Berdamai dengan “Kekacauan”

Kondisi “darurat” acapkali dihadapi oleh seorang Ibu dalam dinamika hidup hariannya. Sebagai emak siaga, tentunya sebagian dari kita sudah sangat akrab dengan “panggilan-panggilan” sayang dari Ananda πŸ™‚

Jumat lalu, ada kejadian unik yang saya alami bersama the bocils tentu saja. Kejadiannya sederhana yaitu anak mengompol namun karena waktu dan tempat yang istimewa maka dapat digolongkan menjadi kondisi darurat πŸ˜€ Mumpung dulu ada cerita serupa dengan waktu dan lokasi berbeda saya juga mencoba mengulas (halah, apa ini bahasanya) di postingan ini. Siapa tahu bisa jadi referensi saat emak2 siaga mengalami kondisi serupa. Saya urutkan berdasarkan kronologis kejadian, jadi yang diceritakan peristiwa yang terjadi duluan ya..

2 tahun lalu,

Saat itu saya, Haidar dan Mushab kembali ke Sangatta beberapa hari setelah suami dan Kaka Faza. Kali itu saya mendapat tiket ke BPN dari Halim, demi mendapatkan tiket murah (lebih rendah saja sih lebih tepatnya maklum itu terjadi setelah liburan tahun baru :D) berangkatlah kami dari Depok menuju Halim agak sore karena jadwal maskapai yang kami gunakan boarding sekitar jam 19.00 WIB. Jreng.. jreng.. dari pagi Mas Haidar belum bobo, kemudian sepanjang jalan menuju Halim digunakan semaksimal mungkin bermain dengan sepupu tercintaahh Adek Rasya, sehingga… setelah beres check in, gelagat tantrum mulai tercium πŸ™‚ Main sama adek ga bertahan lama, mukanya kayak kelipet berapa lipetan hihi.. diajak ke kamar mandi untuk buang air sebelum pesawat boarding pun enggan. Saya berdoa saja semoga lancar semua karena Mas Haidar memang bukan type anak yang sering buang air.

Sambil menggendong Mush’ab dan menggandeng Mas Haidar yang masih uring-uringan karena mungkin kecapekan kami masuk ke pesawat dan duduk di kursi kami. Bener, gak lama setelah take-off Mas Haidar langsung terlelap. Alhamdulillah, bisa istirahat sejenak sama si Adek. Namun, kejutan berikutnya terjadi.. Kapan? Saat pesawat telah mendarat dan kami sudah harus turun pesawat. Mas Haidar sama sekali ga bergeming dari tidurnya. Sudah berbagai cara dilakukan saya dan segenap tim pramugari namun ga ada hasilnya.. Saya sudah hampir mengeluarkan jurus yang sama saat dulu pernah kejadian, saya sedang hamil Mush’ab, Haidar tidur nyenyak, suami juga masih harus megangin Kaka dan berbagai printilan barang, akhirnya kursi roda kami pinjam untuk mendorong Haidar karena saya ga mungkin menggendong Haidar yang bobotnya sudah lebih dari 15kg.

Pramugari yang sudah hampir menyerah, akhirnya memanggil crew lainnya untuk membantu saya. Dan, saat crew berjalan ke arah kami, ada kejutan lainnya… kursi pesawat mendadak basah, Ya Allah Ya Rabb.. Mas Haidar ngompol 😦 Hwaa makin pusinglah saya, alhamdulillah mbak2 pramugari cukup pengertian. Saya minta tolong crew untuk membantu menggendong Mush’ab dan membawakan barang saya sementara saya menggendong Haidar yang berbobot 20kg keluar pesawat hingga naik taksi kemudian berlanjut sampai check in hotel karena penerbangan lanjutan kami ke Sangatta baru ada keesokan harinya. Itu semua terjadi dalam kurun waktu pukul 22.30 hingga 23.30 WITA.

Hufhhh.. Sesampainya di kamar saya bersihkan seluruh badan Mas Haidar kemudian bebersih diri sendiri juga baru kemudian saya tidurkan dan bisa sholat lanjut istirahat. Rasanyaaaa… lega saat bisa telentang di kasur. Alhamdulillah, Allah masih baik sekali memberi kami bantuan dari banyak pihak. Mas Haidar pun keesokan paginya seperti merasa bersalah banget sama bundanya sampai selalu menanyakan apa yang bisa dia bantu πŸ˜€ Jadi, naudzubillahi min dzalik, teman2 ada yang mengalami kejadian macam kami di malam itu, pertama tetap tenang, jangan marah-marah ke anak di saat genting seperti itu, karena percayalah hal itu sama sekali tidak membantu justru malah makin bikin senewen.

