Skenario Allah untuk Kaka

Bismillahirrahmanirrahiim

Setelah hampir sebulan berniat mencatat tentang perjalanan berliku kami membersamai Kaka Faza, alhamdulillah Allah berikan jalan lewat pertanyaan sahabat saya tercinta mengenai lembaga tempat Kaka menuntut ilmu Qur’an sekarang ini.

Awalnya tidak ada yang istimewa dengan dini hari saat saya terbangun di tgl 9 Oktober 2017. Ritual andalan pun masih seperti biasa, hingga setelah menunaikan sholat shubuh, saya membuka HP dan terkaget2 dengan pesan yang saya baca

Assalamu’alaikum wrwb..

Pendaftar waiting listΒ  Markaz utrujah yg kami hormati..

Insya Allah bulan Oktober 2017 ini akan ada kesempatan diterima untuk pendaftar waiting list Markaz utrujah.

Apabila bapak dan ibu ingin mengambil kuota tersebut kami mohon untuk konfirmasi segera ke nomer 085xxxxxxx ( Ustadzah xxx)

Jadwal masuk asrama insyaAllah tgl 20 Oktober 2017. Terkait pembayaran dan lain-lain insyaAllah menyusul.

Kami tunggu konfirmasinya hingga tgl 09 Oktober 2017 pukul 12.00.

Apabila hingga waktu yg telah ditentukan tersebut belum ada konfirmasi, maka kuota tersebut akan kami berikan kepada pendaftar waiting list berikutnya. πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

Jazakumullah khoiron atas perhatiannya

Antara bulan Juli-Agustus, saat kami silaturahim ke rumah Ustadzah Ayuk yanh menjadi koordinator program Quran di sekolah Kaka, kami memang matur ingin memperdalam pembelajaran Quran Kaka. Kemudian, mendapat info tentang Utrujah dan beberapa anak Sangatta yang sudah ikut program tahfidz di sana.

Alhamdulillah, Kaka mau coba mendaftar dulu via WA, karena menurut Ustadzah Ayuk paling cepat dipanggil 1 tahun kemudian. Jadilah saya mencoba mendaftar via WA baru beberapa pekan dibalas diminta merekam suara saat tilawah surat tertentu sepanjang 1 halaman dengan voice note. Saat itu surat yang diminta adalah Ali Imran, sengaja saya kirim rekaman pertama Kaka tanpa diulang walaupun ada beberapa hukum tajwid yang kurang pas agar pihak Markaz Utrujah tahu lantunan asli Kaka. Menurut Ustadzah Ayuk biasanya nanti akan diminta rekam ulang untuk memperbaiki bacaan tertentu. Tapi, hingga 1 bulan belum ada balasan apa-apa. Kami hanya berdoa diberikan yang terbaik, sambil terus mengajak Kaka berinteraksi dengan Alquran.

Hingga tiba pesan WA di atas yang membuat saya bengong, bersyukur sekaligus bingung. Kontan, saya langsung forward pesan tersebut ke suami, padahal tahu juga kalau sedang di masjid pasti hp ga dibawa πŸ˜€ Yang penting merelease resah dengan itu dulu.

Saat suami pulang, langsung saya sampaikan kebetulan Faza sedang di kamar mandi. Hal pertama yang membuat saya bingung adalah bagaimana menyampaikan ke Kaka, karena hari itu hari pertama UTS juga, dan sebelumnya tidak pernah menyangka akan secepat itu πŸ™‚

Suami saya menenangkan, bismillah, ini adalah nikmat dan jalan dari Allah. Yang harus kita lakukan adalah menyiapkan diri dan anak untuk menempuh jalan tersebut.

Percakapan pertama saya mulai saat menemani Kaka sarapan, sama seperti kekagetan saya, saat itu Kaka masih bingung kalau harus saat itu juga memutuskan, padahal keputusan harus diambil sebelum jam 12 siang, berarti hanya punya waktu 6 jam.

Sepulang suami dari mengantar Kaka ke halte bus, “Alhamdulillah, sudah mau kok anaknya”. Bunda terkejut, “kamu ga maksa dia kan?”. Gak kok, dia sudah oke, mencoba program tahfidz 1 tahun di sana, semoga diberikan Allah jalan menyelesaikan selama 1 tahun itu.”

Apakah drama selesai???

Tentu tidak, setelah suami berangkat, saya menemani Mushab bermain sebentar, kemudian mencarikan bahan permainan yang kira2 cukup tahan lama membuat Mushab bermain dengannya, daaan sayapun mulai browsing dan chat sana sini dengan teman2 yang punya pengalaman di Utrujah atau lembaga lain serupa. Saya pikir, saya harus menegakkan dulu keteguhan azzam saya sebelum nanti Kaka pulang dari sekolah dan kami pasti diskusi panjang lebar tentang itu semua.

Hingga sore, saya bahkan tidak sempat mandi karena masih sibuk mementramkan hati atas pilihan dan jawaban yang sudah saya sampaikan kepada Markaz Utrujah.

Keresahan hati saya sebenarnya hanya berkutat di “utang” pendidikan dan pengasuhan yang mungkin belum selesai karena Kakak belum aqil baligh. Saya pun konsultasi ke sana ke mari, hingga Alhamdulillah, Allah menentramkan hati ini dengan beberapa statement dari Ibu2 sholihah bahwa jika meyakini jalan kebaikan tersebut telah digariskan, mengapa tidak berikhtiar sebisanya dan menepis terlebih dahulu duka karena harus berpisah dengan ananda. Insya Allah perpisahan sementara ini jika Allah berikan kemudahan dan ridha maka akan berbuah berkumpulnya kami di surga. Aamiin.

To be continue yaa.. πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s