​Hajjneymoon: Memaknai Ibadah dalam Kebersamaan

Sejak beberapa bulan sebelum berangkat, saya  dan suami sudah sepakat untuk memaknai perjalanan haji nanti sebagai rihlah ibadah. Dijalani dengan sabar, ikhlas, santai, jangan terlalu tegang, juga semangat kebersamaan. Saat yang satu mungkin emosi yang lainnya diam, saat tidak mampu berkata dengan santun sebaiknya diam, saat terlanjur salah namun gengsi untuk minta maaf pun baiknya diam dulu, sampai mampu menyampaikan dengan nada yang baik dan mesra.

Saya merasa seperti bernostalgia ke masa-masa awal pernikahan saat setiap langkah menjejak kami bergandengan sebelum sibuk dengan momongan yang terus bertambah sehingga setiap kali jalan-jalan kami punya gendongan masing-masing.😀
Semua momen tersebut menyenangkan baik saat hanya berdua atau ketika ramai berlima.

photogrid_1474701155463

Selama haji, couple time yang biasanya minim sekali kami miliki menjadi bertambah eksponensial. Hampir setiap saat intens berkirim WA (ya iyalahh orang selalu gak sekamar :D), saling telepon untuk janjian di pintu mana, saling menawarkan mau nyoba cemilan apa, menawarkan butuh bantuan cuci mencuci atau tidak, membawakan air zam-zam saat istri sedang period, dan lain-lain ;) Salah satu yang jarang terjadi juga adalah foto berdua.. :p

Bergandengan tangan yang biasanya sulit dilakukan karena kalau di tanah air, biasanya suami gandeng Mas dan bawa tentengan sementara saya gendong adek sambil gandeng kakak. Selama haji, tentunya bergandengan ala pengantin baru jadi mutlak dilakukan, yah walaupun ada beberapa pasangan yang mungkin agak jaim, kalau kamitipe oportunis yang aji mumpung lagi absen trio bocils.. yah dimanfaatkan momen couple time ini.

Kesempatan bercengkrama panjang lebar pun sangat terbuka.. Bisa saat perjalanan ke Masjidil Haram saat di bus dan menunggu di terminal, saat menunggu waktu makan, di sela-sela tilawah saat i’tikaf di masjid, saat berbelanja kebutuhan harian, ahhh banyaak sekali Allah bukakan kesempatan, alhamdulillah… Kami jadi sempat kembali merencanakan apa target keluarga kami berikutnya, jadi sempat saling belajar dari apa yang kami baca dan pahami, jadi lebih memahami satu sama lain, fabiayyi ala irabbikuma tukadzdzibaan…

Rasanya jamuan Allah untuk ibadah di tanah haram-Nya menjadi lebih lengkap dengan suasana Hajjneymoon yang kami rasakan. Beberapa hari sekali kami berdua menelepon anak2 atau video call untuk bertukar kabar dan cerita.

Saya teringat pada cerita seorang kawan, bahwa saat haji dengan pasangan, ada dua kemungkinan yang terjadi, bertambah dekat atau bertambah sering frekuensi bertengkarnya. Salah satu nasehat Bapak yang diberikan pada kami sebelum berangkat juga terkait hal ini: kalau yang satu marah maka satunya harus diam, jangan ketika yang satu marah malah pasangannya ikut marah. Persoalannya tidak akan selesai.

Maka, mumpung ada kesempatan bermesraan kembali berdua selama perjalanan haji, pergunakan seoptimal mungkin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s