Menjadi Ortu yang Dirindu

Banyak ayah bunda yang berkeluh kesah dan bertanya-tanya, bagaimana menjadi sosok ortu yang dirindukan buah hatinya. Semoga di postingan ini, ditemukan jawab dan caranya…

Salah satu momen yang akan memberi kesan mendalam bagi ananda adalah saat kita sebagai orangtua membersamai mereka di waktu-waktu “ajaib”, seperti saat menjelang tidur, safar, dan beberapa momen penting lainnya. Apa yang harus dilakukan saat membersamai mereka? Saya pribadi sering memilih opsi berkisah dalam mengisi waktu-waktu ajaib tersebut. Continue reading

Advertisements

Cerita (Lagi) tentang Telinga: Berbagi Kisah Otitis Media Berulang

Cerita panjang ttg telinga Kakak dari gejala hingga penanganannya sdh pernah sy tulis 4 tahun lalu di sini https://nailatazkiyya.wordpress.com/2014/08/12/4652/

Qadarullah, sekitar 3 bulan lalu yaitu bulan Juni, saya merasa pendengaran kakak berkurang kembali. Setelah 2 minggu observasi dg suami, kami konsul ke dr THT di RS X, ketika periksa di sana, dokternya keukeuh si kakak ga kenapa2 bahkan keberatan melakukan tes audiometri yg kami minta. Karena sy yg intens berinteraksi sungguh merasakan penurunan tsb, sy pun argue minta utk tetap dilakukan tes. Dokter tsb akhirnya dg berat hati memberikan pengantar utk tes. Dari hasil tes nampak bahwa ada penurunan di telinga kiri skitar 20%, namun itu masih batas normal katanya.

Saya pulang dg perasaan lega, namun juga masih kurang sreg. Saya coba cari2 lagi info dr THT lain di kota kecil kami, alhamdulillah ketemu dr Gerry di RSUD Kudungga, saya menceritakan kronologis telinga kaka, kmdn diperiksa dg alat yg bs masuk ke telinga semacam teropong mini gitu. Terlihat jelas bahwa di telinga Kaka banyak cairan kental yang menutupi jalan masuk getaran suara.

Sementara Kaka diberi obat Antibiotik dan beberapa obat lain utk mengencerkan cairan kental tsb. Sambil menunggu reaksi obat kami diminta melakukan rontgen adenoid Kakak.

hasil pemeriksaan pertama

hasil kedua, sdh nampak lebih baik tapi tetap terlihat cairan kental.

Pemeriksaan kedua sekaligus sy menyerahkan hasil rontgen adenoid, ternyata memang ukurannya terlalu besar dari yg seharusnya. Dokter menanyakan kembali usia kaka, shrsnya usia menjelng 10 tahun ukuran adenoid sdh mengecil. Karena dokternya belum mau merekomendasikan tindakan maka sementara tetap minum obat dulu agar pendengarannya membaik sementara.

Awal Agustus 2018

Kami cuti ke Jakarta karena ada acara keluarga, kami gunakan sebaik2nya utk periksa telinga kakak dan kontrol kehamilan saya.

Pertama, kami ke RS Y menemui salah satu profesor di sana, confirmed dari dokternya menyatakan Kaka mengalami otitis media berulang, diterapi obat dulu dan fisioterapi jika ga mempan maka harus tindakan.

Qadarullah, saat saya periksa kehamilan di RS Bunda bertemu dg salah satu teman yg anaknya mengalami kasus serupa dengan Faza, saya dianjurkan ke Prof Helmi di RS SS Medika utk mencari opini lain krn beliau recommended.

Keesokan harinya, kami mendaftar ke Prof Helmi dan saat periksa dinyatakan agar tuntas masalahnya diperlukan tindakan myringotomi disertai pemasangan gourmet tube dan juga adenoidectomy utk pengerokan adenoid nya yg memang mengganggu.

Kaka tentu saja lngsung menolak jika dilakukan operasi saat itu, krn status kami sdg berlibur 😀 Dan dia masih ingin dioperasi di Sby lgi dg eyang dokter yg dulu. Ternyata saat di Sby dokter tsb sdh tdk praktek lagi. Baiklah, kami putuskan menyelesaikan liburan hingga akhir Agt baru kemudian membuat rencana tindakan kakak tersebut.

Nah, bagi yg baru mendengar ttg dua tindakan ini, semoga penjelasan singkat ini bisa agak membantu.

Myringotomi adalah prosedur pembedahan dimana dibuat sayatan kecil pada gendang telinga untuk mengurangi tekanan yang disebabkan oleh penumpukan cairan yang berlebihan, atau untuk drainase cairan telinga tengah.
Tepatnya tindakan insisi(sayatan) tersebut dilakukan pada pars tensa (kuadran posteroinferior atau anteroinferior) membran timpani.

