Hajj Journal: Day 25- Memenuhi Panggilan Jihad bagi Wanita

Aisyah radhiallahu ‘anha kepada Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ:

“Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah.”

Hari ini tanggal 11 Dzulhijah, seusai prosesi puncak Haji kemarin di mana kami melaksanakan Jumrah Aqabah, Tahallul Awal, Thawaf Ifadhah dan Sa’i Haji dalam 1 hari, saya bersyukur jadwal kami melempar jumrah hari ini adalah ba’da Dhuhur jd masih bisa selonjor dan istirahat sepanjang pagi.

Pagi-pagi setelah sarapan, masih bisa couple time sebentar dg suami di depan tenda, ngobrol-ngobrol dan kontak anak-anak sebelum istirahat kembali menyiapkan energi untuk melempar jumrah siang nanti.

Sebelum Dhuhur kami sudah menyiapkan bekal perjalanan seperti

  • Botol minum kecil yang terisi penuh, cukup sebotol karena di beberapa lokasi menuju jamarat akan ada banyak keran-keran air minum segar
  • Sprayer untuk menyegarkan wajah yang terpapar sinar matahari
  • Topi atau payung
  • Kacamata hitam
  • Tas paspor lengkap dengan isi standar yaitu dompet, buku doa, masker.

Tepat seusai shalat Dhuhur yang diqashar kami bergegas menuju gerbang maktab untuk berkumpul bersama dan berjalan berbaris menuju rute jamarat.

Sungguh, bagi saya pribadi, hadits Rasulullah di atas terasa mengena sekali setelah melalui satu demi satu rukun dan wajib haji. Dari seluruh rangkaian ibadah yang kami lalui selama 40 hari, rasanya ArMina adalah gemblengan termantap dari proses lainnya. Kita diajak untuk bertafakkur selama mabit di tenda, bahkan beberapa kali harus berpindah dari satu tenda ke tenda lain, dan mencicipi nikmatnya tidur di alam bebas beratapkan langit saat mabit di Muzdalifah.

Kembali ke perjalanan menuju Jamarat (tempat melempar jumrah), saat bergabung dengan barisan jamaah haji lainnya dan menghentakkan kaki dengan mantap menuju Jamarat, hati saya berdesir hebat. “Mungkin seperti ini rasanya saat dulu pasukan Muslim dengan gagah berani menghadang musuh-musuh Allah” Insya Allah, beginilah rasanya jihad bagi wanita. Deru langkah yang melebur dengan ikatan ukhuwah di sepanjang perjalanan menyisihkan lelah dan ngili di setiap persendian dan tulang kami.

Bagaimana jika ada wanita atau pria yang sedang udzur? Bagi wanita haid tidak mengapa tetap melempar jumrah, namun jika sedang mengalami sakit berat atau sulit melakukannya karena usia lanjut tidak mengapa dibadalkan (digantikan) oleh jamaah lainnya. Karena ini sudah hari ketiga, bagi mereka yang berniat nafar awwal maka setelah melempar sudah bisa kembali ke hotel kembali, sementara yang berniat nafar tsani akan melanjutkan mabit hingga besok dan melempar jumrah sekali lagi.

Ya Allah Ya Rahmaan, semoga ibadah kami mendapat ridha terbaik-Mu, aamiin ya Rabbal alamiin..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s