Math Around Us (2): Berhitung dalam Shirah

Jum’at lalu dan selama weekend rasanya belasan buku saya baca bersama Mas Haidar dan Adek Mush’ab.. Momen semacam ini yang biasanya bisa jadi ajang “selipan” angka dan berhitung bagi duo jagoan bunda yang super aktif iniiih.. Continue reading

Advertisements

Tantangan Kemandirian #4

3 Maret 2017

Alhamdulillah.. hari ini, hampir semua tantangan kemandirian untuk trio ananda cukup sukses berjalan.. Adek mau makan sendiri, Mas juga sukses cuci piring sendiri setelah sarapan karena bangun tepat waktu dan menyelesaikan standar pagi tepat pada waktunya. Kaka sudah ingat mengembalikan handuk dll tapi lupa belum rapi saat menjemurnya đŸ™‚

Anyway.. good job kiddos..

Bonus hari ini adalah… Mas Haidar sukses ke masjid sendirian untuk sholat Jum’at tanpa teman seumuran.. Jadi bener2 sendiri bunda tungguin di parkiran karena kebetulan space Masjid di Tj Bara hanya cukup untuk menampung jamaah pria. Continue reading

Merefleksi bukan Menggurui…

Sudah lama tahu bahwa digurui bukanlah hal yang menyenangkan bagi semua orang, termasuk anak-anak yaa… Kayaknya kalau digurui tuh kesannya kan kita “kurang cerdas” gitu yaa? hihi..

Kemarin sempat menangkap momen seru, salah satu momen yang membuktikan bahwa refleksi kadang jauh lebih ampuh daripada sekedar sok “menggurui”. Insya Allah menggurui ini juga yang saya tangkap beda dengan menasehati ya.. Menasehati memiliki pesan moral yang jelas dan biasanya diungkapkan pada momen yang pas. Seperti Rasulullah SAW seringkali saat safar bersama sahabat kecil akan memberi beberapa nasehat yang demikian membekas di hati mereka. Sedangkan menggurui umumnya dilakukan dengan cara yang kurang ahsan, misalnya langsung memotong pembicaraan lawan bicara, memberikan masukan tanpa melihat suasana terlebih dahulu.

Ceritanya, saat di mobil dalam perjalanan menjemput kaka di sekolah, Mas Haidar cerita bahwa sekarang dia sedang ingin jualan mainan. Continue reading

Resolusi Keluarga, Quick Win for Kids

Sejak kemarin pagi, saya mendapat tugas negara dari Suami untuk melanjutkan draft Quick Win 2017 untuk 3 anak kami. Alhamdulillah, pagi ini berhasil selesai walaupun rangkaian bulanan Feb-Des belum final. Semoga cerita kami ini bermanfaat untuk Ayah Bunda lainnya.

Biasanya, saya dan suami masing-masing menyusun resolusi pribadi kemudian ditunjukkan satu sama lain, pun demikian untuk anak-anak biasanya dalam bentuk outcome, misalnya apa saja capaian yang ditargetkan. Dari hasil evaluasi suami, jika resolusi untuk anak hanya berupa outcome akan sulit dievaluasi di tengah tahun. Karenanya, kami mencoba metode baru yaitu dengan menyusun Quick Win bertahap. Kira-kira teknisnya begini:

  • Awali dengan menyusun daftar quick win apa saja untuk masing-masing anak (ini juga bisa digunakan untuk kami yang dewasa)
  • Kemudian saya kelompokkan per aspek agar mudah dan nyaman dilihat. Aspek versi saya (Spiritual, Literacy, Learning, Soft skill & Life Skill, Project&Experience, dan Sharing, Sport&Leisure)
  • Setelah jadi yang versi tahunan, kemudian saya susun per bulan agar jelas tahapannya
  • Setelah jadi versi bulanan, baru dibreakdown menjadi mingguan bahkan harian

Butuh waktu lama? Iya, lumayan. Tapi mengingat manfaatnya yang bagi kami akan sangat maksimal dalam memonitor capaian kami sekeluarga maka saya berupaya menyusun template di excel seperti ini.. Continue reading

Membersamai… Bukan Sekedar Bersama…

Mungkin saya termasuk sedikit orang yang  baru paham makna “membersamai” seutuhnya. Makna membersamai yang mendalam saya dapatkan sebulan terakhir ini saat menghabiskan waktu liburan sekolah lengkap dengan paket tiga anak.

Mengapa saya sebutkan bahwa membersamai bukan sekedar bersama, karena setiap hari pasti kita lama sekali bersama dengan anak-anak, namun belum tentu membersamai mereka. Membersamai bisa dimaknai sebagai quality time yang sesungguhnya. Saya sendiri membersamai mereka dalam makna mengikuti saja apa yang sedang ingin mereka lakukan (tentunya tetap melakukan ibadah wajib dan standar kegiatan yang sudah disepakati bersama di keluarga).

Saya jadi paham bahwa membersamai justru menelurkan konsep “Inside Out” yang sesungguhnya, mereka jadi keluar sendiri fitrah belajarnya, fitrah keimanan, fitrah bakat, dan fitrah lainnya.

