Mengetuk Pintu Langit

Do’a ini terukir beberapa bulan lampau, di mana setiap ada kesempatan sambil menunggu masa puncak Ibadah Haji di Madinah dan Mekkah, saya tuliskan satu demi satu asa. Dan, saat kami berdua bersimpuh di Padang Arafah, do’a ini berulang kami lantunkan untuk mengetuk pintu langit-Nya. Berharap tujuan utama menggapai jannah-Nya dapat dikabulkan oleh-Nya. Lembaran tulisan tangan atas do’a tersebut memang makin usang, tapi harapan untuk meraihnya jauh lebih kuat.. Untuk terus mengingatnya, saya coba abadikan salah satunya melalui tulisan ini.

Continue reading

Advertisements

Hajj Journal: Day 28- Kala Rindu Melanda

Usai puncak amalan ibadah haji, rasa kangen pada keluarga khususnya anak-anak tak terelakkan. Terlebih bagi orangtua yang anaknya masih kecil-kecil seperti kami.

Kami bersyukur Allah memberi kami jadwal kloter yang sangat baik, menurut kami. Kami termasuk gelombang 1 urutan menjelang akhir. Apa implikasinya? Kami berangkat kira-kira 3 minggu sebelum puncak haji menuju Armina. 8 hari kami habiskan beribadah di Madinah terlebih dahulu, efektif sekitar 12 hari kemudian dihabiskan menunggu di Mekkah. Dilanjutkan Armina hingga hari ke 28 ini, sehingga kami masih punya kurang lebih 11 hari menjelang kepulangan ke tanah air.

Biasanya, masa-masa menunggu kepulangan ini menjadi demikian krusial untuk menjaga keistiqamahan ibadah kita. Sebagian ada yang makin semangat ibadah karena tahu bahwa waktu untuk menimba jutaan keberkahan pahala ibadah di tanah haram tak lagi lama, namun demikian tak ssdikit pula yang justru terlena mengumpulkan belanjaan dan istirahat berlebih di hotel dengan alasan capek setelah armina dan ingin mengumpulkan energi untuk kepulangan ke tanah air.

Berikut beberapa tips dari saya untuk memaknai waktu tunggu menuju hari kepulangan tersebut: Continue reading

Hajj Journal: Day 27- Salam Perpisahan untuk Mina

Hari ini lanjut kembali menuntaskan catatan haji yang sempat terpending lama 🙂

Hari ini hari ke 27 perjalanan haji kami, bertepatan dengan 13Dzulhijah. Agenda kami hari ini adalah lempar jumrah terakhir dengan niat nafar tsani sekaligus menandai selesainya seluruh prosesi haji kecuali thawaf wada’ yang memang baru akan dilaksanakan beberapa waktu sebelum meninggalkan Mekkah. Continue reading

Hajj Journal: Day 23 – Hajj Friendship Stories (1)

 

Seseorang belum dikatakan mengenal saudaranya apabila ia belum melakukan satu diantara tigal hal berikut : bepergian bersama (safar) , menginap di rumahnya (mabit) , atau melakukan muamalah (transaksi utang piutang) dengannya.

— Umar bin Khattab

Salah satu yang paling berkesan dari perjalanan selama 43 hari yang kami lalui saat menunaikan ibadah Haji beberapa waktu lalu adalah bagaimana persahabatan terjalin dengan saudari Muslim yang baru kami kenal di perjalanan. Beberapa orang sudah saling kenal sebelumnya, namun saya pribadi tidak mengenal seorangpun di 6 rombongan yang tergabung pada KBIH yang sama dengan saya. Kebanyakan dari mereka juga sudah cukup mengenal satu sama lain karena jadwal manasik dari KBIH yang cukup pada selama 6 bulan sebelum perjalanan, kami tidak bisa mengikuti manasik tersebut karena domisili kami di seberang pulau.
Awalnya sempat agak baper karena merasa “sendiri” di tengah kerumunan saudara baru saat momen pertama bertemu di lokasi pelepasan jamaah haji di Masjid Walikota Depok. Tapi… rasa itu ternyata tak mengendap lama.. Beberapa dari ibu yang ada di rombongan kami yaitu rombongan 7 menyapa hangat. “Oh ini yang namanya Mbak Naila, kapan sampai di Depok Mbak?” Daan, meluncurlah percakapan hangat antara kami semua, satu persatu saya mencoba mengingat-ingat nama demi nama saudari baru saya.
Episode persahabatan itupun kian mengental saat kami melalui bersama momen di asrama, sepanjang penerbangan, selama mabit di Madinah, Mekkah dan tentu saja ArMiNa. Walaupun teman sekamar berganti-ganti namun selalu mencipta memori indah, menjalin persahabatan melalui cerita seru dan berbagi pengalaman di antara kami.

Continue reading

Hajj Journal: Day 25- Memenuhi Panggilan Jihad bagi Wanita

Aisyah radhiallahu ‘anha kepada Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ:

“Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah.”