Indikasi yang bisa menyebabkan diperlukannya tindakan ini, antara lain:

  • Infeksi telinga yang tidak berespon pada terapi antibiotik atau obat-obatan
  • Infeksi telinga tengah yang menyebabkan gangguan pendengaran dan keterlambatan berbicara
  • Otitis media akut berulang (3 episode dalam 6 bulan atau 4 episode dalam 12 bulan)
  • Barotrauma : Kerusakan akibat tekanan

Sedangkan Adenoidectomy, saya coba mulai jelaskan dari adenoid itu sendiri.
Tonsil dan adenoid adalah bagian dari ‘cincin’ kelenjar/jaringan getah bening yang mengelilingi bagian belakang tenggorokan. Tonsil dapat terlihat di belakang mulut, satu pada tiap sisi. Adenoid ditemukan jauh di bagian atas dalam tenggorokan, tepat di belakang hidung dan memerlukan instrumen khusus atau sinar-X untuk melihatnya.
Tonsil dan adenoid bertindak sebagai ‘polisi’ dan membantu membentuk antibodi terhadap ‘kuman’ yang menyerang hidung, mulut dan tenggorokan. Fungsi ini mungkin penting untuk anak-anak hingga usia tiga tahun, tetapi tidak terdapat bukti bahwa fungsi ini masih penting setelah itu. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang sudah menjalani pengangkatan tonsil/adenoid, tidak terganggu kekebalannya terhadap penyakit.

(Tonsilektomi dan/atau Adenoidektomi) Tonsil atau Adenoid sebaiknya diangkat jika:

  1. Tonsilitis Berulang: Infeksi akut yang sering terjadi menyebabkan demam tinggi dan tenggorokan perih
  2. Mendengkur/Obstructive Sleep Apnoea: Pembesaran adenoid/tonsil menyebabkan penyumbatan hidung dan tenggorokan untuk pernapasan sewaktu tidur. Jika dibiarkan tanpa diobati, bisa menyebabkan komplikasi yang melibatkan jantung dan paru-paru
  3. Otitis Media Kronis dengan Efusi: Telinga tengah yang terus-menerus berair, menyebabkan gangguan pendengaran
  4. Abses Peritonsillar: Nanah yang membentuk di daerah sekeliling tonsil
  5. Tumour: Meskipun ini jarang, tapi ini dapat terjadi pada anak-anak, misalnya limfoma

Insya Allah kaka akan menjalani tindakan tersebut di RS SS Medika hari Senin tgl 16 Sept 2018, shg Sabtu kaka berangkat ke Jakarta, Ahad pemeriksaan awal lab dan ke DSA, baru senin tindakannya. Semoga semua lancar dan Allah memberikan kesembuhan yang sempurna, aamiin

Balada Kehamilan Keempat (2)

Rumus semakin sering dicoba, semakin minim kegelisahan sepertinya tidak berlaku untuk proses kehamilan. 😀 Hal ini semata-mata karena prosesnya memang hanya bisa diatur oleh Allah. Hukum sebab akibat kadang tidak berlaku di dalamnya. Misalnya, jika kehamilan pertama kedua lancar maka ketiga dan seterusnya jauh lebih mulus. Belum tentu.. Karena setiap perjalanan mengandung memiliki cerita dan perjuangan sendiri. Jangankan antara 1 orang dengan lainnya, bahkan 1 orang ibu memiliki perjalanan mengandung yang bisa berbeda-beda untuk setiap anaknya.  Continue reading

Hajj Journal: Day 40- Tips Berkemas

28 Sep 2016

Saatnya menimbang koper besar…

Kepulangan adalah waktu yang sangat krusial, salah satunya terkait barang bawaan. Maklumlah yaa.. walau diniatkan 100% ibadah, rasanya kurang afdol kalau tidak membelikan anak2, orangtua, saudara, sahabat aneka oleh-oleh khas jazirah Arab. Oleh karena itu, koper yang di masa keberangkatan penuh dengan perlengkapan ibadah, makanan bekal selama 40 hari, deterjen, dan aneka perlengkapan lainnya kini berganti plastik-plastik berisi oleh-oleh untuk handai taulan. Continue reading

Secuil Kisah Bertajuk Duka

Tahun lalu, saya terkejut dengan ajakan dari seorang sahabat seorang Dokter Anak di Sangatta untuk bergabung di kepengurusan Yayasan Kanker Indonesia cabang Kutai Timur. Apalah saya ini? Yang masih sering panik walau sudah sering baca teori tentang penyakit yang umum diderita anak, lah kok malah diajak bergabung di organisasi kesehatan yang bagi orang awam jenis penyakitnya masih sangat “mengerikan”. Continue reading

Hajj Journal: Day 33-Kelenaan Berujung Penyesalan

Bukan rahasia lagi, bagi jamaah haji kloter awal, masa-masa menunggu puncak haji menjadi ajang ibadah “pemanasan” dan biasanya tdk ingin terlalu memforsir agar di saat puncak ibadah haji fisik masih cukup kuat. Bagi yang kloter akhir, sebelum puncak haji yang kadang waktunya sudah mepet hanya bisa ibadah sebisanya di masjidil haram krn biasanya bus yang beroperasi makin jarang, begitupun kondisi fisik yg biasanya sedang recover setelah perjalanan jauh dari tanah air.

Nah, seusai puncak ibadah haji, kloter awal sudah mulai bersiap kembali ke tanah air. Sementara kloter akhir, disibukkan pula dengan merecover tenaga sambil mulai menyesuaikan diri di tanah Haram. Continue reading