Hajj Journal: Day 2 – Raudhah, Bakso si Doel dan Mencarikan Hotel Nenek yang Tersesat

Pagi ini kami berlima terbangun dalam kondisi yang jauh lebih segar.. Pertama karena kami sadar saat ini sedang berada di Kota Nabi, kedua alhamdulillah tidur sudah cukup, ketiga lega karena sudah nyicil mencuci baju😀 (yang terakhir ini khas sekali layaknya emak2, saya bersyukur sekamar dengan 4 orang ibu muda yang cantik, sholehah, cerdas mandiri, baik hati dan tentu saja tidak sombong).

Cerita tentang teman-teman sekamar saya, akan saya post di bagian lain Hajj Journal ini.

           Foto dengan 4 teman sekamar di Madinah

Semalam kami sudah diinfokan untuk berkumpul di lobby hotel pukul 07.30WAS supaya bisa berangkat bersama ke Raudhah. Di lobby sudah disiapkan tim pemandu untuk ikhwan dan akhwat, di bagian akhwat kami ditemani oleh 3 orang muqimat (akhwat Indonesia yang tinggal di Saudi). Kamipun berjalan bersama menuju pelataran masjid Nabawi, di sana pemandu menjelaskan keutamaan Raudhah, apa saja yang ada di dalamnya dan proses memasukinya (untuk akhwat diharapkan membawa barang seringkas mungkin, no ransel, no rempong, karena suasana berdesakannya akan cukup parah).

Sekitar pukul 08.00 rombongan akhwat yang dibagi menjadi 3 kelompok memasuki Masjid, saya dan 6 akhwat lainnya yang kebetulan sedang berhalangan memutuskan berkeliling di sekitar masjid Nabawi mumpung ada ustadz dan ustadzah pembina. Kami diajak mencoba Bakso Karawang si Doel yang konon sangat tersohor di Mekkah dan Madinah. Lokasinya berada di lantai 2 gedung dekat Dar et Taqwa samping pintu utama Masjid Nabawi. Di sekitar lokasi tersebut juga banyak petunjuk arah menuju Warung Bakso itu.

Tak hanya bakso, warung si Doel menyediakan prasmanan nasi dan aneka lauk khas tanah air🙂 bahkan di pagi hari tersedia juga bubur kacang hijau, aneka gorengan donat, aneka minuman hangat dan dingin bahkan hingga beberapa pernik oleh-oleh dan kartu perdana mobily atau zain. Walau keempukan daging baksonya belum semantap bakso ala Gg Dayung yang biasa dipesenin Mbak Windy, tapi lumayaan banget mengobati rasa rindu masakan khas tanah air, apalagi kuah panasnya sangat menggoda selera🙂 Harga semangkok bakso 13SR atau sekitar Rp 50rb. Tersedia juga air mineral, gorengan dan kerupuk serba 1 riyal.

Seusai suami keluar dari Raudhah, saya ajak dia menikmati bakso yang saya bungkuskan untuknya (naluri istri dan ibu salah satunya adalah ga bisa kenyang sendirian, apa yang kita nikmati sebisa mungkin dinikmati juga oleh suami dan anak2). Daripada bengong di hotel hingga waktu dhuhur, kami memutuskan mencari perdana di warung bakso tersebut, sambil suami saya kembali memesan semangkuk bakso demi mendapatkan cita rasa bakso panas yang sesungguhnya😀

Harga perdana yang dijual oleh calo semacam pedagang di warung bakso tersebut jauh lebih mahal daripada harga resmi di counter, namun demikian sebagai jama’ah haji Indonesia kita tidak punya pilihan lain karena katanya untuk membeli di counter harus menunjukkan paspor dan sidik jari sementara paspor milik kami dikumpulkan di muassasah sebelum masuk hotel. Harga resmi berkisar antara 35SR sementara di pedagang eceran tersebut mencapai 95SR (setara 320rb rupiah) untuk pulsa senilai 25SR dan paket internet 10GB. Harga tersebut sebenarnya masih jauh lebih murah dibandingkan dengan bundling harga aneka provider di tanah air yang berkisar antara 300rb untuk 5GB saja paket internet hingga 1.400rb untuk paket internet dan telp.

