peduli dengan perbedaan value namun risih dengan pihak yang koar-koar boikot, merasa norak dengan pihak yang berkoar-koar di satu merek tapi ternyata masih “setia” dengan merek lain yang sebenarnya juga mendukung isu tersebut. Apakah salah? Ya tidak juga, kan sudah dibilang tadi di atas, hati tak bisa didikte. Ada banyak skenario untuk bagian ini. Misalnya, si A yang risih dengan si B yang sok suci dengan memboikot sebuah merek namun malah masih asyik memakai merek lain yang mendukung. Nah, bisa jadi si B tidak paham ternyata merek lain yang masih setia ia gunakan adalah juga pendukung isu yang tidak sesuai dengan hati nuraninya tersebut, atau mungkin si B belum menemukan substitusi merek yang masih digunakan sedangkan untuk merek yang diboikot sudah menemukan alternatif penggantinya, atau bisa jadi si B memang ada sentimen tersendiri pada merek yang diboikot jadi walau sudah sama-sama punya alternatif yang sebanding dia hanya memboikot yang merek tertentu itu saja. Kemudian si A, bisa jadi si A tidak tahu bahwa ada berbagai skenario juga dibalik perilaku si B sehingga baru bisa menghakimi bahwa sikap B adalah bentuk kemunafikan yang patut dimusuhi bersama. Apakah si A dan si B salah? Tidak juga, yang paham isi hati hanya Ilahi Rabbi.

Ada juga yang memang merasa bahwa value dan dukungan itu hanya bentuk perbedaan pendapat, tidak perlu diributkan, apalagi sampai boikot-boikot segala.

Yang terakhir, ada juga yang justru merasa isu yang didukung itu justru value yang harus ikut serta diperjuangkan bersama, jadi memang dengan serta merta mendukung di dalamnya.

Berada di pihak manapun kita, saya masih menganggap bahwa saling mencela akan menjadi perbuatan yang tidak beradab, cukuplah menyampaikan pendapat masing-masing tanpa nyinyir dengan sikap dan pandangan yang lain. Yang merasa tidak sesuai dengan value tersebut, boleh kok menyampaikan pendapatnya, memberikan info produk substitusinya tanpa nyinyir dengan pihak yang berbeda pendapat dengannya. Yang merasa bahwa dukungan tersebut baik-baik saja, juga tidak apa menyampaikan pendapatnya serta argumen bahwa di sana juga masih banyak orang-orang baik yang bekerja di perusahaan tersebut, bahwa dukungan tersebut hanya sikap global dari sebuah merek internasional, tanpa nyinyir dengan pihak yang berbeda pendapat dengannya.

Di masa pandemi begini, rasanya sudah cukup banyak tambahan isu yang perlu dihadapi tanpa perlu menambah beban diri dengan nyinyir kepada pendapat-pendapat yang mau dipaksakan bagaimana tetap saja kembali pada hati, dan hati tak pernah bisa didikte, hanya bisa disentuh dengan hati. Keep smiling and shining. Selalu bahagia ya..

Metamorfosa Sang Bunda (9)

Mari kita berkemah…..

Kenangan rasanya langsung melayang ke masa sekolah tingkat menengah atas dulu, saat masih passionate banget dengan berbagai hal terkait kepanduan melalui pramuka. Hampir setiap bulan selalu ada jadwal berkemah, entah untuk mendampingi adik-adik di pesantren ataupun kegiatan Saka Wanabhakti.

Apa yang paling diingat saat berkemah? Ngobrol jadi makin kenal satu sama lain… Pas dan cucok banget kan yaa dengan tema berkemah di Bunda Cekatan ini… Yuhuuu… Walaupun harus berbagi waktu dengan menyimak Rapat Anggota Tahunan Kipma dan tugas mengoreksi serta input nilai kelas yang saya ampu di kampus, alhamdulillah masih sempat colek2 teman di tenda lain.

