Hajj Journal: Day 13- Cerita tentang Sabar dan Persaudaraan 

Ada dua hal yang demikian diuji selama perjalanan ibadah haji ini menurut saya, pertama adalah sikap sabar sedangkan yang kedua adalah rasa ikhlas dan persaudaraan.

Banyaaaak sekali ujian kesabaran sepanjang tahap demi tahap perjalanan ibadah rukun Islam ke-5 ini, dari tahap persiapan di tanah air hingga akhir masa pelaksanaan nanti. Utamanya adalah masa-masa di Arafah, Muzdalifah dan Mina (dikenal dengan singkatan ARMINA).

Masa Persiapan

Dari sejak menabung awal dana untuk tabungan haji, kita mulai memupuk kesabaran menekan pengeluaran untuk pos lain demi segera memenuhi syarat setoran awal sebesar 25juta rupiah untuk mendapatkan nomer porsi. Setelahnya, sambil sabar menanti panggilan sesuai nomor porsi kita, kita tetap diajak bersabar menabung kembali untuk pelunasan dana haji dan kebutuhan dana lainnya selama persiapan. Khusus untuk kami yang sedang bertugas di luar pulau, dana tambahan tersebut tidak bisa dielakkan dan jumlahnya cukup membuat kami mengetatkan ikat pinggang.

Hal tersebut karena banyak birokrasi dari aspek kesehatan dan prosedural yang kadang belum bisa digantikan dengan memanfaatkan alternatif kemajuan teknologi yang ada. Sebenarnya ada opsi mutasi, sayangnya saat kami tanyakan ke Kemenag di Kutai Timur, staf yang menangani menyatakan hal tersebut sulit dilakukan bahkan bisa membuat saya harus mengantri ulang selama 25 tahun di barisan nomor porsi haji Kutai Timur. Walhasil, kami harus sabar beberapa kali mondar mandir Sangatta – Depok berlima (maklum saya, suami dan 3 anak kami yang masih usia 7, 4 dan 1 tahun tentu harus mengikuti ke mana kami pergi).

Selain manasik perdana sekaligus memastikan bahwa kami berangkat tahun 2016, kami berdua wajib hadir pada sesi pemeriksaan kesehatan 1, pemeriksaan kesehatan 2 dan tes kebugaran. Sayangnya jadwal untuk kegiatan tersebut seringkali berubah-ubah sehingga kami harus memastikan beberapa kali sebelum memesan tiket Sangatta-BPN, BPN-Jakarta untuk 5 orang😀

Cerita lebih lengkap tentang perjuangan kami berlima tersebut akan saya post di cerita terpisah. Termasuk bagaimana mengantri pembuatan dan perpanjangan paspor, bolak balik memenuhi rujukan dari puskesmas yang kadang “menggemaskan”.

Nah, di sisi lain, kami juga merasakan besarnya pertolongan dari Allah melalui saudara-saudara kami yang demikian ikhlas membantu kami melalui masa-masa persiapan tersebut. Dari tumpangan tempat menginap saat mondar mandir ke Depok karena rumah kami sudah disewakan, informasi dari teman lama yang ternyata 1 KBIH dengan kami, bantuan antar jemput dokumen, barang perlengkapan haji oleh saudara-saudara kami di seputar JABODETABEK, Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Masa Pelaksanaan

Sepanjang masa pelaksanaan ibadah haji kurang lebih 42 hari termasuk masa menunggu di embarkasi sebelum berangkat dan transit kembali di asrama haji sepulangnya dari tanah suci, tentunya momen uji kesabaran dan keikhlasan bersaudara memiliki ritme yang jauh lebih tinggi. Dari cerita-cerita saya sebelumnya saat kami di embarkasi, momen ibadah di Masjid Nabawi, Masjidil Haram dan saat ziarah di masjid lainnya selalu ada sisipan uji kesabaran yang ada. Bagaimana kita harus tetap tersenyum sambil mengingatkan saudara kita yang “nyelip tanpa rasa bersalah” di depan shaf kita sehingga kkta tidak bisa sujud dengan sempurna, tetap tersenyum sambil mengingatkan bahwa antrian toilet yang ada seharusnya berlaku tertib, sabar saat tersenggol kanan kiri di antrian bus, perjalanan menuju dan pulang dari masjid.

