Hajj Journal: Day 22- Memaknai Tarwiyah sesuai Sunnah

Bismillahirrahmanirrahiim.. Siang ini kami akan memulai sunnah tarwiyah. Sebagaimana saya beberapa waktu lalu, mungkin banyak juga di antara kita belum tahu apa makna tarwiyah.

Tarwiyyah (تروية) dalam bahasa Arab berasal dari Fi’il (kata kerja) Rowa-yarwi (روى) yang berarti (1). menceritakan, meriwayatkan, mengisahkan, menarasikan; (2). memancarkan, melewatkan, mengantarkan; (3). mengairi, memberi minum

Dalam kitab “Al-Mughni”, Imam Ibnu Qudamah menjelaskan 2 sebab mengapa tanggal 8 Dzulhijjah disebut Hari Tarwiyyah. 

Pertama: hari tersebut, jama’ah haji setelah berihrom, mereka menuju Mina untuk bermalam dan keesokan harinya mereka menuju Arofah. Selama berada di Mina, para haji menyiapkan air sebagai bekal untuk berwukuf di Arofah. Menyiapkan air diistilahkan dengan istilah Yatarowwauna (يتروون) mempunyai asal kata yang sama dengan Tarwiyyah. 

Kedua: Di malam hari Tarwiyah itu Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi pertama kali dari Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS, sehingga beliau “bertanya-tanya” kepada dirinya apakah itu mimpi dari Allah atau syaithon? “Bertanya-tanya” tersebut diistilahkan dengan bahasa “Yurowwi” (يروي) sehingga dinamakan hari tarwiyyah. Ketika mimpi itu datang untuk kedua kalinya di malam hari Arofah, Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi tersebut adalah dari Allah swt. Yakin berarti pengetahuan, yang dalam bahasa Arab disebut dengan kata “Arofa” (عرف), sehingga hari tersebut dinamakan hari Arofah (عرفة).  (Disarikan dari tulisan Bapak Zarkasih di Kompasiana).

Apa saja aktifitas yang kami lakukan selepas dhuhur di hari tarwiyyah tersebut? Masih sama seperti yang saya tuliskan di hari sebelumnya yaitu sholat 5 waktu tepat waktu dengan cara di qashar, tilawah, berdoa dan lain-lain. Yang juga harus dijaga adalah keadaan ihram yang sudah kita niatkan sejak keluar hotel untuk menghindari perbuatan dan kata-kata rafats, fasik dan jidal.

Sebelum dhuhur, KBIH kami mengajak survei menuju jamarat kepada seluruh jama’ah kecuali yang memang udzur karena keterbatasan fisik dan sakit parah. Jarak dari tenda hingga lokasi lempar jumrah kurang lebih 3,5km ditambah jalan berputar menuju jalan keluar maka total jarak pulang pergi kurang lebih 8km.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s