Belum terlalu maksimal tapi sudah banyak bersyukur karena jadi menambah silaturahim dengan teman2 dari keluarga dan regional lain. Beberapa di antara teman-teman yang saya colek antara lain

  • Mbak Rieke dari Jogja, ikut kelas manajemen waktu untuk mengoptimalkan peran sebagai istri, ibu, usaha dan sosial, kelas manajemen waktu jadi favoritnya. Saat ini juga main ke Keluarga Bisnis.
  • Mbak Nurul dari Riau IP Pekanbaru kelas yang diikuti manajemen waktu dan bisnis, favoritnya manajemen waktu karena sudah merasakan perbedaan setelah ikut yang sebelumnya kacau
  • Mbak Ajeng dari IP Salatiga, ikut kelas finansial. Paling favorit juga finansial karena merasa awalnya acak adut di manajemen keuangan sekarang jadi lebih tertata dan mulai rajin mencatat.
  • Mbak Serliana dari Pulau Selayar IP Sulawesi, ikut di keluarga manajemen waktu, finansial, bisnis dan kerumahtanggaan. Yang paling favorit di manajemen waktu karena sesuai dengan mindmap utama
  • Mbak Lidya dari IP Samkabar dengan niat menjaga amanah tubuh dari Allah dan mempertahankan kesehatan keluarga ikut di keluarga Kesehatan sambil main ke keluarga Bermain Bersama Anak.
  • Mbak Asty dari IP Sulawesi ikut kelas manajemen waktu dan Konseling Coaching, tapi favorit di manajemen waktu karena ingin mendalam memperbaiki manajemen waktu.

Family Day, Nobar, Belajar Seru Bareng…

Sejak 10 tahun lalu, keluarga kami memutuskan tidak menyalakan channel televisi di rumah. Namun demikian, TV layar datar masih kami sediakan sebagai media belajar kami bersama, sesekali kami nyalakan channel televisi hanya untuk momen tertentu. Misalnya saat Hari Raya, agar kami tahun suasana Idul Fitri di kota dan negara lain, atau saat ada peristiwa besar tertentu seperti meninggalnya Pak Habibie, Jatuhnya pesawat, bencana alam dan beberapa momen tertentu saja.

Nah, di hari libur yaitu Sabtu Ahad, terkadang kami siapkan film edukasi seru untuk ditonton bersama kemudian didiskusikan bareng dengan santai saja (jangan dibayangkan kayak bedah film formal). Film apa yang ditonton, sebelumnya hanya kami pilihkan film Indonesia atau yang sudah didubbing ke bahasa Indonesia, karena kemampuan membaca teks anak-anak belum mahir. Alhamdulillah, setelah Kakak dan Mas lihai membaca cepat teks kami berikan film yang berbahasa asli Inggris dengan teks Bahasa.

Misalnya film apa? Sepatu Dahlan, Rumah Tanpa Jendela, Jembatan Pensil, Garuda di Dadaku, Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, Finding Nemo, dan berbagai judul film lainnya. Sabtu kemarin ini kami nonton genre film baru bagi anak2. Saya awalnya pengen ngetes saja, kalau jenis film begini kira2 mereka paham dan suka atau tidak. Judulnya The Blind Side. Sudah pada pernah nonton donk ya? Ini salah satu film favorit saya jg dulu 🙂 jadi sambil mengenang masa muda gituuuh… 😀

Ternyata semuaaa sukaaa 😀 Filmnya memang bagus banget, terus sengaja pilih ini karena ceritanya diambil dari kisah nyata, latarnya tentang keluarga, pesan dan valuenya juga banyak serta bernilai, akting pemainnya keceh2, pas ngobrol tentang apa yang didapat dari nonton film ini mereka jadi ngeh jadi orang kaya itu bagus selama selalu memiliki dorongan berbagi, ga sombong, rendah hati. Terus setiap anak pasti memiliki kelebihan, walau Big Mike hampir di setiap nilai buruk tapi naluri melindunginya tinggi dan bakat olahraganya juga menonjol. Kemudian, ga ada yang gak mungkin. Walau di awal nilainya Big Mike rendah banget, setelah guru privatnya mengajar dan dia belajar sungguh-sungguh, setidaknya dia bisa menembus batas minimal IPK untuk diterima di Universitas. Daaan masih banyak lagi…

