Mari Menulis, Mari Belajar Mengukir Sejarah.. (Cerita tentang Workshop Penulis Cilik)

Akhir liburan sekolah Januari lalu, saya dikejutkan oleh hasil ketikan Kak Faza… Memang selama liburan hampir setiap malam Kaka nunjukin hasil ketikan beberapa dongeng pendek fabel ala-ala Kaka.. Tapi ternyata ada yang Kaka seriusin banget yaitu bikin Agenda Anak Muslim 🙂

Nah, untuk menyusuri minat itu.. saya terpikir untuk mengajak Kaka tour the talents agar dapat mendalami apa benar kaka suka menulis dan mau serius menulis? Tapi.. Kaka Faza adalah type anak yang kurang suka belajar sendirian, lebih semangat kalo beramai-ramai… Terus gimana donk? 😀 Iseng-iseng bunda bikin publikasi kelas menulis bersama, seperti poster di bawah ini

IMG-20170207-WA0032 Continue reading

Marah.. Bukan Marah-Marah..

Kemarin, emosi saya agak terpancing setelah beberapa kali Kaka tidak juga mengindahkan kata-kata saya untuk segera melipat mukena dulu sebelum ikut ke dapur. Sebenarnya sepele, tapi saya sudah coba beberapa kali dengan singkat dan padat memberi tahu agar segera melipat dan meletakkan dulu agar baju sholatnya tidak terkena kotoran di dapur dan Kaka masih cuek 😦 Continue reading

Resolusi Keluarga, Quick Win for Kids

Sejak kemarin pagi, saya mendapat tugas negara dari Suami untuk melanjutkan draft Quick Win 2017 untuk 3 anak kami. Alhamdulillah, pagi ini berhasil selesai walaupun rangkaian bulanan Feb-Des belum final. Semoga cerita kami ini bermanfaat untuk Ayah Bunda lainnya.

Biasanya, saya dan suami masing-masing menyusun resolusi pribadi kemudian ditunjukkan satu sama lain, pun demikian untuk anak-anak biasanya dalam bentuk outcome, misalnya apa saja capaian yang ditargetkan. Dari hasil evaluasi suami, jika resolusi untuk anak hanya berupa outcome akan sulit dievaluasi di tengah tahun. Karenanya, kami mencoba metode baru yaitu dengan menyusun Quick Win bertahap. Kira-kira teknisnya begini:

  • Awali dengan menyusun daftar quick win apa saja untuk masing-masing anak (ini juga bisa digunakan untuk kami yang dewasa)
  • Kemudian saya kelompokkan per aspek agar mudah dan nyaman dilihat. Aspek versi saya (Spiritual, Literacy, Learning, Soft skill & Life Skill, Project&Experience, dan Sharing, Sport&Leisure)
  • Setelah jadi yang versi tahunan, kemudian saya susun per bulan agar jelas tahapannya
  • Setelah jadi versi bulanan, baru dibreakdown menjadi mingguan bahkan harian

Butuh waktu lama? Iya, lumayan. Tapi mengingat manfaatnya yang bagi kami akan sangat maksimal dalam memonitor capaian kami sekeluarga maka saya berupaya menyusun template di excel seperti ini.. Continue reading

Membersamai… Bukan Sekedar Bersama…

Mungkin saya termasuk sedikit orang yang  baru paham makna “membersamai” seutuhnya. Makna membersamai yang mendalam saya dapatkan sebulan terakhir ini saat menghabiskan waktu liburan sekolah lengkap dengan paket tiga anak.

Mengapa saya sebutkan bahwa membersamai bukan sekedar bersama, karena setiap hari pasti kita lama sekali bersama dengan anak-anak, namun belum tentu membersamai mereka. Membersamai bisa dimaknai sebagai quality time yang sesungguhnya. Saya sendiri membersamai mereka dalam makna mengikuti saja apa yang sedang ingin mereka lakukan (tentunya tetap melakukan ibadah wajib dan standar kegiatan yang sudah disepakati bersama di keluarga).

Saya jadi paham bahwa membersamai justru menelurkan konsep “Inside Out” yang sesungguhnya, mereka jadi keluar sendiri fitrah belajarnya, fitrah keimanan, fitrah bakat, dan fitrah lainnya.

Kakak Faza,

Saya takjub pada niat kuatnya memulai bisnis Slime dan Squeezy (bener gini ga ya tulisannya) bersama sahabatnya Icha. Dia mulai survei pasar, mencari supplier di online (dari BL, Tokped, Shopee, hingga cari-cari link ke Asemka dll). Selain karena suka pada mainan ini, saya pernah cerita tentang Nara seorang anak yang berbisnis slime dan bisa banyak sedekah dari hasil penjualannya itu. Tekun memperhatikan langkah-langkah membuat slime dari tutorial di youtube. Bahkan sudah mengatur job desc dengan partner usahanya yaitu Icha. Continue reading

Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

10 Nov 2016

Semangat hari Pahlawan rasanya kurang menggelora di dada saya, karena segitu deg-degannya menghadapi sesi konsultasi pagi ini bersama Prof Hadiarto. Begitu mendarat di Soetta terminal 3 ultimate, alhamdulillah dibantu shuttle car menuju pengambilan bagasi, mungkin kasian ngeliat saya gendong2 batita plus ada dua anak lagi sama suami. Antrian taksi pun lancar hingga kami bisa tiba di RS Asri sebelum dokter mulai praktek. Continue reading

Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (1)

Pagi itu, saya dan Mush’ab sebenarnya membuka hari dengan cerah ceria.. Maklum, hari ini agenda Poppets adalah outing ke Taman Venus. Setelah beberes sebentar, meluncurlah kami ke lokasi meeting point dilanjutkan konvoi hingga tujuan dan bermain bersama di sana.

