Mengetuk Pintu Langit

Do’a ini terukir beberapa bulan lampau, di mana setiap ada kesempatan sambil menunggu masa puncak Ibadah Haji di Madinah dan Mekkah, saya tuliskan satu demi satu asa. Dan, saat kami berdua bersimpuh di Padang Arafah, do’a ini berulang kami lantunkan untuk mengetuk pintu langit-Nya. Berharap tujuan utama menggapai jannah-Nya dapat dikabulkan oleh-Nya. Lembaran tulisan tangan atas do’a tersebut memang makin usang, tapi harapan untuk meraihnya jauh lebih kuat.. Untuk terus mengingatnya, saya coba abadikan salah satunya melalui tulisan ini.

Continue reading

Resolusi Keluarga, Quick Win for Kids

Sejak kemarin pagi, saya mendapat tugas negara dari Suami untuk melanjutkan draft Quick Win 2017 untuk 3 anak kami. Alhamdulillah, pagi ini berhasil selesai walaupun rangkaian bulanan Feb-Des belum final. Semoga cerita kami ini bermanfaat untuk Ayah Bunda lainnya.

Biasanya, saya dan suami masing-masing menyusun resolusi pribadi kemudian ditunjukkan satu sama lain, pun demikian untuk anak-anak biasanya dalam bentuk outcome, misalnya apa saja capaian yang ditargetkan. Dari hasil evaluasi suami, jika resolusi untuk anak hanya berupa outcome akan sulit dievaluasi di tengah tahun. Karenanya, kami mencoba metode baru yaitu dengan menyusun Quick Win bertahap. Kira-kira teknisnya begini:

  • Awali dengan menyusun daftar quick win apa saja untuk masing-masing anak (ini juga bisa digunakan untuk kami yang dewasa)
  • Kemudian saya kelompokkan per aspek agar mudah dan nyaman dilihat. Aspek versi saya (Spiritual, Literacy, Learning, Soft skill & Life Skill, Project&Experience, dan Sharing, Sport&Leisure)
  • Setelah jadi yang versi tahunan, kemudian saya susun per bulan agar jelas tahapannya
  • Setelah jadi versi bulanan, baru dibreakdown menjadi mingguan bahkan harian

Butuh waktu lama? Iya, lumayan. Tapi mengingat manfaatnya yang bagi kami akan sangat maksimal dalam memonitor capaian kami sekeluarga maka saya berupaya menyusun template di excel seperti ini.. Continue reading

Membersamai… Bukan Sekedar Bersama…

Mungkin saya termasuk sedikit orang yang  baru paham makna “membersamai” seutuhnya. Makna membersamai yang mendalam saya dapatkan sebulan terakhir ini saat menghabiskan waktu liburan sekolah lengkap dengan paket tiga anak.

Mengapa saya sebutkan bahwa membersamai bukan sekedar bersama, karena setiap hari pasti kita lama sekali bersama dengan anak-anak, namun belum tentu membersamai mereka. Membersamai bisa dimaknai sebagai quality time yang sesungguhnya. Saya sendiri membersamai mereka dalam makna mengikuti saja apa yang sedang ingin mereka lakukan (tentunya tetap melakukan ibadah wajib dan standar kegiatan yang sudah disepakati bersama di keluarga).

Saya jadi paham bahwa membersamai justru menelurkan konsep “Inside Out” yang sesungguhnya, mereka jadi keluar sendiri fitrah belajarnya, fitrah keimanan, fitrah bakat, dan fitrah lainnya.

Kakak Faza,

Saya takjub pada niat kuatnya memulai bisnis Slime dan Squeezy (bener gini ga ya tulisannya) bersama sahabatnya Icha. Dia mulai survei pasar, mencari supplier di online (dari BL, Tokped, Shopee, hingga cari-cari link ke Asemka dll). Selain karena suka pada mainan ini, saya pernah cerita tentang Nara seorang anak yang berbisnis slime dan bisa banyak sedekah dari hasil penjualannya itu. Tekun memperhatikan langkah-langkah membuat slime dari tutorial di youtube. Bahkan sudah mengatur job desc dengan partner usahanya yaitu Icha. Continue reading

Muslimah Belajar: Meniti Jalan Produktifitas Diri

Konon katanya saat kita mengerjakan sesuatu yang kita sukai maka saat itu pula kita seperti merasa tidak bekerja.

Saya merasakan benar hal tersebut, saat diminta mengajar seharian tanpa jeda untuk sebuah training walaupun sebenarnya terasa lelah namun tertutupi oleh rasa sukacita berbagi ilmu dan belajar bersama peserta training. Sebaliknya, walau belum 1 jam menekuni jahitan atau rajutan akan membuat saya lelah bukan main karena merasa bosan dan kurang passionate mengerjakannya.

Setelah lama mencoba memetakan SWOT diri dan merumuskan jalur produktifitas diri yang ingin ditempuh namun kadang baru terlihat indah di atas kertas karena saat dijalani sebentar2 mandeg. Menemukan uji talents melalui http://www.temubakat.com rasanya seperti mendapat aliran energi baru setelah membaca dengan cermat apa yang sebenarnya menjadi kekuatan diri dan berusaha memaksimalkannya.

