Ayah Ada, Ayah Tiada: Catatan Diskusi NoBar Komite Sekolah SDIT Darussalaam dan IIP Kaltim

Judul di atas diambil dari buku karya Pak Irwan Rinaldi yang kini topik keayahan menjadi salah satu primadona sekaligus menjadi tema diskusi santai yang kami sepakati setelah menonton film The Beginning of Life bersama di ruang Integrity J18 Wisma Prima.

Saya dan teman-teman Komite Sekolah SDIT Darussalaam juga IIP Kaltim sangat antusias menonton dan mendiskusikan berbagai lesson learned yang tersirat di film tersebut.

Sebuah terobosan terbesar neuroscience telah menemukan bahwa bayi bukan sekedar berisi muatan genetik. Perkembangan manusia dibentuk melalui kombinasi genetik, kualitas relasi dan lingkungan mereka. Saksikan bagaimana ratusan narasumber mulai dari ahli, orang tua, guru dan bahkan anak-anak menyampaikan pandangan mereka tentang tumbuh kembang anak. Sebuah film dokumenter yang menampilkan sinematografi yang indah dan menyentuh emosi. Film The Beginning of Life menampilkan beragam pandangan dari banyak narasumber dan dari berbagai konteks sosial budaya, sehingga perbedaan pandangan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, pilihan terbaik adalah “ambil yang baik, tinggalkan yang buruk” dari film ini. Pemandu bertanggung jawab memfasilitasi diskusi yang kontruktif dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.

Poster edited nobar

“The Beginning of Life” adalah film dokumenter dari UNICEF sebagai alat edukasi publik tentang perkembangan anak usia dini atau Early Childhood Developement (ECD). Film ini mengambil scene di 9 negara dengan berbagai sudut pandang orangtua dan para ahli, dengan konteks sosial yang berbeda-beda. Film ini sangat menarik  dan dilengkapi dengan subtitle bahasa Indonesia enak ditonton secara bersama-sama  yang dilanjutkan dengan diskusi.

Tujuan:
1. Belajar mengenai anak bukan kertas kosong dari berbagai sudut pandang yaitu ahli, orang tua, guru dan anak itu sendiri.
2. Mendiskusikan hal-hal yang baik yang bisa dipraktikkan dalam konteks Indonesia dan masing-masing keluarga.
3. Menyebarkan pentingnya dukungan dari semua orang agar anak-anak dapat tumbuh berkembang menjadi manusia seutuhnya.
4. Membangun kesadaran bahwa mendidik anak bukan semata untuk anak dan keluarganya, mendidik anak adalah mendidik bangsa

Dari hasil diskusi kami di dua komunitas pada hari Selasa, 9 Agustus 2016 pukul 08.00 – 11.00 ada banyak hal yang menjadi pembelajaran kami bersama. Setelah film selesai diputar saya menanyakan kesan beberapa peserta diskusi, ada yang sangat terkesan di scene – scene ayah sedang bermain dengan anaknya, ada juga yang terkesan dengan bonding antara anak dan ibunya, kerjasama orangtua dalam mengasuh anak, ketegaran seorang Ibu atau Ayah dengan berbagai hambatan mengasuh namun tetap berusaha. Dari kesan tersebut sebagai pemandu saya mencoba mencari apa tema yang sesuai untuk dibahas, kebanyakan meminta untuk membahas tentang peran ayah dalam mendidik anak. Adapun poin-poin diskusi agar tidak melebar pada curhat tanpa akhir😀 maka saya batasi pada 3 hal berikut ini

  • Peran ayah yang dirasakan saat ini
  • Peran ayah yang diharapkan
  • Solusi yang dapat diupayakan

dari jawaban 5 meja yang ada, uraiannya antara lain:

  • Sebagian merasakan peran ayah sudah cukup baik bahwa selain urusan mencari nafkah sebagian ayah sudah mau ikut serta antar jemput anak, menemani bermain dan belajar, membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bahkan ada juga yang cakap membantu menyiapkan bekal anak. Walaupun demikian, banyak juga yang merasa bahwa peran ayah masih sangat minim, yaitu hanya menyerahkan uang nafkah dan uang saku anak kemudian menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan dan pengasuhan pada sang ibu, sama sekali tidak mau tahu menahu urusan anak.
  • Peran ayah yang diharapkan oleh sebagian besar peserta yang hadir adalah mampu menjadi Imam dan Qawwam di keluarga yang tanggung jawabnya mencakup pendidikan anak dan istri, memenuhi nafkah keluarga, membantu urusan rumah tangga, dan menjadi teman yang baik bagi istri dan anak.
  • Solusi yang dapat dilakukan antara lain, memperbanyak sesi fathering dengan narasumber yang sesuai sehingga bisa membuka mata para ayah bahwa semestinya pendidikan itu ada di pundak Ayah sebagai kepala sekolah di keluarga, mengajak pemerintah dan berbagai instansi untuk memberikan waktu para ayah agar lebih terlibat seperti adanya cuti melahirkan untuk menemani sang istri seperti di beberapa negara seperti Swedia dan Finlandia

Semoga NoBar dan diskusi tersebut mampu menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya peran orangtua dalam masa pertumbuhan anak-anak sehingga keharmonisan peran antara keduanya mutlak dibutuhkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s