Akhirnya saya dan suami kompakan punya nomer mobily sesudah beberapa hari mencoba bertahan hanya dengan mengandalkan wifi😉

Sesudah kenyang dan punya nomer baru saatnya eksplorasi pertokoan di sekitar Masjid Nabawi, kami hanya fokus keliling di area gedung Taiba karena menurut Ust pembimbing area tersebut yang paling murah, kemudian dilengkapi pula dengan Bin Dawood (semacam Carrefour gitu lah kalo di Indonesia).

Banyak toko perhiasan batu dari bahan perak cincinnya, biasanya yang menjual orang Turki. Di area pertokoan ini kebanyakan menggunakan sistem tawar menawar, jadi usahakan survei harga dulu ke beberapa toko saat akan membeli barang dengan nilai tinggi baru kemudian tawar habis2an di toko tujuan😉 Insya Allah pemilik toko tidak marah asal kita menawar dengan cara yang santun sambil banyak tersenyum, tentunya didampingi suami yaa jangan senyum2 tanpa mahram.

Seusai shalat Dhuhur, kami memutuskan pulang ke hotel melalui jalan yang berbeda dari biasanya, agak berputar karena diniatkan sekalian jalan-jalan. Saat akan melewati pintu no 15, kami melihat ada seorang nenek dengan slayer yang di bagian belakang ada bendera Merah Putih tampak sendirian dan kebingungan di kerumunan petugas Saudi. Suami dan saya mendekat, ternyata sang nenek asal Palembang kebingungan menemukan hotelnya karena teman2nya sudah lebih dulu jalan pulang.

Kami mencoba melihat gelang identitas sang nenek yang ternyata bertuliskan PLM 09 yang artinya berasal dari embarkasi Palembang kloter no 9. Suami meminta saya mencari di aplikasi Haji Pintar yang telah kami download sejak masih persiapan berangkat haji. Tertulis di app tersebut nama hotel nenek itu adalah Madinah Al Shafwa, kami pun mencari hotel tersebut, sempat masuk ke beberapa hotel lain, namun saat sudah sampai di lobi hotek tersebut nenek itu menyatakan bahwa bukan ini hotelnya. Menurut sang nenek hotelnya memiliki tangga di bagian kiri pintu masuk.

Kami meminta nenek untuk duduk terlebih dahulu dan mengkonfirmasi pada petugas haji kloter lain yang ada di lobi tersebut apa betul ada PLM 09 di hotek ini, petugas tersebut kurang yakin dan mencoba menelpon rekannya namun belum ada kejelasan. Saya dan suami mencoba menghubungi Call Center Haji Indonesia yang tertulis di app tersebut. Awalnya gagal terus dihubungi, alhamdulillah pada percobaan ke-6 dapat tersambung dan kami memperoleh nama hotel yang ditempati kloter tersebut.

Seusai nenek sampai di hotelnya, kami mintakan ke receptionist business card hotel tersebut untuk dipegang nenek, agar sewaktu-waktu jika tersesat lagi bisa menunjukkan kartu hotel tersebut untuk meminta diantar oleh orang lain🙂

Sambil jalan pulang, tak sengaja kami menemukan lokasi dibai’atnya Abu Bakar Ash Shidiq, saya dan suami menyempatkan selfie sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang cukup jauh kembali ke hotel.


Malamnya, setelah maghrib sambil menunggu isya’ saya dan suami kembali berkelilinh di daerah Taiba dan menemukan semacam toko khusus donat dan pastry serta restoran Abu Khalid yang memiliki aneka menu dari nasi biryani, kebab, hingga kari. Kami mencoba memesan kebabnya, suami beef dan saya chicken. Setelah dicoba dan dirasa, menurut kami yang lidahnya sangat Indonesia ini, taste kebab di resto tersebut bukan kami banget..😀 Kami memutuskan memberi skor 4,5 skala 1-10 pada kebab tersebut.


Seusai shalat isya’, kami langsung kembali ke hotel. Sambil menunggu antrian lift yang mengular, saya menemani suami bercengkrama dengan teman PPSDMS yang kebetulan juga termasuk jamaah haji asal Bekasi dan sedang berada di Madinah. Teh mint di Coffee Shop Hotel Movenpick Madinah juga kurang pas rasanya, tapi lumayan untuk menghangatkan badan🙂

Perjalanan hari ini ditutup dengan makan malam di kamar hotek dengan menu nasi putih, daging semur, tumis kembang kol tentunya ditambah lauk pauk bawaan teman sekamar yang beraneka ragam.

Contoh bentuk meal box yang kami terima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s