Oh iya, jangan lupa kalau pakai TV ortu harus siaga memegang remote, karena khas film Barat ada beberapa adegan pillow talk yang tidak bisa dilihat anak yaaa.. 😀 Walaupun suami istri tapi tetap saja laahhh ya, bukan untuk konsumsi anak2 Kalau ga salah ada 3 scene beberapa detik yang perlu kami sensor 😀

Banyak adegan mengharukan dan bikin meleleh, salah satunya pas Leigh Anne bacain cerita untuk SJ dan Big Mike, kmdn Collin masih tersenyum di balik pintu mnegenang masa-masa storytelling di masa kecilnya. Masyaa Allah jadi makin semangatt yaa untuk istiqomah berkisah dan membacakan buku untuk anak..

Selamat berquality time dengan keluargaaa 😀

Menjadi Ortu yang Dirindu

Banyak ayah bunda yang berkeluh kesah dan bertanya-tanya, bagaimana menjadi sosok ortu yang dirindukan buah hatinya. Semoga di postingan ini, ditemukan jawab dan caranya…

Salah satu momen yang akan memberi kesan mendalam bagi ananda adalah saat kita sebagai orangtua membersamai mereka di waktu-waktu “ajaib”, seperti saat menjelang tidur, safar, dan beberapa momen penting lainnya. Apa yang harus dilakukan saat membersamai mereka? Saya pribadi sering memilih opsi berkisah dalam mengisi waktu-waktu ajaib tersebut. Continue reading

Berdamai dengan “Kekacauan”

Kondisi “darurat” acapkali dihadapi oleh seorang Ibu dalam dinamika hidup hariannya. Sebagai emak siaga, tentunya sebagian dari kita sudah sangat akrab dengan “panggilan-panggilan” sayang dari Ananda 🙂

Jumat lalu, ada kejadian unik yang saya alami bersama the bocils tentu saja. Kejadiannya sederhana yaitu anak mengompol namun karena waktu dan tempat yang istimewa maka dapat digolongkan menjadi kondisi darurat 😀 Mumpung dulu ada cerita serupa dengan waktu dan lokasi berbeda saya juga mencoba mengulas (halah, apa ini bahasanya) di postingan ini. Siapa tahu bisa jadi referensi saat emak2 siaga mengalami kondisi serupa. Saya urutkan berdasarkan kronologis kejadian, jadi yang diceritakan peristiwa yang terjadi duluan ya.. Continue reading

Mengetuk Pintu Langit

Do’a ini terukir beberapa bulan lampau, di mana setiap ada kesempatan sambil menunggu masa puncak Ibadah Haji di Madinah dan Mekkah, saya tuliskan satu demi satu asa. Dan, saat kami berdua bersimpuh di Padang Arafah, do’a ini berulang kami lantunkan untuk mengetuk pintu langit-Nya. Berharap tujuan utama menggapai jannah-Nya dapat dikabulkan oleh-Nya. Lembaran tulisan tangan atas do’a tersebut memang makin usang, tapi harapan untuk meraihnya jauh lebih kuat.. Untuk terus mengingatnya, saya coba abadikan salah satunya melalui tulisan ini.

Continue reading

Menjadi Titik Kecil pada Lingkaran Kebaikan

Setiap kali “terjebak” dalam sebuah lingkaran kebaikan, saya teringat tulisan bertajuk Lipatan oleh Ade Candra berikut ini:

Tangan saya membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian. Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan. Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan.Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”.

