Ketika Bunda Tak Pernah Benar

Sejak Mas Haidar memutuskan untuk ikut sekolah di Sangatta, maka mulailah ritual baru saya dan Mush’ab yaitu setiap jam 9.30 kami harus meluncur ke kota yang berjarak hampir 20 km dari rumah😀

Daan, tentunya hari-hari saya makin dipenuhi oleh celoteh Haidar utamanya saat di mobil menuju rumah, salah tiganya berikut ini:

H: Bunda, bunda jangan terlalu lambat donk, susul aja truk di depan yang lambat..

B: Iya mas, tapi kan harus nunggu garis putus2..

Daan akhirnya bisa juga menyusul si truk.. serentak dengan itu, terdengar lagi omelan

H: Bunda.. nyetir itu jangan ngebut-ngebut.. #@$#@$%%

Another discussion..

Saking silaunya nyetir di tengah hari bolong saya langsung pasang sunglasses.. Muncul komentar..

H: Bunda.. kan Mas Haidar uda pernah bilang, kalo pake kacamata itu dari rumah aja, jangan sambil nyetir, bisa bisa nabrak…

B: Mas, tadi pas berangkat kan masih mendung…

H: Iya, tapi bunda harusnya kan siap-siap.. $#%@@%$

Contoh lainnya lagi..

Di pinggir jalan, kami melihat ada motor berhenti dan kayaknya mau didorong..

H: Bun, itu motornya kenapa ya?

B: Kayaknya lagi mogok deh mas…

H: Bun.. kan kita ga boleh bilang mogok, kata-kata kita kan do’a bunda bilang.. berarti bunda doain mobil kita mogok donk.. *&^@#$

Rasanya pengen gigit setir…wkwkwk…

IMG_20160207_093016

Menantikan percakapan yang lebih seru saat Mush’ab sdh lancar ngomong😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s