Kami harus pamit duluan karena saya harus mendaftar di RS 1 demi bisa mengobati batuk pilek Mush’ab yang sudah menginjak minggu ke-3. Saya pikir pukul 09.45 WITA antrian sudah makin sepi, ternyataaa tidak. Nomer yang saya terima dari mesin antrian otomatis adalah 106 di saat nomer yang sedang dipanggil saat itu adalah 81 dan loket hanya ada 2. Alhamdulillah Mush’ab sedang nyenyak tidur di pangkuan. Dengan penuh perjuangan mengantri di loket dan di poli anak, akhirnya pukul 11.20 kami dipanggil ke ruangan DSA1. Mush’ab diperiksa sebentar kemudian dianjurkan untuk tes lab dan rontgen. Kami menuju radiologi terlebih dahulu untuk foto rontgen dari depan dan samping, dilanjutkan ke laboratorium untuk diambil darah. Alhamdulillah, Mush’ab cukup kooperatif. Saat rontgen sempat menangis sebentar karena tidak familiar dengan alat dan ruangannya, namun saat diambil darah sama sekali tidak menangis.

12.10

Semua hasil sudah di tangan, saatnya saya kembali ke ruangan DSA 1. Drama itu dimulai saat dokter membaca tulisan tangan dokter Spesialis Radiologi yang menyatakan bahwa hasil rontgen Mush’ab: Bronchitis dicurigai TB. Untuk meyakinkan DSA 1 tersebut meminta persetujuan untuk tes Mantoux pada lengan kanan Mush’ab. Saya tentu saja mengiyakan demi mendapat diagnosis jelas tentang dugaan TB tersebut. Kami pulang setelah diberi resep antibiotik dan anti alergi untuk mengobati Mush’ab. Continue reading

Bersahabat dengan Al-Qur’an

Iman Syafi’i rahimahullah berkata,

إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ المَاءَ يُفْسِدُهُ                             إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

Merantaulah…

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan…
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang…

Dua bulan lalu, saat saya dan suami akan berangkat menunaikan ibadah haji, salah satu penyebab kegalauan hati  adalah anak-anak bisa beradaptasi dengan baik gak ya di lingkungan barunya.

Mas Haidar dan Adek Mushab tinggal bersama Bude Ina dan Bude Nila di rumah Mbah Kung Pare, sementara kaka Faza, karena Mbak Nadiya yang level kelasnya sama sedang menuntut ilmu di sebuah rumah tahfidz berjarak kurang lebih 6 km dari rumah Bude, memutuskan mau ikut “mondok/nyantri” di sana. Continue reading

Daughter and Mom: Selalu Ada Cinta di Balik Ketegasan

Semalam sebelum tidur ada momen kurang enak dengan si gadis, pasalnya saya kesal karena donat yang direquest minta dibikin ternyata masih sisa sebagian padahal si kaka janji mau bertanggung jawab makan 😀 Yang kedua mungkin karena sedang males dan bad mood, tilawahnya jadi asal..

Akhirnya, saya membuat surat kesepakatan antara saya dan kaka bahwa sampai batas waktu tertentu kaka belum boleh minta sesuatu yang tidak yakin kaka bertanggung jawab atasnya (beda anak, memang beda type, Mas Haidar karena dasarnya juga ga terlalu picky sama makanan jadi klo minta pisang goreng ya dia makan sampai habis, minta kolak dihabiskan juga sampai ludes.. Nah si kaka, memang beda, kaka cenderung suka utak atik bahan di dapur tapi belum tentu dimakan padahal yang dibikin selalu manis2 seperti puding, jelly, donat – yang ini bunda yang disuruh ngulen sampai berotot, wkwkwk- padahal penduduk rumah tidak terlalu selera sama yang manis jadilah sering nyisa, dan bunda bete)

Hubungan saya dan Faza mengingatkan pada hubungan saya dan Ibu dulu.. Ibu selalu tegas, tapi membuat rindu.. Saya dan Faza bisa begitu manis di malam-malam sebelumnya seperti meminta maaf sebelum tidur “maafin bunda ya kak, kalo hari ini ada salah” dibalas “iya bun, aku juga minta maaf yaaa” terus berpelukan sama adek2nya juga.. tapi bisa juga diiringi momen ngambek seperti semalam. Continue reading

Jurnal Pengasuhan Maret 2016

Alhamdulillah….

Bulan ini anak-anak masih semangatt… Ayah bunda nya pun demikian..

Kabar baiknya adalaaahh.. Biidznillah, Haidar sudah lancar naik sepeda dari awal Maret lalu… Good job Boy.. 🙂 Sebagai hadiah Ayah membelikan perlengkapan safety bersepeda karena Haidar sdh mulai ngebut2an dan agak tanned gitu kulitnya.. secara hampir setiap waktu sibuk naik sepeda…

Kaka, makin semangat melanjutkan hafalan juz 29 nya, insya Allah 3 surat lagi ya kak…

Adek Mush’ab, makin getol berjuang bisa main bareng kakak2nya sekarang juga makin berani saat berenang walau masih pake pelampung tangan 🙂