Hajj Journal: Day 11- Ziarah Gua Tsur, Jabal Rahmah, dan ArMiNa

QL dan shubuh hari ini kami tunaikan di Masjid hotel karena kami harus siap lebih awal di lobi hotel untuk berangkat ziarah ke beberapa tempat bersejarah di kota Mekkah.

Mulai hari ini KBIH kami menyediakan sarapan pagi di lantai Mezzanine hotel. Menu soto dan telur dadar mampu sedikit menghapuskan rasa kangen menu rumahan khas Indonesia.

Tepat pukul 07.30 bus kami meluncur ke arah Gua Tsur. Gua Tsur termasuk tempat yang sangat bersejarah pada perjalanan hijrah Rasulullah. Di gua iulah Rasulullah bersama Abu Bakar bersembunyi beberapa hari untuk mengecoh perhatian kaum kafir Quraisy. Rute menuju Madinah seharusnya tidak melewati gua tersebut, namun Rasulullah sengaja memilih strategi tersebut untuk mengelabui kaum kafir.

Beberapa hikmah yang disampaikan Bu Ade pada sejarah hijrahnya Rasulullah tersebut antara lain:

  • Rasulullah sedemikian rapi merencanakan perjalanan hijrahnya. Dari memilih teman seperjalanan, meminta Ali tidur di ranjangnya, Abu Bakar mengkondisikan keluarganya, mengatur logistik selama masa menunggu, dan masih banyak lagi lainnya.
  • Tentunya hal ini masih sangat relevan dengan kondisi sekarang, saat seorang suami memutuskan pindah kantor, rumah atau lainnya maka salah satu hal terpenting adalah bagaimana mengkondisikan keluarganya terutama keluarga inti yaitu anak dan istri.
  • Abu Bakar demikian rapi mengkondisikan putra putrinya, hingga ketika Pemimpin Kaum Kafir saat itu tidak menemukan Rasulullah di rumahnya mereka bergegas ke rumah Abu Bakar menanyai Aisyah hingga ditempeleng karena demikian teguh menjaga amanah untuk tidak menyampaikan arah hijrah Rasulullah dan Ayahnya
  • Asma’ yang kala itu sedang mengandung 7 bulan tak kalah menginspirasi dengan rutin mengirim makanan ke gua Tsur yang pernah dicoba salah satu pembimbing haji kami mendaki ke sana membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Dua putra Abu Bakar lainnya bertugas mengantar susu sambil menggembala domba dan adapula yang bertugas menghapus jejak.

Jabal Rahmah

Tidak ada sunnah yang menyebutkan tentang amalan ziarah ke lokasi yang dipercaya sebagai tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah terpisah demikian lama, namun demikian lokasi ini senantiasa dipadati jamaah, bahkan banyak di antara mereka menuliskan namanya di batu-batu di sana sambil berdoa kisah cintanya akan seindah kisah Adam dan Hawa.

Selanjutnya kami melewati Arafah, Mina Musdalifah, dan Gua Hira walau tidak turun.

Belajar dari pengalaman semalam, sianh itu saya dan suami memutuskan datang lebih awal sebelum Ashar namun akan pulang ba’da Maghrib.

Alhamdulillah, keputusan tersebut cukup tepat. Dengan mengambil posisi sholat Maghrib di arah menuju terminal Bus kami bisa segera meluncur ke bus setelah menunaikan shalat jenazah dan Ba’diyah.

Sepulang dari Haram, kami mencuci baju di lantai 5 yang jauh lebih sepi dibanding saat mencuci siang hari sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s