Hajj Journal: Day4 – Kajian tentang Iman dan Perburuan Oleh-Oleh Part 1

Setelah ritual shubuh hingga syuruq selesai, pagi ini saya dan suami berniat silaturahim ke hotel salah satu dari adik almarhum Mbah Kung saya, namanya Mbah Wachid, beliau membina 1 rombongan haji asal Surabaya dan tinggal di Hotel Raudhah Mubarak jaraknya kurang lebih 400 meter saja dari hotel kami.

Setelah cukup silaturahim part 1 ini, kami pun bergegas pamit untuk mengikuti Kajian dari KBIH kami di lantai 2 hotel.

Menurut saya kajian yang kita ikuti selama haji sangat penting untuk merecharge ilmu dan semangat ibadah. Sebagai manusia biasa tentunya iman yang kadang naik dan turun adalah suatu keniscayaan, oleh karenanya saat stagnan atau turun diperlukan booster penambah semangat salah satunya melalui tausiyah yang kami dengar pagi itu.

Ust Ali Fikri mengingatkan bahwa satu-satunya sebab dan tujuan kita menunaikan ibadah haji adalah keimanan pada Allah SWT. Iman itu sendiri tidak bisa hanya disandarkan pada perkataan kita namun juga harus dibenarkan dengan hati dan aksi nyata. Ibadah yang kita kejar bukan melulu tentang sholat di dalam Masjid Nabawi dengan datang jauh lebih awal tanpa mempedulikan saudara kita yang memerlukan bantuan. Kebetulan di rombongan kami juga ada seorang ibu dan banyak nenek sepuh yang membutuhkan bantuan untuk bisa mencapai masjid di waktu sholat. Semua perbuatan baik yang dilakukan di tanah haram atau di manapun juga bentuk ibadah yang kadang tidak disadari dan dipahami.

Seusai kajian, kami istirahat di kamar masing-masing dan ternyata jatah makan yang biasanya baru datang menjelang jam 14 siang itu datang lebih awal yaitu jam 11. Alhamdulillah.

Karena masih dalam kondisi haid saya lanjutkan istirahat, mencuci, setrika sampai ba’da Ashar. Seusai suami sholat Ashar kami janjian di pintu 36 dan memulai perburuan oleh-oleh tahap 1 kami.

Selama 2 jam berputar-putar di 1 lantai Taiba Building yang bentuknya mirip dengan ITC di Indonesia kami lebih banyak survei harga dan baru deal model serta harga untuk gamis anak laki-laki juga surban dan selai keju titipan Mbak Hana. Menjelang maghrib kami bergegas menuju Nabawi, suami sholat dan saya bertekad kembali ke hotel sendirian karena banyaknya tentengan belanjaan berisi 9 gamis, 15 surban dan 3 kaleng besar kraft tidak mungkin dibawa masuk masjid.

Catatan:

  • Tidak seperti apotik atau toko farmasi yang juga banyak berjejer dan menawarkan fixed price, untuk barang seperti baju, emas, jam tangan tawar menawar mutlak dibutuhkan.
  • Jika ingin membeli barang dalam jumlah banyak atau 1 pcs saja namun harganya tergolong premium sebaiknya survei harga dulu ke beberapa tempat
  • Harga gamis anak laki-laki dengan kain premium berkisar antara 30-50SR
  • Surban bisa sangat variatif harganya usahakan cari yang bukan Made in China karena kualitasnya yang tentu saja sebanding dengan harga murah yang ditawarkan. Kami membeli surban produk Kashmir dengan range harga 15-150SR
  • Di Masjid Nabawi juga ada kajian rutin yang diisi oleh Ustadz Indonesia seperti Ust Firanda dan Abdullah Roy ba’da Ashar dan ba’da Isya jika tidak salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s