Hajj Journal: Day 24- Muzdalifah, Mina dan Masjidil Haram 

Saat maghrib menjelang di Arafah, karena kloter kami masih menunggu pemberangkatan urutan ke-6 menuju Muzdalifah, maka sholat maghrib dan isya’ segera kami laksanakan dengan jama’ qashar. Alhamdulillah, mata sempat terpejam untuk istirahat sejenak sebelum pukul 21.00 kami mulai berbaris kembali menaiki bus secara bertahap menuju Muzdalifah.

Pukul 22.45 setibanya di Muzdalifah.. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari batu untuk melempar jumrah. Alhamdulillah.. Tidak seperti yang pernah kami baca dari pengalaman beberapa orang yang menceritakan betapa sulitnya mencari kerikil kecil dis sekitar Muzdalifah, saat itu jutaan kerikil seperti terhampar untuk dipungut.

Jumlah kerikil yang dibutuhkan untuk kami yang berniar Nafar tsani minimal 70 buah, 7 buah untuk Jumrah Aqabah, 3 hari berikutnya membutuhkan 21 buah per hari karena yang dilempari ada 3 tempat yaitu Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah. Plastik kecil yang kami siapkan cukup membantu untuk memudahkan memilah mana yang dibawa di hari pertama hingga keempat.

Seusai menyimpan batu, kami berusaha tidur di tengah padang pasir Muzdalifah hanya beralas tikar tipis dan beratap langit di malam hari yang cerah. Jika sebelumnya banyak yang khawatir sulit tidur karena lokasi yang kurang nyaman, tampaknya hal tersebut cukup kami nikmati sajaaa, hihi.. atas dasar saya aja yang “kebo banget tidurnya”.. saya nyenyak tidur hingga pukul 1 terbangun ke kamar mandi dan bersiaapp pakai diapers (terdengar aneh dan menjijikkan, namun mengingat perjalanan setelah dari Muzdalifah akan cukup panjang, saya memilih opsi ini). Sepanjang apa perjalanan kami nanti? Diperkirakan pukul 3 pagi kami mulai diberangkatkan menuju Mina dan setibanya di sana langsung berjalan menuju Jamarat (lokasi lempar jumrah) yang berjarak hampir 4 km, selesai? Belum. Selanjutnya kami akan berjalan kaki ke hotel, tidak terlalu jauh kurang lebih 2km. Nah, di jalan menuju jamarat tidak ada toilet sementara kemungkinan lempar jumrah aqabah ini akan sangat padat, jaddiiii drpd ngompol sebaiknya jaga-jaga dengan diapers😀

Pukul 2.30 kami sudah dibangunkan, bergegas ambil tas dan tentengan.. Langsung baris di gerbang bus.. Namun, antrian yang demikian mengular dan jumlah bus yang memang terbatas karena lebar jalan di Mina juga space nya terbatas, membuat kami harus kreatif curi-curi waktu dan tempat untuk duduk menunggu. Tepat seusai adzan shubuh kurang lebih pukul 05.00 kami mulai naik bus, jarak Muzdalifah ke Mina yang sesungguhnya hanya 4-6 km saja harus ditempuh dalam waktu hampir 1 jam.

Setibanya di tenda, kami menunaikan shalat shubuh terlebih dahulu kemudian bergegas jalan lagi menuju jamarat.

Bagaimana suasananya? Kalau pernah ikut lomba PBB antar sekolah, yang jumlah pesertanya ratusan maka silakan dibayangkan barisan jamaah dengan jumlah puluhan ribu orang, kenapa hanya puluhan ribu padahal jumlah jamaah haji tahun ini hampir 2 juta jamaah? Karena dari lokasi kami melempar yang dituju adalah jamarat lantai 3 dan tidak semua melempar di waktu dhuha, jadi perkiraan saya ada puluhan ribu orang yang berjalan gagah dengan barisan masing-masing sembari melantunkan talbiyah.

Derap langkah puluhan ribu jemaah itu bagaikan pasukan perang gagah berani yang siap melawan “syaithan penggoda”, talbiyah yang terdengar bersahutan menambah kesyahduan perjalanan kami menuju jamarat.

