It Takes a Village to Raise a Child (Catatan NoBar TBCLC)

Judul di atas diambil dari peribahasa asal Afrika yang kini justru sangat populer sekaligus menjadi tema diskusi santai yang kami sepakati setelah menonton film The Beginning of Life bersama di ruang RecHall Tanjung Bara.

Saya dan teman-teman di Tj Bara Community Learning Club sangat antusias menonton dan mendiskusikan berbagai lesson learned yang tersirat di film tersebut.

Sebuah terobosan terbesar neuroscience telah menemukan bahwa bayi bukan sekedar berisi muatan genetik. Perkembangan manusia dibentuk melalui kombinasi genetik, kualitas relasi dan lingkungan mereka. Saksikan bagaimana ratusan narasumber mulai dari ahli, orang tua, guru dan bahkan anak-anak menyampaikan pandangan mereka tentang tumbuh kembang anak. Sebuah film dokumenter yang menampilkan sinematografi yang indah dan menyentuh emosi. Film The Beginning of Life menampilkan beragam pandangan dari banyak narasumber dan dari berbagai konteks sosial budaya, sehingga perbedaan pandangan adalah sebuah keniscayaan. Karena itu, pilihan terbaik adalah “ambil yang baik, tinggalkan yang buruk” dari film ini. Pemandu bertanggung jawab memfasilitasi diskusi yang kontruktif dan bermanfaat bagi semua yang terlibat.

Poster edited nobar

“The Beginning of Life” adalah film dokumenter dari UNICEF sebagai alat edukasi publik tentang perkembangan anak usia dini atau Early Childhood Developement (ECD). Film ini mengambil scene di 9 negara dengan berbagai sudut pandang orangtua dan para ahli, dengan konteks sosial yang berbeda-beda. Film ini sangat menarik  dan dilengkapi dengan subtitle bahasa Indonesia enak ditonton secara bersama-sama  yang dilanjutkan dengan diskusi.

Tujuan:
1. Belajar mengenai anak bukan kertas kosong dari berbagai sudut pandang yaitu ahli, orang tua, guru dan anak itu sendiri.
2. Mendiskusikan hal-hal yang baik yang bisa dipraktikkan dalam konteks Indonesia dan masing-masing keluarga.
3. Menyebarkan pentingnya dukungan dari semua orang agar anak-anak dapat tumbuh berkembang menjadi manusia seutuhnya.
4. Membangun kesadaran bahwa mendidik anak bukan semata untuk anak dan keluarganya, mendidik anak adalah mendidik bangsa

Dari hasil diskusi kami di TBCLC pada hari Minggu, 7 Agustus 2016 pukul 16.00 – 18.15 ada banyak hal yang menjadi pembelajaran kami bersama antara lain:

  • Tahun – tahun pertama kehidupan anak adalah masa terbaik untuk menginvestasikan kasih sayang dan nilai-nilai yang baik agar dapat menjadikannya manusia yang berkarakter positif dan mampu berkontribusi terbaik untuk lingkungannya
  • SEMPATKAN mendengar cerita anak, sehingga dia akan terbiasa untuk bercerita tentang apapun yang dirasakan dan dihadapi sebelum dia mencari “teman” lain yang mungkin efeknya kontraproduktif dan negatif bagi perkembangan sosial emosinya
  • Lingkungan memegang peranan penting, mulai dari lingkaran kecil keluarga dekat, tetangga, komunitas hingga institusi dan pemerintah, semuanya diharapkan mengoptimalkan peranannya masing-masing
  • DENGARKAN permintaan anak, jika kadang kita harus mengorbankan waktu lebih untuk sekedar sesekali menjemput mereka ke sekolah, itu akan sangat berarti bagi mereka

Berikut ini adalah kesan dan saran yang ditulis oleh peserta pada akhir sesi, sengaja tanpa nama agar peserta lebih bebas menulis dan memberi masukan, saya sebagai pemandu meminta mereka untuk menuliskan kesan dan masuka pada instansi atau pihak manapun yang sekiranya dapat mendukung “It takes a village to a raise a child”

Peserta #1

Kita harus lebih peduli dengan pendidikan, pengasuhan dan kelayakan hidup anak-anak lain, karena ternyata lingkungan hidup anak kita nantinya akan dipengaruhi pola asuh dan pendidikan anak-anak hari ini.

Mendidik anak bukan hanya dengan disuruh ini dan itu, dijejali buku-buku, menjadi dirinya sendiri dan bermain sesuka hatinya juga merupakan proses pembelajaran yang baik.

Peserta #2

Di lingkungan Tj Bara sudah cukup mendukung perkembangan positif anak-anak kita melalui kegiatan di FLC (Fun Learning Center), masjid, dll. Yang perlu kita lakukan adalah mendukung program-program yang sudah ada.

Harapan saya semoga pemerintah daerah maupun swasta dapat menambah alternatif institusi pendidikan di daerah-daerah agar orangtua memiliki beragam pilihan untuk menyekolahkan anaknya.

