Muslimah Belajar: Keutamaan Adab Sebelum Ilmu

”Janganlah ingin seperti orang lain, kecuali seperti dua orang ini. Pertama orang yang diberi Allah kekayaan berlimpah dan ia membelanjakannya secara benar, kedua orang yang diberi Allah al-Hikmah dan ia berprilaku sesuai dengannya dan mengajarkannya kepada orang lain (HR Bukhari)

Minggu lalu, saya kembali bergabung menuntut ilmu bersama  komunitas para bunda yang senantiasa menginspirasi dengan berbagai cerita dan pengalamannya. Sebelum memulai jenjang menuntut ilmu yang sesungguhnya, kami diingatkan untuk mengingat dan merajut kembali adab-adab yang seharusnya didahulukan oleh para penuntut ilmu sebelum terjun menyelami lautan ilmu yang demikian luas dan dalam.

Pada posting kali ini saya ingin berbagi tentang cita-cita ilmu yang ingin saya dalami dan bagaimana mendahulukan adab sebelum ilmu.

Salah satu buku yang direkomendasikan bagi para penuntut ilmu untuk dibaca sebagai persiapan menempa adab adalah Ta’lim Muta’alim yang di dalamnya membahas antara lain,

  • Hakikat ilmu, hukum mencari ilmu dan keutamaannya
  • Cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan
  • Cara menghormati ilmu dan guru
  • Kesungguhan dalam mencari ilmu, istiqamah dan cita-cita yang luhur
  • Bersikap tawakkal dan wara’ dalam menuntut ilmu
  • Hal-hal yang dapat menguatkan hafalan dan yang melemahkannya, serta beberapa pembahasan lainnya

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa ilmu yang wajib dimiliki seorang muslim adalah ilmu dalam beragama tercakup di dalamnya Fiqh Ibadah dan Muamalah sehari-hari, tartil dalam membaca Al-Qur’an serta senantiasa belajar untuk mentadabburi dan mengamalkannya serta ilmu-ilmu pokok agama lainnya. Oleh karenanya, dalam lubuk hati terdalam sungguh saya ingin kembali fokus mempelajari dahulu ilmu-ilmu agama yang belum sempat terekam baik dalam memori saya kalaupun sebelumnya pernah dibaca atau didengar sehingga di masa mendatang saya tidak perlu terlalu sering “mengemis” ilmu pada beberapa Ustadz dan Ustadzah juga portal-portal muslim terpercaya hanya untuk menjawab pertanyaan sepele saya yang mungkin seharusnya persoalan tersebut adalah termasuk ilmu yang wajib dipahami oleh muslimah seperti saya. Salah satu ilmu yang tercakup pada ilmu agama ini adalah bagaimana mendidik anak sesuai cara yang dirihoi Allah, maka jangan pernah berhenti belajar parenting.

Ilmu lain yang juga ingin saya pelajari adalah ilmu pemberdayaan masyarakat. Hal ini sudah lama menjadi passion bagi saya dan suami mengingat betapa cukup terpuruknya kondisi masyarakat kita saat ini, utamanya dalam hal literasi. Beberapa fakta terkait statement tersebut adalah peringkat minat baca Indonesia adalah 2 terbawah di dunia, omzet penjualan buku yang hanya 600 milyar rupiah pertahun untuk jumlah penduduk sebanyak sekitar 270 juta, tampaknya hal tersebut agak mengenaskan. Sebagai perbandingan di US belanja buku mencapai 270 trilyun rupiah pertahun. Perbandingannya 2:1000.

Walaupun terkesan sederhana, namun saya menyadari bahwa ilmu pemberdayaan masyarakat sangat luas cakupannya dan menantang. Sungguh, di dalamnya sangat kompleks. Dibutuhkan pemahaman tentang pemberdayaan ekonomi, pemerataan pendidikan, penyelesaian isu sosial, dan banyak lagi yang lainnya. Tentunya saya sadar diri untuk tidak memaksakan diri menguasai semuanya. Berdasarkan basic passion yang saya miliki di bidang pendidikan dan keuangan UKM, maka saya mencoba belajar terlebih dahulu ilmu Talents Mapping. Lho, kok malah talents mapping? Karena sebagai dasar belajar saya berusaha untuk mengenal talents yang ada pada diri saya sendiri dan keluarga. Setelahnya, saya akan menekuni lebih dalam tentang ilmu pedagogi serta financial literacy bagi anak, keluarga dan UKM.

Dari mana memulainya? Saya akan berusaha untuk mencari sumber ilmu yang shahih dari sang Maestro, tekun membaca satu demi satu referensi dan mengamalkannya serta mengajarkannya kembali sebagai upaya mengikat ilmu itu di dalam hati. Khusus untuk ilmu agama, suami saya mengusulkan agar kami memanfaatkan long weekend yang ada untuk membahas hingga tuntas satu persatu kitab yang seharusnya dipahami oleh seorang Muslim. Misalnya sekali long weekend kami membahas Kitab Halal Haram bersama ustadz yang benar-benar mampu mengajarkannya (tentunya sebelumnya harus sudah dibaca tuntas sehingga selama 3 hari tersebut kami akan lebih banyak berdiskusi pada materi-materi sulit yang belum dipahami).

Kembali lagi ke adab, ada banyak sekali list sikap yang harus saya perbaiki dalam memulai kembali secara serius untuk menuntut ilmu. Antara lain

  • Meluruskan niat, untuk setiap langkah memulai menggali ilmu dari sang guru saya upayakan mengawali dengan niat yang baik lillahi ta’ala
  • Khidmat terhadap guru, tetap kritis dengan adab yang baik
  • Tekun dan bersungguh-sungguh
  • Mengelola waktu dengan baik dengan melakukan perencanaan time framing yang tepat sebelum menentukan metode belajar
  • Mencari teman belajar yang tepat, sangat dibutuhkan untuk berdiskusi dan saling menguatkan

Bismillahirrahmanirrahiim.. Ya Allah Ya Rabb.. Mampukan hamba untuk mendaki tangga demi tangga ilmu pengetahuan untuk menggapai ridho Mu dan menjadi salah satu dari kaum beriman yang Engkau tinggikan derajatnya karena kesungguhannya menuntut ilmu. Aamiin ya Rabbal alamiin.

 

One thought on “Muslimah Belajar: Keutamaan Adab Sebelum Ilmu

  1. Pingback: Muslimah Belajar: Memacu Semangat, Melaju Langkah, Istiqamah Belajar | Me, The World, and The Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s