Berikut hasil ST30 saya dari tes yang saya lakukan di http://www.temubakat.com

st30-nay

Setelahnya saya mencoba membuat kuadran aktifitas berdasarkan yang bisa dilakukan dan yang disukai.

kuadran-aktifitas

Sebaiknya kita fokus ke kegiatan yang mana? Tentu saja kuadran 1 di mana hal tersebut kita sukai dan bisa kita lakukan. 🙂 Mari meniti jalur produktifitas diri bersama 🙂

Menjadi Titik Kecil pada Lingkaran Kebaikan

Setiap kali “terjebak” dalam sebuah lingkaran kebaikan, saya teringat tulisan bertajuk Lipatan oleh Ade Candra berikut ini:

Tangan saya membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian. Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan. Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan.Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”.

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan ‘bersentuhan’. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

“Orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

KI sangatta.jpg

Allah begitu baik, masih memberi saya kesempatan menjadi sebuah titik kecil pada sebuah lingkaran kebaikan bertajuk “Kelas Inspirasi Sangatta 2016”. Masih terukir jelas di benak saya begitu menerima email info pendaftaran KI Sangatta dari seorang sahabat di ILUNI UI, Allah menggerakkan jari saya dengan cepat ke link tersebut dan segera mendapat email konfirmasi. Continue reading

Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

10 Nov 2016

Semangat hari Pahlawan rasanya kurang menggelora di dada saya, karena segitu deg-degannya menghadapi sesi konsultasi pagi ini bersama Prof Hadiarto. Begitu mendarat di Soetta terminal 3 ultimate, alhamdulillah dibantu shuttle car menuju pengambilan bagasi, mungkin kasian ngeliat saya gendong2 batita plus ada dua anak lagi sama suami. Antrian taksi pun lancar hingga kami bisa tiba di RS Asri sebelum dokter mulai praktek. Continue reading

Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (1)

Pagi itu, saya dan Mush’ab sebenarnya membuka hari dengan cerah ceria.. Maklum, hari ini agenda Poppets adalah outing ke Taman Venus. Setelah beberes sebentar, meluncurlah kami ke lokasi meeting point dilanjutkan konvoi hingga tujuan dan bermain bersama di sana.

Kami harus pamit duluan karena saya harus mendaftar di RS 1 demi bisa mengobati batuk pilek Mush’ab yang sudah menginjak minggu ke-3. Saya pikir pukul 09.45 WITA antrian sudah makin sepi, ternyataaa tidak. Nomer yang saya terima dari mesin antrian otomatis adalah 106 di saat nomer yang sedang dipanggil saat itu adalah 81 dan loket hanya ada 2. Alhamdulillah Mush’ab sedang nyenyak tidur di pangkuan. Dengan penuh perjuangan mengantri di loket dan di poli anak, akhirnya pukul 11.20 kami dipanggil ke ruangan DSA1. Mush’ab diperiksa sebentar kemudian dianjurkan untuk tes lab dan rontgen. Kami menuju radiologi terlebih dahulu untuk foto rontgen dari depan dan samping, dilanjutkan ke laboratorium untuk diambil darah. Alhamdulillah, Mush’ab cukup kooperatif. Saat rontgen sempat menangis sebentar karena tidak familiar dengan alat dan ruangannya, namun saat diambil darah sama sekali tidak menangis.

12.10

Semua hasil sudah di tangan, saatnya saya kembali ke ruangan DSA 1. Drama itu dimulai saat dokter membaca tulisan tangan dokter Spesialis Radiologi yang menyatakan bahwa hasil rontgen Mush’ab: Bronchitis dicurigai TB. Untuk meyakinkan DSA 1 tersebut meminta persetujuan untuk tes Mantoux pada lengan kanan Mush’ab. Saya tentu saja mengiyakan demi mendapat diagnosis jelas tentang dugaan TB tersebut. Kami pulang setelah diberi resep antibiotik dan anti alergi untuk mengobati Mush’ab. Continue reading

Muslimah Belajar: Menjadi Manajer Keluarga Handal

Amanah sebagai seorang istri dan ibu adalah profesi yang sangat menuntut continuous improvement, karenanya jangan pernah berhenti belajar. Belajar dari mana saja. Dari shirah nabi dan ulama, sosok keluarga teladan, buku, blog, seminar, dan aneka majlis serta sumber ilmu lainnya.

Ada banyak…………… sekali aktifitas yang harus dilakukan seorang ibu di rumah, kalau dilist mungkin butuh lebih dari 2 halaman A4 bolak balik untuk menuliskannya. Tapi, karena seorang istri dan ibu juga manusia biasa, maka sangat tidak realistis jika kita memaksakan diri untuk menyempurnakan semua aktifitas tersebut dengan waktu per hari 24 jam. Di buku Manajemen Waktu Para Ulama yang ditulis oleh Syaikh Abdul Fattah, para ulama yang kebanyakan kaum pria karena mereka memang mendedikasikan hidupnya sebagai seorang ulama maka sebagian besar waktunya digunakan untuk belajar dan menulis. Ada yang sampai lupa makan, tidur maksimal 4 jam sehari demi menggapai cita-cita untuk menjadikan ilmu yang mereka pelajari tak lekang oleh waktu dengan cara menulisnya. Continue reading