Peserta #3

Demi masa depan anak-anak sebagai penerus kita nantinya, saya haturkan kepada orangtua dan pendidik:

  1. Jadikan anak sebagai teman sehingga anak akan mencurahkan perasaannya saat sedih maupun senang pada kita
  2. Komunikasikan semua akktifitasnya bukan sekedar langsung menilai baik/buruknya
  3. Jadikan anak sebagai sahabat dalam setiap kegiatan

Peserta #4

Setelah menonton film ini menjadi lebih sadar peran kita sebagai orangtua, kadang kita sibuk sendiri dengan rutinitas harian dan menuntu anak memahami kita tanpa berusaha merasakan dari sisi anak.

Semoga setelah nobar di lingkungan BPTB makin kompak dengan visi mendidik anak di lingkungan yang baik

Peserta #5

Film ini sangat membuka wawasan orantua tentang mendidik anak dan juga para pendidik (guru) bahwa kewajiban mendidik adalah tanggung jawab bersama untuk meningkatkan kualitas pribadi anak di masa depan

Peserta #6

Semoga pemerintah selaku pembuat kebijakan dapat menyusun aturan yang lebih ramah pada perkembangan anak, misalnya untuk ibu melahirkan diberikan cuti minimal 6 bulan sehingga bisa memaksimalkan masa tumbuh kembang awal anak selama ASI eksklusif. Mau berbuat lebih banyak bagi kalangan pra sejahtera agar mendapat tempat yang layak untuk masa tumbuh kembang mereka. Tentu saja orangtua harus makin dekat dengan anaknya.

Peserta #7

Film ini sangat berkesan karena menunjukkan bagaimana orangtua dari berbagai belahan dunia semua berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik bagi anak mereka sehingga saya pribadi menjadi lebih terbuka pikirannya dan bersyukur atas apa yang saya miliki.

Peserta #8

Seusai menonton saya menjadi lebih terpacu untuk memperhatikan pola pikir orangtua dan lingkungan terhadap perkembangan anak.

Saya berharap Pak Presiden bisa membuahkan aneka kebijakan yang berpihak pada pendidikan terbaik dan kesejahteraan untuk anak demi menciptakan generasi yang lebih baik di masa depan.

Peserta #9

Sangat tersentuh oleh berbagai scene yang menunjukkan baha “kehadiran” orangtua di masa awal pertumbuhan anak mutlak diperlukan. Kadang sebagai ibu rumah tangga saya justru sibuk sendiri dengan berbagai urusan domestik sehingga anak main sendiri tanpa ditemani, padahal saat bermain itu dapat digunakan sebagai ajang menjalin ikatan emosional juga berbagi pengetahuan, kosa kata, penjelasan tentang berbagai hal bahkan saat hanya bermain petak umpet, masak-masakan dan kemah-kemahan.

 

Peserta #10

Dunia adalah tempat belajar gratis dari Allah, alangkah indahnya jika dimanfaatkan dengan berbagai tujuan dan pemikiran positif dan dengan cari itulah Allah mengajarkan pada ayat-ayatNya, sehingga wajib bagi kita untuk mempelajarinya secara bersama-sama.

Orangtua adalah guru dan contoh yang paling ditiru sehingga jika semua orangtua memiliki pemahaman yang baik tentang pendidikan terlebih jika didukung lingkungan yang baik maka akan jauh lebih mudah membentuk anak yang berkarakter baik

Peserta #11

Sangat penting meluangkan waktu  untuk bermain bersama anak walaupun kerjaan domestik tiada henti. Saya menjadi tercerahkan karena sebelumnya takut memberikan tempat bermain di alam terbuka mengingat ada banyak jenis satwa di sekitar rumah.

Baru sadar bahwa sosok ayah sangat diperlukan dalam membesarkan anak utamanya pada kegiatan bermain dan bercerita.

Semoga Pak Bupati dan Pemda Sangatta bisa memberikan wahana wisata alternatif bagi anak yang dapat menumbuhkan IQ, EQ dan SQ anak-anak.

Peserta #12

Peranan Dinas Sosial diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah sosial yang muncul marak belakangan ini seperti kenakalan remaja dan narkoba sehingga dapat berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut dari hulu ke hilir.

Peran Kementerian Agama pun dibutuhkan khususnya untuk mencari figur tokoh agama yang dapat memberi pengaruh positif pada orangtua dan lingkungan

Peserta #13

Agar pemerintah pusat/Kominfo memperhatikan siaran TV yang banyak berpengaruh terhadap anak-anak saat mereka “terpaksa” menonton sinetron karena tidak ada pilihan lain walaupun peran orangtua juga sangat dibutuhkan untuk “menjaga” anak-anaknya dari pilihan buruk tersebut.

 

Oleh Pemandu Nobar Sangatta : Naila MT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s