Hari ini tanggal 11 Dzulhijah, seusai prosesi puncak Haji kemarin di mana kami melaksanakan Jumrah Aqabah, Tahallul Awal, Thawaf Ifadhah dan Sa’i Haji dalam 1 hari, saya bersyukur jadwal kami melempar jumrah hari ini adalah ba’da Dhuhur jd masih bisa selonjor dan istirahat sepanjang pagi.

Pagi-pagi setelah sarapan, masih bisa couple time sebentar dg suami di depan tenda, ngobrol-ngobrol dan kontak anak-anak sebelum istirahat kembali menyiapkan energi untuk melempar jumrah siang nanti.

Sebelum Dhuhur kami sudah menyiapkan bekal perjalanan seperti

  • Botol minum kecil yang terisi penuh, cukup sebotol karena di beberapa lokasi menuju jamarat akan ada banyak keran-keran air minum segar
  • Sprayer untuk menyegarkan wajah yang terpapar sinar matahari
  • Topi atau payung
  • Kacamata hitam
  • Tas paspor lengkap dengan isi standar yaitu dompet, buku doa, masker.

Tepat seusai shalat Dhuhur yang diqashar kami bergegas menuju gerbang maktab untuk berkumpul bersama dan berjalan berbaris menuju rute jamarat. Continue reading

Hajj Journal: Day 24- Muzdalifah, Mina dan Masjidil Haram 

Saat maghrib menjelang di Arafah, karena kloter kami masih menunggu pemberangkatan urutan ke-6 menuju Muzdalifah, maka sholat maghrib dan isya’ segera kami laksanakan dengan jama’ qashar. Alhamdulillah, mata sempat terpejam untuk istirahat sejenak sebelum pukul 21.00 kami mulai berbaris kembali menaiki bus secara bertahap menuju Muzdalifah.

Pukul 22.45 setibanya di Muzdalifah.. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari batu untuk melempar jumrah. Alhamdulillah.. Tidak seperti yang pernah kami baca dari pengalaman beberapa orang yang menceritakan betapa sulitnya mencari kerikil kecil dis sekitar Muzdalifah, saat itu jutaan kerikil seperti terhampar untuk dipungut. Continue reading

​Hajjneymoon: Memaknai Ibadah dalam Kebersamaan

Sejak beberapa bulan sebelum berangkat, saya  dan suami sudah sepakat untuk memaknai perjalanan haji nanti sebagai rihlah ibadah. Dijalani dengan sabar, ikhlas, santai, jangan terlalu tegang, juga semangat kebersamaan. Saat yang satu mungkin emosi yang lainnya diam, saat tidak mampu berkata dengan santun sebaiknya diam, saat terlanjur salah namun gengsi untuk minta maaf pun baiknya diam dulu, sampai mampu menyampaikan dengan nada yang baik dan mesra.

Saya merasa seperti bernostalgia ke masa-masa awal pernikahan saat setiap langkah menjejak kami bergandengan sebelum sibuk dengan momongan yang terus bertambah sehingga setiap kali jalan-jalan kami punya gendongan masing-masing. 😀
Semua momen tersebut menyenangkan baik saat hanya berdua atau ketika ramai berlima.

photogrid_1474701155463

Selama haji, couple time yang biasanya minim sekali kami miliki menjadi bertambah eksponensial. Hampir setiap saat intens berkirim WA (ya iyalahh orang selalu gak sekamar :D), saling telepon untuk janjian di pintu mana, saling menawarkan mau nyoba cemilan apa, menawarkan butuh bantuan cuci mencuci atau tidak, membawakan air zam-zam saat istri sedang period, dan lain-lain 😉 Salah satu yang jarang terjadi juga adalah foto berdua.. :p Continue reading

Hajj Journal: Day 3- Rihlah Perdana Menyusuri Kota Nabi

Setelah menunaikan sholat shubuh, anggota rombongan di kloter kami mendapat giliran rihlah menapaki Kota Nabi ini pada pukul 06.00 yang kemudian molor hingga pukul 07.00 karena kendala teknis yang menyebabkan rombongan kami tidak kebagian bus dan menunggu bus sewaan pengganti.

Hikmahnya adalah kami jadi sempat foto keluarga dulu 1 rombongan, juga mendapat penjelasan detail runtutan shirah dari tempat2 yang dikunjungi oleh Ust Ali Fikri langsung.

Tujuan pertama kami adalah Masjid Quba

Ada hadits yang diriwayatkan dari Sahl bin Hunaif Radhiyallahu anhu berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ، فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ

Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Quba’, kemudian dia mendirikan shalat di sana, maka dia mendapatkan pahala umrah [HR. Ibnu Majah dan lainnya]

Sumber: https://almanhaj.or.id/4221-kota-madinah-masjid-nabawi-dan-masjid-quba.html

Masjid Quba ini adalah masjid yang pertana dibangun sendiri oleh Rasulullah. Selengkapnya tentang sejarah Masjid Quba bisa dibaca di sini. Continue reading