Berbeda lagi dengan cerita di hotel yang kadang menuntut kita memiliki ekstra kesabaran saat sandal kita dipakai orang lain di masjid hotel, saat sedang menggunakan mesin cuci dan tiba-tiba ada lho orang yang memasukkan bajunya ke tabung mesin cuci yang masih kita gunakan😦, sabar menunggu konsumsi yang datang beberapa kali terlambat, kamar mandi yang berulang kali berusaha diserobot orang, perilaku kurang sopan di lift, dan lain-lain.

Sebagian kecil orang masih bisa asertif saat mempertahankan haknya, karena kadang kita harus memilah mana yang memang bagian dari sabar dan mana yang bagian mempertahankan hak dengan sikap asertif tanpa debat kusir.

Saat mesin cuci yang saya pakai mulai diserobot sepasang suami istri yang kurang sabar mengantri, awalnya saya masih tegas mengatakan “Maaf ya Pak, saya masih mengeringkan pakaian saya” namun saat beliau berdua tetap keukeuh memasukkan bajunya bahkan mulai menyalakan keran yang membuat baju yang sedang saya keringkan menjadi basah kembali, saya putuskan bahwa mereka memang belum “dewasa” sehingga percuma saja saya ajak bicara baik-baik. Saat itu, saya mendoakan dalam hati agar mereka diberi balasan atas kedzoliman yang mereka lakukan dan menyampaikan kepada mereka bahwa yang mereka lakukan itu tidak baik sambil membereskan baju saya ke tas kering. Biasanya ini terjadi pada wajah polos (baca muda dan sendirian; mayoritas jamaah haji Indonesia sudah berusia di atas 40 tahun. Setelahnya saya selalu mencuci ditemani suami. Apakah ada jaminan aman, tidak juga ternyata pernah kejadian agar cepat kami pakai 2 mesin yang berbeda dan keduanya dicoba diserobot oleh 2 oknum lagi), padahal saya mencuci tidak terlalu lama dibanding beberapa mesin cuci yang sudah lebih dulu dipakai sebelum saya datang dan masih khusyu’ dipakai hingga saya keluar dari mesin cuci.

Dalam kasus lainnya, saat konsumis datang begitu terlambat ditambah antrian prasmanan yang mengular setelah makanan datang di siang hari pukul 14.30 dan malam hari 21.30, kita memiliki beberapa opsi sikap. Pertama, mencari alternatif makanan lain sambil mengusulkan melalui wa pribadi kepada tim rombongan untuk memperbaiki mekanisme pembagian konsumsi atau kedua, hanya ngomel tak karuan tanpa solusi.

Tentang keihklasan berbeda lagi, beberapa dari jama’ah KBIH kami cukup intens membantu jama’ah lain tanpa pamrih. Dari membantu mengangkat koper dan tas bagi jamaah wanita dan laki-laki sepuh dan mengantar ke kamar masing-masing, distribusi makanan, mengantar ke masjid dan lainnya. Sayangnya, masih ada beberapa jama’ah yang dibantu tersebut justru mempersepsikan bantuan itu sebagai layanan yang seharusnya mereka dapatkan sehingga pejuang yang ikhlas membantu tersebut kerap kali justru harus mengelus dada saat mereka dianggap dan diperlakukan seperti “jongos” oleh jama’ah lainnya.

Terakhir, di masa pasca haji pastinya akan jauh lebih banyak scene – scene uji kesabaran dan keikhlasan yang kita akan lalui. Dalam hal ini, prinsip Rasulullah bahwa selama yang dihina atau didzolimi adalah diri kita pribadi maka bersabar adalah opsi terbaik. Sementara jika sudah menyangkut agama, maka sedapat mungkin kita luruskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s