Hajj Journal: Day 16- Mahalnya Sebuah Ketaatan dan Pemahaman Makna Dzolim

Kedzoliman bertajuk asap rokok bukan lagi rahasia saat berada di negeri tercinta.. Di bandara, stasiun, terminal, pertokoan, hotel, sekolah, rumah sakit, toilet umum, sebut saja semua fasilitas publik yang ada, insya Allah hampir selalu kita temui asap rokok atau jejaknya di sana.

Di tanah suci, saya sungguh berharap kedzoliman itu setidaknya pergi dulu sejenak agar asap yang terhirup saat di embarkasi tidak lagi meracuni udara di tanah haram. Mungkin harapan bahwa para jamaah haji yang hendak berlarian mengejar pahala dan membuang setiap kesempatan menabung dosa terlalu tinggi membumbung dalam diri saya. Asab beracun itu kembali harus kami hirup di lobi hotel, di tempat mencuci, tepat di depan pintu hotel, lorong-lorong kamar, tangga darurat dan bahkan berbagai tempat di Armina.

Bagi yang muda dan sehat saja, asap tersebut sudah cukup menyesakkan. Lantas bagaimana bisa mereka tetap khusyuk merokok saat para lansia, jamaah berkursi roda berjalan melintasi mereka.

Yang lebih menyedihkan lagi, larangan No Smoking tampaknya hanya sekedar hiasan lift dan dinding bagi para pemuja “Tuhan 9 Senti” tersebut. Petugas hingga koordinator lapangan urusan haji di lapangan pun angkat tabgan seolah tak peduli pada polusi asap beracun di sekitar kami. Tak terhitung berapa kali alarm tanda kebakaran berbunyi di hotel kami yang awalnya membuat panik setengah mati hingga nenek dan kakek usia di atas 80 tahun pun bergegas menuruni tangga darurat dari lantai 18 demi berusaha menyelamatkan diri dari “api” disangka sudah berkobar karena alarm berbunyi demikian nyaringnya.

Sedemikian terkunci kah hati nurani mereka? Bahkan hingga 2 jam berselang alarm masih rutin berbunyi, tampaknya ritual bersama sang “tuhan 9 senti” masih khusyuk dilakukan. Sejak adzan maghrib berkumandang pukul 18.30 hingga 21.00 saya turun untuk makan malam bersama suami terlihat banyak sekali jamaah tua muda pria wanita duduk di lantai lobi hotel. Saya langsung mengira bahwa mereka adalah “korban” dari bunyi alarm sehingga tidak berani tidur di kamar. Namun, belakangan justru ternyata faktanya mereka adalah korban yang berhasil diajak oleh para perokok handal di hotel kami untuk demo di lobi agar walaupun ada asap rokok alarn harus dimatikan agar mereka bisa nyaman merokok di kamar masing-masing.

Sempat terlontar oleh pihak hotel betapa menyesal mereka menerima kerjasama menjadi salah satu penyedia akomodasi bagi jamaah Indonesia yang ternyata luar biasa keras kepala untuk diajak bekerjasama merokok di luar hotel pada tempat yang telah disediakan. Saat alarm tak juga dimatikan, perokok tersebut justru sengaja menguji lebih dalam lagi kesabaran pihak manajemen hotel dengan menyulut rokok di hadapan receptionist. Allahu ya Rahmaan.. bukakan hati mereka untuk setidaknya berjuang untuk kemabruran haji mereka yang dengannya mereka akan mencoba mengubur dalam perbuatan dzalim pada orang lain.

Mungkin mereka tidak sadar bahwa jika alarm tersebut benar dimatikan sehingga mereka bisa nyaman merokok dan memasak aneka menu (walaupun sudah dilarang memasak) namun saat na’udzubillahi min dzalik kebakaran benar terjadi tidak ada satupun dari 5.768 tamu hotel yang sadar hingga semua menjadi korban, bagaimana pertanggungjawaban mereka kelak di hadapan Ilahi Rabbi?

Bahkan alat pemadam kebakaran di tangga darurat pun ada yang iseng mencabut dan merusak, hingga tali jemuran pun berseliweran di tengah tangga darurat yang saya lalui saat menuruninya dari lantai 12.

Mungkin ini yang layak disebut sebagai mahalnya sebuah ketaatan dan PR untuk memahamkan makna dzalim kepada saudara-saudara kita.

Jika ada pejabat berwenang atau rekan yang bisa menyampaikan pesan ini, semoga hal ini menjadi salah satu muatan materi manasik bagi calon jamaah haji di tahun – tahun berikutnya. Mereka boleh, bebas merokok di tempat yang sudah ditentukan,  di tempat yang asapnya hanya dihirup oleh mereka sendiri dan tidak membahayakan orang lain. Petugas harus lebih tegas dan sanksi atau denda harus ditegakkan karena mungkin hanya itu yang bisa ditaati oleh orang-orang semacam itu. Dendanya 1 juta riyal atau hampir 4 milyar rupiah dan sanksinya didoakan oleh semua jamaah yang menjadi korban agar ibadahnya tertolak karena kedzaliman yang dilakukan. Wallahu ta’ala bish shawwaab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s