Hajj Journal: Day 10- Umroh dan Kesakralan Masjidil Haram

Melanjutkan cerita dini hari setibanya kami di kota Makkah, setelah tiba di kamar pukul 02.00 kami istirahat dulu hingga shubuh berjamaah di masjid hotel yang terletak di lantai Prayer Room. Setelah makan roti atau sarapan seadanya jam 6 pagi kami berkumpul di lobi untuk bersama menuju Masjidil Haram menunaikan umrah.

Ihram

Saat berihram sebenarnya dalam keadaan tersebutlah harusnya kita senantiasa bersikap. Menjauhi perkataan yang tidak perlu, merasa setara satu dengan lainnya (terutama untuk laki-laki yang semuanya hanya menggunakan 2 helai kain berwarna putih), menahan diri dari segala perbuatan dosa, makruh dan semua yang tidak diridhai Allah.

Ka’bah

Bangunan sederhana berbentuk kubus itu nyatanya menimbulkan getaran luar biasa. Pada bangunan tersebut dapat saya rasakan betapa kuat keimanan Nabi Ibrahim saat dulu memulai membangunnya, betapa terjal perjuangan Rasulullah SAW dulu saat harus membersihkan berhala dari dalam ka’bah tersebut. Kiblat yang disebut sebagai Baitullah itu memang memiliki pesona luar biasa. Siapapun dia, saya yakin akan bergetar luar biasa saat pertama kali berhadapan dengan ka’bah rasanya Allah menjadi jutaan kali lebih dekat. Lisan rasanya tidak ingin berhenti memohon ampun, mengucap syukur dan meminta pertolongan hanya kepada Allah atas setiap hajat yang dimiliki di dunia dan akhirat kelak.

Thawaf

Lebih dari sekedar berjalan mengitari ka’bah sebanyak 7 kali, bagi saya pribadi thawaf memiliki makna mendalam bahwa selalu ada awal kehidupan yang dimulai dengan mengucap Bismillahi Allahuakbar, setiap putaran memiliki makna dan tantangannya sendiri, do’a yang berulang atau berbeda, namun tetap diakhiri dengan do’a sapu jagat pengharapan bahwa kebaikan di akhirat dua kali lipat dibanding dunia (berikanlah kebaikan di duni diminta 1 kali, dan dua lainnya terkait kebaikan di akhirat serta dijauhkan dari api neraka).

Thawaf berakhir dengan menunaikan sholat 2 raka’at di belakang maqam Ibrahim (jika memungkinkan) dan minum air zam zam sambil berdoa.

Sa’i

Medan sa’i yang kami lalui saat ini jauh lebih nyaman dibandingkan dengan yang dilalui Hajar saat mencoba mencari sesuatu untuk dimakan/diminum oleh anaknya Ismail.

Sungguh saya merasakan medan yang ada saat ini walaupun sudah dingin dengan fasilitas AC, lantai yang lembut dari marmer pilihan, teman sa’i yang sangat dicintai (suami), nyatanya masih membuat saya kelelahan. Lalu bagaimana dulu Hajar demikian kuat berlari – lari kecil antara 2 bukit pada kondisi padang pasir yang kemungkinan panas, tanah yang dipijak jauh dari rata, sendirian tanpa ada teman. Wajar jika wanita yang sedang sa’i akan meneteskan airmatanya membayangkan perjuangan Hajar saat itu. Dari mana kekuatan itu muncul? Saya yakin hanya karena iman kepada Allah dan cintanya kepada putranya lah yang membuat Hajar demikian teguh berusaha dan berdo’a hingga sampai saat ini kita masih bisa meminum air yang sama dengan yang saat itu memercik di kaki Ismail.

Alhamdulillah ya Rabb.. Engkau masih demikian baik memberikan kesempatan pada hamba menziarahi kembali rumah-Mu, merasakan nikmatnya beribadah di tanah Haram – Mu🙂

Hasbunallah wa ni’mal wakiil..

Disunnahkan untuk menggunduli rambut bagi jamaah laki-laki agar didoakan 3 kali oleh Rasulullah SAW. Barber shop ada di sekitar Marwa ada juga di sekitar hotel atau sekitat terminal Mahbas Jin dengan tarif yang hampir sama yaitu 10SR.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s