Muslimah Belajar: Merajut Cinta, Menuai Bahagia

Jika seorang Ibu dengan anak lebih dari 2 ditanya tentang kapan terakhir menulis surat cinta untuk suaminya, saya insya Allah yakin hanya kurang dari 10% yang menjawab pernah menulisnya dalam kurun waktu 1 tahun terakhir.

Hihi, kok bisa?? Menurut analisis saya yang fakir ilmu ini, kemungkinannya bisa macam-macam

  • Pertama, si Ibu dan pasangannya memang dari dulu bukan tipikal pasangan yang memverbalkan komunikasi hatinya, jadi cukup dengan perbuatan
  • Kedua, sebenarnya si Ibu tipe romantis tapiiiii.. urusan domestik dan tetek bengek bocah cilik kadang sudah cukup menyita waktu dan tenaga sehingga boro-boro bisa nulis surat cinta.. bisa mandi dan tidur dengan teratur saja sudah lebih dari cukupšŸ˜€ *agak curcol
  • Ketiga, dulu pas awal-awal nikah sihhh sering bangett berbalas email atau menyelipkan surat di bekal.. tapi makin tua usia pernikahan rasanya hal tersebut sudah meluntur, kalaupun menulis surat belum tentu isinya benar-benar tentang “cinta” tapi bisa juga berupa teguran, peringatan dan lain-lain.. haha…

Daan, hari ini saya tersadar untukĀ kembali merajut tambahan ornamen kasih sayangĀ kepada suami tercinta, menulisĀ surat cinta yangĀ menguatkan hati kami karena beberapa waktu ini kami seperti sedang mendapat “ujian kenaikan kelas” dari Allah melalui proses penegakan diagnosa untuk buah hati kami. Saya yakin, Allah justru menyiapkan hikmah yang demikian indah untuk kami sibak melalui proses tersebut. Surat bertajuk “Terus Melangkah Bersama” itupun telah tersampaikan. Sebagai sosok imam bagi keluarga, ia tertegun bahkan hampir menangis.. Kami bersama-sama berdoa agar kami senantiasa dikuatkan oleh Allah untuk terus merajut cinta di tatanan keluarga serta senantiasa memberi manfaat pada lingkungan sekitar.

Perjalanan penegakan diagnosa itu menjadi momentum lagi bagi kami untuk menggali potensi dari masing-masing buah hati. Beberapa waktu terakhir ini, rasanya saya makin tersemangati oleh celetukan Faza dan Haidar meminta sekolah di rumah saja. Mungkin untuk sebagian orang hal tersebut justru “aneh” ya? Tapi bagi kami menjadi sebuah prestasi bahwa ternyata proses home education yang tertatih kami jalani membuahkan sebuah hasil, anak-anak lebih senang belajar di rumah. Kini kami jadi lebih tertantang untuk memfasilitasi fitrah dan potensi anak-anak kami.

Dari coretan portofolio anak yang kami buat semampu kami, Kakak Faza masih sangat terlihat menonjol saat diminta terlibat meng-organize sesuatu, dia suka menyusun rencana dan membuat data-data melalui tabel atau excel. Faza juga memiliki bakat menghafal Al-Qur’an sebenarnya (saat kami tinggal haji selama 45 hari, Faza mampu menambah 2 juz hafalannya yaitu juz 1 dan 2 sebagai tambahan atas 2 juz sebelumnya yaitu juz 29 dan 30) namun kami belum menemukan metode dan momentum yang pas untuk menyemangati Faza agar memaksimalkan bakatnya tersebut.

Haidar sebagai anak yang sangat auditori sangat suka mendengar cerita dan bercerita, kemampuan logikanya pun cukup menonjol karena saat latihan mengerjakan soal di IXL dia bahkan bisa mengerjakan soal dengan level lebih tinggi dari usianya. Intelectual curiousity-nya pun cukup tinggi mengingat rasa penasaran yang senantiasa menghantuinya saat ada hal baru yang belum diketahui. Hal lainnya adalah dia pecinta kuda dan harimau serta bercita-cita menjadi pahlawan muslim seperti Khalid bin Walid.

Walaupun Mush’ab masih berusia 2 tahun, dan kamipun masih meraba-raba sekali potensinya, namun sebagaimana kiprah sahabat yang menginspirasi kami saat mencari nama untuk anak ketiga, kami berharap Allah melancarkan lisan Mush’ab kelak dan menjadikannya salah satu duta besar muslim dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan di muka bumi. Hobby Mush’ab saat ini masih gemar dengan messy play, sensori, dan role play.

Menjadi fasilitator yang baik untuk ketiga sosok buah hati dengan potensi yang berbeda memang tidak mudah namun berkaca dari potensi yang tercermin dari tes ST30 saya dan suami, kami berusaha saling melengkapi untuk memerankan fungsi fasilitator tersebut.

st30

Bagi saya, gambaran penilaian diri di atas sangat mewakili cerminan diri yang sangat suka men-generate ide-idešŸ™‚ Sehingga tugas saya di rumah keseringan memunculkan ide dan gagasan kepada anak-anak serta menjembatani proses belajar dengan melakukan networking kepada narasumber yang dibutuhkan.

 

Dengan perkembangan proses pendidikan anak-anak kami, Community Based Education (CBE) adalah sesuatu yang mutlak kami butuhkan untuk mendampingi proses home education yang kami jalani. Namun, di kota kecil yang sejak awal kami sadari memiliki keterbatasan di bidang pendidikan dan kesehatan, maka semoga Allah meridhoi langkah-langkah kecil kami memulai setapak demi setapak perjalanan menuju CBE tersebut.

Ah, ternyata merajut cinta itu tidak melulu berupa cinta kasih ala pasangan romantis masa kini ya.. Merajut cinta ini kami maknai sebagai proses penyelaman dan saling memahami potensi diri, pasangan, buah hati dan juga lingkungan, menghargai setiap perbedaan yang ada kemudian merajut semuanya menjadi rajutan indah penuh makna. Ya Allah, mampukan kami, mampukan kami, mampukan kami, untuk terus menyelami makna dan merajut cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s