Hajj Journal: Day 23- Arafah, Tempat Tak Tertolaknya Do’a

Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]

Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling pokok. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji itu adalah Arafah. [HR. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i no. 3016 dan Ibnu Mâjah no. 3015 , dihukumi shahih oleh al-Albâni]

Maksud hadits ini adalah bahwa wukuf di Arafah merupakan tiang haji dan rukunnya yang terpenting. Barang siapa meninggalkannya, maka hajinya batal, dan barangsiapa melakukannya, maka telah aman hajinya.

Konon, saking pentingnya wukuf ini sebagai bagian dari Haji maka jamaah haji yang sakit di RS pun bergantian dibawa menggunakan ambulans untuk menjalankan wukuf di dalam mobil ambulans.

Keriuhan di tenda dan kamar mandi Mina sudah mulai terdengar sejak dini hari. Saya dan beberapa teman mencuri waktu untuk mandi dan bebersih diri sejak pukul 02.00 dilanjutkan witir dan tilawah, kemudian ngantuk lagi..😀

Setengah jam sebelum shubuh, kami bersiap menyusun shaf dan menunaikan shalat shubuh setelah adzan berkumandang. Alhamdulillah, masih ada waktu menunggu sebelum bus menjemput kami menuju Arafah. Jadilah Popmie menemani pagi kami sambil menyeduh teh hangat. Di maktab Mina ada dapur umum yang menyediakan air panas untuk hampir 4.500 penghuninya (saat tarwiyah penghuni baru sekitar 600an orang).

Sekitar pukul 06.30 diumumkan bahwa bus yang akan mengantar kami ke Arafah telah siap. Karena jumlah bus hanya 2 atau 3 sementara ada 300 lebih jamaah yang akan diangkut maka seperti biasa kami terbagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok yang diutamakan adalah jamaah berkursi roda, sakit, dan sepuh. Kelompok kedua yang diberangkatkan adalah jamaah wanita disusul oleh para jamaah pria yang sehat dan tidak sepuh.

Saya tiba lebih dulu di Arafah dibanding suami, di sini tak jauh beda, di tenda kami hanya boleh menempati tempat seukuran sajadah yang bisa kami tempati untuk tidur dan selonjor sesuai ukuran badan. Yah, kurang lebih panjang 2 meter dan lebar 0,75m.

Yang berbeda, karena di Arafah ini bukan hanya tempat berkumpul bagi mereka yang tarwiyah… Maka, bisa dipastikan betapa penuh sesaknya padang Arafah tersebut. Kamar mandi jauh lebih antri, walaupun jika bisa mengikuti polanya kita akan tahu kapan ritme di kamar mandi tidak terlalu penuh. Biasanya seusai adzan berkumandang mulai kosong, atau pilih antrian yang hanya berisi orang buang air kecil (ini diperlukan kepedean bertanya satu demi satu, tapi sangat membantu jika kita tidak ingin terjebak di antrian yang salah).

Bayangan awal bahwa ada kemungkinan kekurangan bahan makanan selama di Arafah terkikis saat kami dibagikan kotak sarapan berisi telur orak arik dan tumis yang sedaaap sekali (menurut saya ini menu terenak selama perjalanan haji), dilanjutkan dengan sekotak bekal berisi mug kecil, teh, kopi, gula, krimer, saus sachet, ditambah lagi dengan aneka buah-buahan, juga popmie😉 Nah, kemungkinan jatah kami langsung bertubi-tubi karena termasuk jatah makan semalam saat kami tarwiyah di Mina, jamaah yang non-tarwiyah memang sudah diberangkatkan terlebih dahulu demi menghindari kepadatan pada tanggal 9 dzulhijah.

Hingga menjelang Dzuhur, kami memperbanyak dzikir sambil beristirahat, karena prosesi khutbah Arafah, sholat dhuhur dan ashar jama’ serta wukuf akan berlangsung ba’da dzuhur. Tibalah waktu adzan Dzuhur, khutbah pun disampaikan oleh Ust Ali Fikri selaku pembimbing kami. Kami diingatkan betapa kecil sesungguhnya manusia dibandingkan dengan alam semesta, betapa seharusnya porsi ibadah yang kita lakukan masih jauh dari yang sepatutnya, dan betapa banyak dosa-dosa yang telah dilakukan.

Jangan terlalu percaya diri berpikir bahwa kita bisa haji pada tahun ini karena kita termasuk orang sholih. Ja gan-jangan kita termasuk yang dipanggil Allah ke rumah-Nya karena kita termasuk insan pendosa yang diberi kesempatan mencuci bersih noda dosa itu.. Maka, jangan sia-siakan kesempatan tersebut. Beribadahlah semaksimal yang kita bisa, memohon ampunan atas semua dosa yang pernah dilakukan, tak lupa meminta atas semua asa dan harapan juga mimpi yang kita punya.

Selepas itu, kami menyempatkan diri makan siang kemudian dilanjutkan muhasabah yang membuat air mata mengucur deras.. kami saling bermaafan antara jamaah dan terakhir menemui pasangan masing-masing atau orang tua yang pergi haji bersama.

Saat itulah, saya merasakan momen terindah sepanjang perjalanan pernikahan kami.. Detik itu, rasanya semua beban terlepas.. Kami seperti hadir menjadi pasangan baru, bertekad menjejak langkah baru, menjadi insan yang lebih baik, berusaha menjadi suami dengan qawwamah dan keteladanan terbaik, berupaya menjadi istri yang shalihah, qanitat, hafidzat dan qurrata a’yun.. Berjuang menjadi orang tua yang mampu mengemban amanah untuk mengantarkan anak-anak kami menjadi pemuda Islam dengan pemahaman agama yang Faqih, juga kecerdasan intelektual dan emosional yang tinggi, serta mampu menjadi pemimpin umat beriman.

Seusai adzan Ashar wukuf di luar tenda pun dimulai, padang Arafah dipenuhi lautan jama’ah yang menghampar tikar sambil berdo’a, bermunajat kepada Ilahi hingga adzan Maghrib menjelang tanda 10 Dzulhijah sudah siap datang.

Ya Allah Ya Rabb… kabulkan permohonan do’a kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s