Hajj Journal : Day 1- Tiba di Kota Nabi

Setelah seharian di asrama haji, seusai makan malam tgl 20 Agustus 2016 kami mendapat kabar bahwa penerbangan kami ke Madinah delay selama kurang lebih 6 jam sehingga kami lebih baik beristirahat dulu di asrama. Flight Saudia yang seharusnya berangkat tgl 20 Agustus pukul 23.50 ditunda menjadi tgl 21 Agustus pukul 06.20.

Pukul 02.30 kami diminta berkumpul di masjid asrama haji sambil menunggu pemeriksaan X-Ray utk barang bawaan dan penumpang. Tepat pukul 03.30 kami berbaris untuk melakukan pemeriksaan X-Ray, untuk penumpang yang malas berdiri terlalu lama sebaiknya duduk manis di bagian belakang dan baru ikut berbaris saat calon haji tinggal sedikit yang tersisa.

Karena memang sudah mengantisipasi barang bawaan dari daftar benda terlarang sehingga rombongan kami cukup aman dan lancar saat pemeriksaan X-Ray (ingat jangan membawa cairan lebih dari 100ml serta benda tajam lainnya).

Setelah usai pemeriksaan kami memasuki bus sesuai nomer rombongan yang telah ditentukan, saya dan suami di rombongan 7 dari total 10 rombongan di kloter kami. Hirarki yang ada adalah 1 kloter (kelompok terbang) terdiri dari 10 rombongan dan masing2 rombongan dibagi lagi menjadi beberapa regu.

Kami sholat shubuh di bus karena nantinya bus yang kami tumpangi langsung parkir di depan landasan pesawat sehingga kami langsung menaiki burung besi bertuliskan Saudia Airlines yang memiliki 2 tingkat untuk menampung 460an penumpang dan awal pesawat.

Kelegaan bercampur bahagia sungguh terpancar di wajah seluruh penumpang Saudia Airline yang kami tumpangi setelah 8 jam 32 menit di udara, akhirnya tepat pukul 11.05 WAS kami tiba dengan selamat atas ijin Allah di Kota Nabi Madinah Al Munawwarah dengan suhu kurang lebih 35 derajat celcius.
Turun dari pesawat segenap awak Saudia memberi salam selamat jalan, beberapa dari mereka adalah orang Indonesia sementara sebagian lagi berkewarganegaraan Saudi.
Setibanya di terminal kedatangan, tim kesehatan di bandara Madinah menyambut sambil memeriksa buku kesehatan yang kami bawa dari tanah air. Bagi yang memiliki masalah kesehatan selama terbang akan dibawa ke ruang perawatan sementara yang sehat langsung mengantri di belasan meja imigrasi yang ada.
Sebagai salah satu orang yang berada di penghujung antrian imigrasi, waktu yang dibutuhkan utk pemeriksaan visa, foto, sidik jari dan lainnya bagi 444 orang di kloter kami kurang lebih selama 2 jam. Sebelum naik ke bus ada X-ray yang harus dilewati namun cairan berupa makanan dan minuman bukan yang menjadi perhatian melainkan barang terlarang seperti narkotika dll.

Setelah cukup lama menunggu di bus bertuliskan Zhong Tong (bus yang sama dengan yang ditumpangi Prie GS saat bercerita di bukunya Mendadak Haji, bus ini termasuk bus yang sangat tua bahkan bisa dikatakan kurang layak dan dari sisi safety agak mengkhawatirkan), kami baru berangkat 2 jam kemudian karena harus menunggu jamaah rombongan lain yang harus distabilkan dulu tekanan darah dan kondisi kesehatannya sebelum menuju hotel. Setibanya di Hotel Movenpick Madinah, kami masih harus sabar menunggu antrian lift, pembagian kamar dan pembagian koper hingga pukul 4.30 sore.

Alhamdulillah, sebelum maghrib kami sudah bisa menuju Masjid Nabawi serta berada di sana hingga ba’da Isya’. Selama duduk di pelataran masjid karena saya dan 4 orang dari rombongan kami sedang haid, kami ditawari aneka makanan, dari kurma berjenis ruththab, kurma kering, roti, teh, dll.

Selama menunggu di pelataran sambil berdzikir dan memperhatikan sekeliling saya jadi semakin menyadari bahwa Berhaji adl salah satu alasan kita berusaha mempelajari bhs arab, mengapa? Karena haji adalah muktamar umat Islam, jika berbeda2 bahasanya lantas bagaimana kita bisa berkomunikasi dan menggabungkan potensi yang ada?

Di saat haji segenap umat Islam dari belahan bumi manapun tumpah ruah menunaikan ibadah hanya untuk menghatap ridha Ilahi, dengan berbagai pemahaman yang mereka miliki dan pahami tentang tata cara bersuci, sholat, menutup aurat, yang tentunya harus kita sikapi dengan bijak tanpa menghakimi pemahaman satu dengan lainnya.

Catatan:

  • Jika berpotensi kurang suka dengan masakan ala pesawat ada baiknya menyiapkan lauk tambahan dalam size kecil untuk dicampurkan dengan makanan dari pesawat. Yang jelas kita harus cukup makan dan minum agar tidak masuk angin dan kembung selama hampir 9 jam perjalanan ke Madinah
  • Kebetulan saya sadar haid saat berada di pesawat, karena pembalut diletakkan di tas yang sulit dijangkau, persediaan pembalut di laci toilet pesawat sangat membantu
  • Jangan ragu meminta bantuan awak kabin jika ada kesulitan yang Anda alami atau rekan yang duduk di dekat Anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s