My Best Friend, My Ex Rival….. My Beloved Sister

The best thing about having a sister was that I always had a friend.

Duluuu ya.. beberapa belas tahun lalu, saya merasa sangat insecure atas kehadiran adik perempuan saya 😀 Betapa tidak? Prestasinya hampir selalu mengungguli saya, hafalan qurannya lebih banyak dari saya, dan yang jelas.. dia jauh lebih kalem dari saya. Beberapa kali saya merasa Ibu “kurang adil” dalam memperlakukan kami, kayaknya adik lebih dijaga dan disayang ketimbang saya 😀

Well, setelah punya 3 anak, saya jadi sangat paham bahwa itu adalah bentuk bahasa kasih yang adil, karena Ibu telah melihat potensi yang berbeda dari kami berdua, saya dianggap lebih mampu melindungi diri sehingga tidak perlu terlalu “dieman-eman” haha… Dan, setelah beranjak remaja saya malah jadi makin yakin, Ibu tidak salah membedakan perlakuannya pada kami, saya justru begitu dekat dengan Ibu setelah beranjak remaja, Ibu adalah sahabat saya.

Kembali lagi ke cerita tentang Adik. Adik saya saking terjaga akhlaknya bahkan ayah ibu tidak khawatir saat lulus SD dimasukkan ke SMP Negeri, namun justru Adik saya mogok sekolah jika tidak dipindahkan ke pesantren bersama saya, karena di sekolahnya sering mendengar hal-hal yang kurang ahsan dari teman-temannya. Dan di pesantren, kami sekali lagi sering dibanding-bandingkan, bagaikan langit dan bumi kata Bu Sumi guru ekonomi saya dulu 😀 Saya yang sangat “lincah” dan “aktif” tentu jadi Njomplang dibandingkan adik saya yang kalem dan berprestasi.

Tapi Allah menakdirkan kami terus bertumbuh bersama, di pesantren dengan segala suka dukanya justru membuat saya dan Adik sering bekerjasama, saling bercerita dan saling mentraktir dari uang bulanan 😀 Kiprah kami kadang berbeda, Adik jadi ketua OSIS dan saya jadi Pradana. Saat kuliah saya aktif di Senat sementara Adik jadi Ketua Keputrian 🙂 Namun, jejak kami rasanya tak jauh beda. Setelah kuliah di Akuntansi UI, adik saya yang menjelang SPMB minta saran dan akhirnya diskusi kami berbuah diterimanya Adik di Manajemen UI…

Menikah juga hampir-hampir sama lah ya.. dengan proses ta’aruf daaan sama-sama dengan anak FEUI juga..:D

Dan kini, dengan buntut yang jumlahnya hanya beda 1, kami kembali berjuang di biduk yang sama. Sebuah usaha di bidang pendidikan bertajuk Rumah Pembelajar. Tepat awal Februari 2017 ini, manajemen Rumah Pembelajar berpindah estafet ke tangan adik perempuan tercinta saya… Djauharotul Muna. Rumah Pembelajar bukanlah sebuah penerbit atau percetakan, ini hanya sebuah rumah yang menaungi karya-karya kami sekeluarga.

Mulai bulan ini, saya resmi berpindah profesi cukup menjadi pembelajar, fasilitator anak-anak di rumah, dan berkarya sederhana melalui potensi dan fitrah bakat yang Allah amanahkan pada saya.

Selamat berjuang ya Dik, insya Allah kita masih berjuang bersama. Uhibbuki lillah.

20170125_151520

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s