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan ‘bersentuhan’. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

“Orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

KI sangatta.jpg

Allah begitu baik, masih memberi saya kesempatan menjadi sebuah titik kecil pada sebuah lingkaran kebaikan bertajuk “Kelas Inspirasi Sangatta 2016”. Masih terukir jelas di benak saya begitu menerima email info pendaftaran KI Sangatta dari seorang sahabat di ILUNI UI, Allah menggerakkan jari saya dengan cepat ke link tersebut dan segera mendapat email konfirmasi. Continue reading

Muslimah Belajar: Keutamaan Adab Sebelum Ilmu

”Janganlah ingin seperti orang lain, kecuali seperti dua orang ini. Pertama orang yang diberi Allah kekayaan berlimpah dan ia membelanjakannya secara benar, kedua orang yang diberi Allah al-Hikmah dan ia berprilaku sesuai dengannya dan mengajarkannya kepada orang lain (HR Bukhari)

Minggu lalu, saya kembali bergabung menuntut ilmu bersama  komunitas para bunda yang senantiasa menginspirasi dengan berbagai cerita dan pengalamannya. Sebelum memulai jenjang menuntut ilmu yang sesungguhnya, kami diingatkan untuk mengingat dan merajut kembali adab-adab yang seharusnya didahulukan oleh para penuntut ilmu sebelum terjun menyelami lautan ilmu yang demikian luas dan dalam.

Pada posting kali ini saya ingin berbagi tentang cita-cita ilmu yang ingin saya dalami dan bagaimana mendahulukan adab sebelum ilmu.

Salah satu buku yang direkomendasikan bagi para penuntut ilmu untuk dibaca sebagai persiapan menempa adab adalah Ta’lim Muta’alim yang di dalamnya membahas antara lain,

  • Hakikat ilmu, hukum mencari ilmu dan keutamaannya
  • Cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan
  • Cara menghormati ilmu dan guru
  • Kesungguhan dalam mencari ilmu, istiqamah dan cita-cita yang luhur
  • Bersikap tawakkal dan wara’ dalam menuntut ilmu
  • Hal-hal yang dapat menguatkan hafalan dan yang melemahkannya, serta beberapa pembahasan lainnya

Continue reading

Hajj Journal: Day 24- Muzdalifah, Mina dan Masjidil Haram 

Saat maghrib menjelang di Arafah, karena kloter kami masih menunggu pemberangkatan urutan ke-6 menuju Muzdalifah, maka sholat maghrib dan isya’ segera kami laksanakan dengan jama’ qashar. Alhamdulillah, mata sempat terpejam untuk istirahat sejenak sebelum pukul 21.00 kami mulai berbaris kembali menaiki bus secara bertahap menuju Muzdalifah.

Pukul 22.45 setibanya di Muzdalifah.. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari batu untuk melempar jumrah. Alhamdulillah.. Tidak seperti yang pernah kami baca dari pengalaman beberapa orang yang menceritakan betapa sulitnya mencari kerikil kecil dis sekitar Muzdalifah, saat itu jutaan kerikil seperti terhampar untuk dipungut. Continue reading

Hajj Journal: Day 22- Memaknai Tarwiyah sesuai Sunnah

Bismillahirrahmanirrahiim.. Siang ini kami akan memulai sunnah tarwiyah. Sebagaimana saya beberapa waktu lalu, mungkin banyak juga di antara kita belum tahu apa makna tarwiyah.

Tarwiyyah (تروية) dalam bahasa Arab berasal dari Fi’il (kata kerja) Rowa-yarwi (روى) yang berarti (1). menceritakan, meriwayatkan, mengisahkan, menarasikan; (2). memancarkan, melewatkan, mengantarkan; (3). mengairi, memberi minum

Dalam kitab “Al-Mughni”, Imam Ibnu Qudamah menjelaskan 2 sebab mengapa tanggal 8 Dzulhijjah disebut Hari Tarwiyyah.  Continue reading