Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (3)

Bagi yang belum membaca kronologis catatan medik anak2 kami, sebaiknya membaca dulu urutan ceritanya di sini dan sini 🙂

Saya pikir cerita kami sudah happy ending di posting kedua. Namun, sepulang dari Jakarta kondisi Haidar ternyata belum fully recovered. Dalam seminggu, beberapa hari sepulang sekolah badannya demam tanpa sebab yang jelas, terkadang mengeluh kedinginan walaupun AC di kamarnya telah mati dan kami semua justru merasa kegerahan. Emosinya agak labil, mudah marah karena sebab yang tak jelas. Saya sampai dag dig dug setiap kali usai menjemput ke sekolah khawatir mendadak emosinya meledak kembali, mungkin bagian dari rasa yang kurang nyaman pada dirinya.

Berbekal informasi yang kami miliki, kami mencoba opsi FNAB lagi. Kali ini di Bontang bersama Dokter Hadi Spesialis Patologi Anatomi pada tanggal 27 Nov 2016 lalu. Walaupun proses FNAB tidak menyebabkan sakit yang mendalam, namun saya dan suami berusaha mengkondisikan Haidar bahwa nanti lehernya akan diperiksa dan kemungkinan kelenjarnya akan disuntik agar kita semua bisa tahu penyakit Mas Haidar.

Jeng.. Jeng.. tangisan demi tangisan anak yang masuk ke ruangan FNAB menciutkan nyali saya.. Bismillah, saat Haidar masuk walaupun ada tangisan namun alhamdulillah bisa dilalui dengan lancar pengambilan sampelnya. Kami pun pergi dulu mencari makan karena butuh waktu hampir dua jam mengingat saat kami masuk pukul 11.00 sudah hampir jam istirahat makan siang.

Haidar masih agak sebel karena dia saja yang disuntik sementara adik dan kakanya tidak (duuh.. masa iya setiap tindakan medis juga harus kompakan Mas?) Akhirnya kami hibur dengan makan siang maknyus di Warung semacam Spesial Sambal di Bontang, letaknya di Jl Pattimura ditambah lagi juga dengan hiburan membeli buku di Toko Buku Aziz.. alhamdulillah semua senang..

Tibalah kami kembali di ruang tunggu Laboratorium, kami masih harus menunggu 30 menit untuk proses cetak hasil FNAB Haidar. Tidak sabar menunggu waktu konsul dengan dokter keesokan harinya saya segera membuka amplop hasil. Deg, rangkaian huruf itu rasanya begitu tajam menusuk hati kami, walaupun belum paham istilah medisnya namun melihat rangkaian kesimpulannya, kami seperti sudah tahu kenyataan pahit itu.

Limfadenitis Granulomatous Tuberculosa tertulis jelas di bagian pendapat sang dokter pada bagian kesimpulan. Hati kecil saya menangis, tapi kami tetap harus tersenyum di depan anak-anak. Sepanjang jalan saya terus berharap bahwa dugaan kami akan maksud istilah tersebut salah dengan browsing info sana sini. Namun, setelah membaca dari beberapa sumber tampaknya kami sedang mendapat ujian kenaikan level kesabaran mendampingi proses medis anak kami dengan menerima kenyataan bahwa Haidar memang menderita TB Kelenjar. Suami saya menepuk hangat sambil berujar bahwa saya seharusnya lega karena akhirnya terjawab penyebab demam Haidar yang belakangan ini tidak jelas, penyebab perubahan temperamen dan sikapnya, perubahan-[erubahan lainnya yang kadang membuat saya tidak mengenali lagi sifat awalnya.

Keesokan paginya, saya mengajak Haidar dan Mushab ke Dokter Spesialis Paru yang memberi rujukan untuk FNAB pada Haidar. Mushab saya periksakan juga karena hasil mantoux yang positif disertai gejala BB yang naik kurang dari yang seharusnya, begitu pula hasil baca rontgen sebelumnya yang sudah dicurigai cukup “ramai”.

Setelah berdiskusi panjang dengan dokter tersebut, sampailah pada keputusan bahwa kedua jagoan kecil kami ini harus mulai menjalani pengobatan OAT (Obat Anti Tuberculosa). Sampai pada tahap ini, saya tidak lagi “ngeyel” mencari pendapat lain karena menurut suami sudah sepatutnya kita mendengar dokter ini dan hasil diskusi dengan salah satu kolega yang kasusnya mirip sekali dengan keluarga kami.

Sejak 29 Nov 2016 lalu setiap pagi rutinitas kami bertambah dengan 1 agenda yaitu meminumkan 2 tablet untuk Mushab dan 4 tablet untuk Haidar sesuai dengan berat badannya. Tablet tersebut khas obat TB berwarna merah. Hari pertama kami coba campurkan dengan setengah gelas air, namun anak-anak kurang suka sehingga mulai hari kedua sampai sekarang tablet tersebut kami haluskan di sendok kemudian ditambah air madu, sambil malamnya kami berikan juga vitamin serta propolis dan air madu untuk mereka berdua plus Kaka Faza.

Dulu, sebelum menjalani terapi obat ini, saya berpikir bahwa minum obat adalah hal yang sederhana, pasti semua orang bisa, kok bisa ada orang yang lupa atau malas? Tapi, setelah menjalani terapi ini untuk 2 anak, sejujurnya saya sendiri mulai “bosan” dengan ritme tersebut, tapi.. justru dengan rasa itu saya jadi lebih empati pada perasaan Mushab dan Haidar, saya bukan yang meminum saja mulai jemu, apalagi mereka yang bahkan tidak paham alasan mengapa harus mereka yang setiap hari dicekoki obat dengan jumlah yang tidak sedikit. Airmata kadang menggenang saat Haidar bilang “Bun, pipisku kok masih merah ya..” hanya bisa memeluk sambil menenangkan “Gakpapa mas, artinya obatnya sukses masuk ke badan Mas Haidar, insya Allah Mas Haidar cepat disembuhkan oleh Allah ya..”.

Setelah menjalani terapi pengobatan, nafsu makan dan mood Haidar membaik, Haidar yang dulu rasanya kembali sedikir demi sedikit.. Saya bahagia kembali menemukan  Mas Haidar yang dulu. Alhamdulillah juga bahwa penyakit ini tidak menular dari seorang penderita anak sehingga Haidar masih bisa bebas berinteraksi dengan teman-teman dan saudaranya, Allah begitu baik.. alhamdulillah ‘ala kulli haal

Semoga tulisan ini juga memompa semangat bagi para orangtua yang sedang menemani proses medis anaknya. Insya Allah anak-anak yang menderita penyakit tertentu sudah dipilih oleh Allah untuk merasakan ujian kekuatan, tugas kita adalah menemani mereka menyelesaikan ujian tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s