Ada 2 terowongan yang kami lalui, sesekali kami berhenti minum dan mengisi air di keran-keran air dingin yang tersedia di bagian kiri bahu jalan. Setelah melalui lubang jumrah ula dan wustha, akhirnya kami hampir tiba di lubang jumrah Aqabah. Batu pun segera kami siapkan, hari ini selain melempar untuk kami sendiri, ada 1 jamaah sepuh yang kami badalkan (gantikan) lemparannya.

Seusai melempar ada kelegaan, keharuan, setitik air menetes di pelupuk mata, sambil terus berjalan menuju hotel. Jika setelah lempar jumrah ini kami mencukur atau memotong rambut maka sudah sah melakukan tahallul awal sehingga ihram bisa dilepas.

Setibanya di seberang hotel, suami saya mencari teman menuju barber shop sementara saya mencari teman wanita yang sudah tahallul. Alhamdulillah ada, dia memotong rambut saya di pojok lobi hotel kemudian saya langsung menuju kamar daan bisa melepas khimar… Yeaayy… Maklum yaa sudah 3 hari tidak boleh terlihat sedikit pun auratnya di hadapan orang lain (termasuk sesama wanita, jadi ya buka khimar hanya di kamar mandi waktu mandi).

Setelahnya mandi menjadi agenda yang super menyejukkan.. Rasanya demikian berbunga-bunga bisa mandi dengan segarnya tanpa gedor sana sini😀 Menikmati keramas dan memijat badan dengan sabun wangi bagaikan surga duniawi saat itu. Setelahnya, karena masih ada waktu istirahat, saya mengisi perut dengan sebungkus popmie rasa kari yang sukses mengantar tidur satu jam ke depan hingga waktu dhuhur menjelang.

Seusai shalat dhuhur, kami bergegas menuju ruang makan, menikmati nasi briyani dengan porsi jumbo berdua dengan suami sebagai bahan bakar kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Masjidil Haram yang berjarak kurang lebih 3,7km.

Keputusan untuk makan cukup banyak saat lunch tadi bagi saya adalah keputusan yang tepat, jarak yang lumayan menguras tenaga ditambah terik matahari yang mampu membuat tenggorokan hampir selalu tercekat, membuat kami harus terus menerus menyemprotkan air sejuk dari sprayer ke seluruh wajah dan mulut. Alhamdulillah, Allah memberi kami kekuatan menjejak di Masjidil Haram tepat pukul 14.50. Sayangnya, beberapa pintu menuju lokasi thawaf lantai dasar sudah ditutup, walhasil karena takut tertinggal rombongan, saya dan suami bertekad thawaf di lantai paling atas.

Pukul 15.10 kami baru memulai thawaf, walaupun agak terburu-buru dalam melangkah, kami berharap Allah tetap mendengar doa-doa yang terucap pada batin kami. Saat adzan Ashar berkumandang, masih ada 2 putaran yang belum kami selesaikan. Namun seusai shalat Ashar kami bergegas menyelesaikannya agar dapat berkumpul kembali dengan rombongan pukul 16.30.

Meski agak-agak Mission Impossible harus menyelesaikan sa’i dalam waktu 15 menit karena kami baru memulai menapak di Shafa pukul 16.30 namun kami bertekad tetap menyelesaikan sa’i walau tahu mungkin akan terlambat dan ada resiko ditinggal rombongan. Kami ingin segera menyelesaikan kewajiban ini agar plong dada ini.

Alhamdulillah, biidznillah ternyata karena kami tidak sempat lihat HP setiba di titik kumpul kami baru tahu bahwa waktu diperpanjang hingga 17.30. Ada sedikit terselip rasa sesal atas ketergesaan kami menyelesaikan thawaf dan sa’i namun kami hanya bisa memasrahkannya kepada Rabb semesta alam. Semoga seluruh amal ibadah kami mendapat ridha-Nya.

Seusai kumpul semua anggota rombongan, kami masih harus berjalan lagi menuju lokasi bus kurleb 1,5 – 2 km jaraknya, daan alhamdulillah.. setibanya di sana sudah ada bus menanti yang membawa kami ke Mina. Sesampainya di tenda rasanya legaaa dan ingin segera memijat kaki yang pegel-pegel setelah diajak berkelana hampir 22km seharian ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s