Hajj Journal: Day 17-Duka di Tanah Suci

Pagi itu, semua berjalan seperti biasa, suami menjemput saya untuk qiyamullail di masjidil haram sekitar pukul 3. Kami menunggu hingga syuruq dan melangkah pulang kembali ke hotel. Di hotel, karena hidangan bubur kacang ijo semangkuk kecil beserta dua potong kecil roti tawar belum cukup meredam suara keroncong di perut, maka kamipun kembali melangkah ke sekitar hotel. Sambil mencari sarapan tambahan dan belanja beberapa list barang untuk ke Armina beberapa hari làgi, kamipun sampai di Bin Dawood di dekat area jamarat. Untuk ke sana kami naik taksi borongan yang perlh ditawar, ada yang pasang tarif 20riyal, kami baru deal dengan harga 10riyal karena jaraknya dekat sekali. Alhamdulillah, saat turun supirnya hanya meminta 5riyal, mungkin kasihan dengan wajah kami.

Di Bin Dawood fokus kami adalah membeli roti favorit sebagai cadangan makanan selama Armina, khawatir ada keterlambatan konsumsi atau kendala teknis lainnya. Saat menimbang jeruk Afrika, saya melihat raut wajah suami berubah saat memegang handphone-nya. Saya sejak dari hotel belum sempat membuka hp sama sekali. Seusai menimbang saya pun mendekat, suami saya berbisik, Bapak meninggal dunia.

Lemas rasanya tulang dan sendi kami, ini kali kedua kami mendengar berita duka dari keluarga terdekat di tengah safar. Jika dulu saat di Penang, mendengar kabar meninggalnya Ibu saya di Madinah saya masih bisa segera pulang, namun kali ini tidak.

Kami hanya bisa melihat prosesi pemakaman Bapak melalui foto-foto yang dikirim oleh saudara di sana. Sungguh, nasehat Bapak menjelang kami berangkat saat pamitan di kamar beliau masih jelas terekam. Beliau bahkan sempat menyisipkan pesan agar tidak usah bertengkar di tanah haram, jika yang satu sedang emosi pasangannya cukup diam menenangkan. Sejak awal menikah, Bapak tak pernah absen menyisipkan nasehat saat mengobrol dengan saya di meja makan, di ruang keluarga atau teras rumah Pare. Matur nuwun, nasehatnya Pak. Semoga kami bisa meneladani Bapak Ibuk dalam kecintaan pada ilmu, kedermawanan pada sesama, kesederhanaan cinta pada pasangan, menjalani hidup dengan bersahaja, dan banyak lagi teladan lainnya. Insya Allah kemudahan Bapak menjemput maut seperti Ibuk 2 tahun 4 bulan yang lalu adalah isyarat husnul khatimah.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.. Ya Allah berikanlah kelapangan kubur untuk beliau dan tempat terbaik di jannah-Mu, ijinkan kami menjadi jariyah bagi Bapak atas teladannya kepada kami anak cucunya sehingga kami bisa melanjutkan amal baik yang senantiasa dicontohkan dan diingatkan oleh beliau saat memberi nasehat. Aamiin ya rabbal alamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s