Hajj Journal: Day 26- Mencari Cerminan Iman

Hari perpisahan dengan Mina semakin dekat, hari ini kami akan melakukan lempar jumrah yang ketiga. Bagi sebagian jamaah yang memilih nafar awal dan tiada dosa atasnya, setelah melempar jumrah dapat kembali ke hotel. Kami sendiri karena memilih nafar tsani masih mabit semalam lagi di Mina.

Mabit di Mina memang sejuta rasanya, di satu sisi sejak bersiap menuju Mina rasa hati sudah berdegup kencang, konon katanya inilah masa puncak terberat dalam pelaksanaan ibadah haji. Namun, alhamdulillah, atas izin Allah, justru masa-masa di Mina adalah momen-momen penuh kenangan yang membuat kami makin dekat satu sama lain, utamanya dengan teman setenda, dengan pasangan, dengan Allah tentu saja. Di setiap tenda yang hanya berukuran sekitar 10 x 10 meter kami harus mengisi dengan orang sejumlah hampir 60 orang, jika dibayangkan masing – masing orang hanya memeperoleh kavling dirinya seluar dirinya tidur telentang ditambah 1 buah tas ransel bawaannya. Tak lebih. Di tenda tersebutlah kita ibadah harian, makan, tidur, istirahat, bercengkrama.

Sempat ada insiden asap mengepul dari tenda tetangga yang membuat kami heboh bukan kepalang, alhamdulillah Allah masih melindungi kami dan api tersebut segera padam. Hal lain yang cukup seru di ArMina adalah betapa antrian kamar mandi menjadi momok bagi sebagian besar orang. Kabar yang saya dengar sebelumnya antrian bisa mencapai puluhan orang dan alhamdulillah tidak pernah mengalami yang separah itu.

Di sini, gundukan sampah dan berebut antrian kamar mandi menjadi seni tersendiri. Kadang kita harus maklum dan mengalah ketika beberapa ibu separuh baya atau yang sepuh meminta belas kasihan diselipkan dalam antrian karena sudah tidak tahan, kadang kita harus cukup kebal saat sedang di dalam kamar mandi ada orang yang menggedor kasar (biasanya bukan orang Indonesia), seringkali kita juga harus membawa bekal plastik untuk memungut sampah yang bertumpuk di dalam kamar mandi, dari selipan gagang pintu, sekitar WC dan area lainnya.

“Sesungguhnya Allah itu baik. Dia menyukai kebaikan. Allah itu bersih dan Dia menyukai kebersihan. Allah itu mulia dan ia menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan dan menyukai kedermawanan, maka bersihkanlah olehmu tempat-tempatmu.”(HR. Tirmidzi)

Tampaknya cerminan iman tersebut masih harus dipertajam perwujudannya dalam setiap perbuatan umat Islam, mari memulai, dari diri sendiri dan sedini mungkin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s