Kakak Faza,

Saya takjub pada niat kuatnya memulai bisnis Slime dan Squeezy (bener gini ga ya tulisannya) bersama sahabatnya Icha. Dia mulai survei pasar, mencari supplier di online (dari BL, Tokped, Shopee, hingga cari-cari link ke Asemka dll). Selain karena suka pada mainan ini, saya pernah cerita tentang Nara seorang anak yang berbisnis slime dan bisa banyak sedekah dari hasil penjualannya itu. Tekun memperhatikan langkah-langkah membuat slime dari tutorial di youtube. Bahkan sudah mengatur job desc dengan partner usahanya yaitu Icha. Continue reading

Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (3)

Bagi yang belum membaca kronologis catatan medik anak2 kami, sebaiknya membaca dulu urutan ceritanya di sini dan siniÂ đŸ™‚

Saya pikir cerita kami sudah happy ending di posting kedua. Namun, sepulang dari Jakarta kondisi Haidar ternyata belum fully recovered. Dalam seminggu, beberapa hari sepulang sekolah badannya demam tanpa sebab yang jelas, terkadang mengeluh kedinginan walaupun AC di kamarnya telah mati dan kami semua justru merasa kegerahan. Emosinya agak labil, mudah marah karena sebab yang tak jelas. Saya sampai dag dig dug setiap kali usai menjemput ke sekolah khawatir mendadak emosinya meledak kembali, mungkin bagian dari rasa yang kurang nyaman pada dirinya. Continue reading

Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

10 Nov 2016

Semangat hari Pahlawan rasanya kurang menggelora di dada saya, karena segitu deg-degannya menghadapi sesi konsultasi pagi ini bersama Prof Hadiarto. Begitu mendarat di Soetta terminal 3 ultimate, alhamdulillah dibantu shuttle car menuju pengambilan bagasi, mungkin kasian ngeliat saya gendong2 batita plus ada dua anak lagi sama suami. Antrian taksi pun lancar hingga kami bisa tiba di RS Asri sebelum dokter mulai praktek. Continue reading

Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (1)

Pagi itu, saya dan Mush’ab sebenarnya membuka hari dengan cerah ceria.. Maklum, hari ini agenda Poppets adalah outing ke Taman Venus. Setelah beberes sebentar, meluncurlah kami ke lokasi meeting point dilanjutkan konvoi hingga tujuan dan bermain bersama di sana.

Kami harus pamit duluan karena saya harus mendaftar di RS 1 demi bisa mengobati batuk pilek Mush’ab yang sudah menginjak minggu ke-3. Saya pikir pukul 09.45 WITA antrian sudah makin sepi, ternyataaa tidak. Nomer yang saya terima dari mesin antrian otomatis adalah 106 di saat nomer yang sedang dipanggil saat itu adalah 81 dan loket hanya ada 2. Alhamdulillah Mush’ab sedang nyenyak tidur di pangkuan. Dengan penuh perjuangan mengantri di loket dan di poli anak, akhirnya pukul 11.20 kami dipanggil ke ruangan DSA1. Mush’ab diperiksa sebentar kemudian dianjurkan untuk tes lab dan rontgen. Kami menuju radiologi terlebih dahulu untuk foto rontgen dari depan dan samping, dilanjutkan ke laboratorium untuk diambil darah. Alhamdulillah, Mush’ab cukup kooperatif. Saat rontgen sempat menangis sebentar karena tidak familiar dengan alat dan ruangannya, namun saat diambil darah sama sekali tidak menangis.

12.10

Semua hasil sudah di tangan, saatnya saya kembali ke ruangan DSA 1. Drama itu dimulai saat dokter membaca tulisan tangan dokter Spesialis Radiologi yang menyatakan bahwa hasil rontgen Mush’ab: Bronchitis dicurigai TB. Untuk meyakinkan DSA 1 tersebut meminta persetujuan untuk tes Mantoux pada lengan kanan Mush’ab. Saya tentu saja mengiyakan demi mendapat diagnosis jelas tentang dugaan TB tersebut. Kami pulang setelah diberi resep antibiotik dan anti alergi untuk mengobati Mush’ab. Continue reading

My Dearest “Fashion Police”

Dari dulu, karena mungkin saya tipe gabungan antara jenis visual dan kinestetik, maka gaya berbusana saya mah sangat fleksibel tergantung mood dan kondisi klo harus buru2 dan pasrah tampil seadanya juga gapapa, kalo masih bisa bebenah dandanan yaa malah seneng..

Nah, dari trio kwek2 bocils yang setia ngintilin emaknya ke mana-mana sekali lagi Haidar yang paling vokal menyuarakan pendapatnya đŸ˜€ Beberapa kali dia mengkritik pedas emaknya yang memakai daster saat di rumah, kayaknya dia bete banget liat emaknya pake daster padahal tau sendiri kan yaa, bagi emak rempong sedunia, daster adalah senjata andalan untuk jungkir balik mengerjakan aneka kerjaan rumah.. Jadi ya.. Tetap harus nurut, kan kasian Haidar klo sebel liat penampakan emaknya đŸ™‚ Kaos dan celana panjang menjadi salah satu pilihan yang terlihat cukup rapi di mata jagoan cilik tersebut.

Suatu hari di mobil, ada percakapan lucu…

“Bunda, bunda cantik sekali pakai jilbab kayak gini” saat itu saya pakai pashmina yang dipakai simple aja sih sebenarnya, tapi mungkin kejutan untuk Haidar krn kadang saya memilih pakai khimar instan untuk antar jemput anak-anak, demi alasan kepraktisan daaan tahu sendiri bagaimana gaya tarik menarik Mush’ab saat mau disusuin đŸ˜€ Continue reading