Perjalanan Panjang Menegakkan Diagnosis (2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya

10 Nov 2016

Semangat hari Pahlawan rasanya kurang menggelora di dada saya, karena segitu deg-degannya menghadapi sesi konsultasi pagi ini bersama Prof Hadiarto. Begitu mendarat di Soetta terminal 3 ultimate, alhamdulillah dibantu shuttle car menuju pengambilan bagasi, mungkin kasian ngeliat saya gendong2 batita plus ada dua anak lagi sama suami. Antrian taksi pun lancar hingga kami bisa tiba di RS Asri sebelum dokter mulai praktek.

Yang terdaftar untuk konsultasi pagi itu adalah suami, saya dan Kaka Faza. Karena dokternya adalah pulmonolog untuk dewasa jadi perawatnya sarankan yang diperiksa hanya bisa yang di atas usia 6 tahun. Setelah dipanggil dan kembali menceritakan kronologis medis kami sekeluarga, secara bergantian kami diperiksa dan dilihat hasil rontgennya (termasuk juga milik housemaid yang kami bawa). Menurut Prof Hadiarto, kami semua tidak ada kelainan apapun, hanya perlu olahraga teratur karena saat uji tiup untuk tahu kekuatan nafas, terlihat agak kurang maksimal. Itu saja. Dokter tetap menyetujui bahwa kami sebaiknya konsul ke DSA (K) pulmonologi anak nanti sore untuk mendapatkan gambaran utuh. Namun untuk pasien dewasa beliau nyatakan bersih.

Setelah istirahat sebentar di hotel, pukul 14.10 kami sudah mengarah ke Hermina Jatinegara karena Prof Bambang Supriyatno mulai praktek jam 15.30. Saat dipanggil masuk rasa dag dig dug itu kembali muncul, momen ini yang saya tunggu2 sejak tanggal 31 Okt lalu.. ingin tahu diagnosis dari DSA (K) Pulmonologi. Prof Bambang ini sangat santai dan selera humornya sangat tinggi. Sepertinya beliau membaca wajah tegang kami sehingga beberapa kali melontarkan joke ringan. Hingga akhirnya setelah semua diperiksa dan melihat rontgen serta bekas mantoux nya, beliau menyatakan ketiga anak kami negatif TB. Menurut beliau yang juga sama dengan yang disampaikan DSA 2 dan DSA 3 di BPN bahwa hasil mantoux untuk anak usia <2th sangat wajar melebihi 10mm, bahkan hingga 15mm pun masih dikatakan normal. Apalagi riwayat penularan menjadi 0 skornya karena anggota keluarga yang dewasa tadi pagi sudah dinyatakan bersih juga oleh Prof Hadiarto. Kemudian hasil rontgen pun tidak menunjukkan sugestif ke arah TB.

Sejujurnya, saat itu rasanya seperti melepas beban berat di kepala dan pundak yang tertahan selama 2 minggu terakhir. Kami lega dan plong.. walaupun tetap punya pe er terus menjaga kesehatan putra putri kami, karena kuman tersebut datangnya bisa dari mana saja. Utamanya lagi adalah memohon perlindungan dari Allah SWT.

Sesampainya di hotel saya bilang ke suami “Hufff panjang banget yaa perjalanan untuk mencari diagnosis ini..” suami dengan tenang menjawab “Kita harus sabar, karena lebih baik menempuh perjalanan panjang ini daripada harus salah diagnosis lagi”.

Perjalanan mungkin belum berakhir karena hasil tes IGRA Haidar ternyata dinyatakan undetermined dan diminta mengulang tes namun belum kami lakukan, pun saya merasa beberapa minggu belakangan ini kondisi kesehatan Haidar belum fit. Kaka dan Adek alhamdulillah justru terlihat cukup fit. Ya Allah Ya Rabb.. berikan perlindungan terbaik untuk mereka agar mereka bisa menjadi bagian generasi Rabbani yang akan menjejakkan torehan kebaikan bagi umat dan negara.

Pelajaran lainnya adalah mungkin daripada dag dig dug seperti kami kemarin, sebaiknya setiap kali menerima housemaid diperiksakan dulu kesehatan umumnya seperti rontgen dan cek darah supaya kita juga tenang berinteraksi dengan mereka. Dulu saat masih di Depok, yayasan yang menyalurkan nanny selalu melampirkan bukti tes kesehatan atas pekerjanya. Wallahu a’lam. Semoga cerita panjang lebar ini sedikit banyak bisa memberi gambaran bagi orang tua lain yang mungkin pernah atau sedang mengalami kasus serupa dengan kami.

Setelah proses medical ini, kami juga jadi lebih aware untuk langkah – langkah preventif seperti rutin meminumkan anak-anak madu dan propolis untuk menjaga kebugaran mereka.

Note: Beberapa hari lalu, kami konsul ke DSA 1 untuk mengupdate kabar anak-anak beserta mohon tetap dibantu monitoring kesehatan mereka. Menurut beliau, Kaka dan Adek tetap seperti skoring semula karena hasil diskusi beliau dengan Spesialis Paru dan Spesialis Radiologi menyatakan bahwa housemaid kami rontgennya positif TB disertai gejala klinis karena posturnya yang terlalu kurus walaupun BTA nya negatif. Bagi kami, ini menjadi catatan khusus agar kami senantiasa masih harus memonitor kondisi anak-anak beberapa bulan ke depan.

Mohon doanya agar anak-anak diberikan kekuatan fisik dan kesehatan untuk melanjutkan langkah-langkah kecil mereka menggapai mimpi… Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s