Nah, sekarang masuk ke cerita kedua ya.. yang ini kejadiannya fresh banget Jumat lalu tgl 19 Jan 2018 πŸ˜€

Seperti biasa setelah jemput Mas Haidar dan beresin urusan di Sangatta kota, kami kembali menyusur perjalanan ke area Tj Bara, dan karena jam sudah menunjukkan waktu menjelang dzuhur, saya langsung antar Mas Haidar ke Masjid untuk menunaikan sholat Jumat sendirian. Seperti biasa, saya dan Mush’ab menunggu di parkiran mobil. Setelah lama berselang hingga jamaah hampir habis, kok tumben Mas Haidar ga keluar-keluar. Maklum ya, biasanya kan rombongan bocah rajin keluar duluan. Karena dulu Mas Haidar pernah kektiduran di masjid saat Jum’at an saya pikir ini ketiduran lagi kayaknya.. Saya majukan mobil hingga persis di depan tangga masjid. Saya ke arah masjid pas banget Mas Haidar di tangga dengan wajah yang agak aneh πŸ˜€ Mas, ketiduran kah? Gak, jawabnya. Kok tumben lama banget sampe bunda cariin.

“Kan aku dzikir dulu” kata Mas Haidar lagi.. Alhamdulillah, selain berdoa sekarang mas haidar rajin dzikir juga ya… Kami sama-sama masuk mobil.

Di Mobil,

Mas haidar tadi dzikir apa? tanya saya lagi. Banyaklah bun, katanya.

H: Bunda, nanti di rumah aku ganti celana ya..

B: Lho kenapa?

H: Ini kan celana pergi soalnya

B: Oh Oke.. (perasaan bunda mulai ga enak, kayaknya ada yang salah nih) Entah kenapa bibir saya langsung nyeletuk “Mas Haidar ga ngompol kan”

H: Emangnya kenapa (dengan nada yang emak2 pasti tahu..) langsung aja saya tanya lagi

B: tadi ngompolnya sebelah mana mas?

H: di pojok kok. Jrengggg… Setir saya langsung berbelok dan putar arah kembali ke masjid.. Saya bilang “Mas, karena Mas Haidar sudah ngompol, sekarang harus bertanggung jawab bersihkan, insya Allah bunda bantu dan kasi tahu cara membersihkannya.”

Saya minta Haidar ambil lagi baju seragamnya agar bisa mengganti baju koko dan celana terkena najis yang sedang dipakai serta botol minum. Saya suruh ganti baju di kamar mandi tidak lupa menyiram bagian tubuh yang kena najis. Yang lucu, saat kami berjalan menuju kamar mandi kami berpapasan dengan marbot masjid dan bapak satpam yang biasa menyapa kami. Marbot bilang “Ngompol ya bu?” saya jawab iya mas, ini mau dibersihkan. Satpam menyahut, pas tadi yang saya dudukin tempatnya. Duh, maaf ya Pak.. ini mau saya bersihkan. Gakpapa bu, nanti juga ada yang bersihkan. saya cuma kaget aja, pas duduk kok basah, terus mas sigit bilang, oh itu anaknya bu haji yang ngompol πŸ˜€ Whuaaa… kenapa jadi nama eike yang kebawa… saya cuma mesem-mesem dan bilang, gak papa pak, biar dibersihkan saya dan anak saya saja biar latihan tanggung jawab.

Setelah Mas Haidar ganti baju, saya ajak membersihkan dengan berbekal air, sabun, dan sarung serta kain bersih yang kering. Saya ajari cara mencuci karpet, menggosok, menyiram air hingga hilang baunya (alhamdulillah ga bau) kemudian mengeringkannya. Sudah selesai? belum, masih harus bersihkan juga jok mobil yang td sempat diduduki. Hingga selesai semua dan kami berjalan pulang.

B: Mas, bunda gapapa klo mas Haidar ga sengaja ngompol, tapi yang bikin bunda sedih, kenapa mas haidar td bohong sama bunda 😦

H: Iya bun, maaf ya…

B: Bunda sedih sekali kalo mas Haidar ndak jujur, nah sekarang atas 2 kesalahan tersebut, menurut mas haidar konsekuensinya apa?

setelah diskusi panjang lebar, konsekuensinya adalah

Ngompol –> Membersihkan bekasnya, mencuci bajunya (sambil diajari bunda)

Bohong –> bertaubat dan mau jujur bercerita pada ayah tanpa diminta

Alhamdulillah… kejadian demi kejadian selain memberi makna pada anak-anak, bagi saya pribadi semua hal itu jadi pembelajaran yang mendalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s