Mush’ab, Bunda dan 2 Potong Biskuit ##WWL Stories

Weekend lalu adalah 2 hari yang cukup bersejarah untuk saya dan Mush’ab. Mengapa? Karena pada dua hari tersebut kami berjuang untuk menapaki “tangga” baru milestone tumbuh kembang Mush’ab. Walau usia baru akan menjelang 21 bulan beberapa hari lagi, kami terpaksa menapaki “tangga” tersebut lebih awal karena panggilan Allah untuk saya dan suami di pertengahan Agustus nanti mengharuskan saya melatih Mush’ab lebih awal demi memudahkan bude nya yang akan membantu mengasuh Mush’ab selama kami ibadah di Baitullah.

PhotoGrid_1469556375119

Memilih 21 Bulan

Awalnya saya diminta untuk menyapih lebih awal lagi karena demikian lengketnya Mush’ab dengan saya😀 Utamanya saat bepergian, hampir Mush’ab tidak pernah lepas dari “kantong ASI bunda” selama di perjalanan. Entah sudah berapa kali rute Sangatta-BPN dan sebaliknya selama 8 – 10 jam per 1 trip, Mush’ab duduk manis menyusu dari awal berangkat di rumah, sampai tiba di BPN sampai tiba lagi di rumah🙂

Harusnya dicoba Ramadhan lalu, namun entah kenapa momen tersebut lewat saja, saya sendiri merasa belum siap. Kami coba mundurkan saat idul fitri, mumpung ayahnya cuti🙂 Tapi, momen itupun terpaksa lewat lagi, karena kami dalam perjalanan cukup panjang, Sangatta-SMD-Tenggarong-BPN-Sangatta.

Bagi saya, ini adalah skenario yang indah dari Allah, sehingga kami bisa menuntaskan hampir 21bulan perjalanan breastfeeding kami. Hingga akhirnya, sejak tanggal 18 saya sudah mulai ancang-ancang.. Bismillah hari Sabtu dini hari tepatnya pukul 03.00 WITA, mulai dicoba tanpa ASI bangun tidur diajak main, ngemil yang lain, mandi dll.  Pukul 08.00, Mush’ab mulai gelisah.. memang biasanya jam segitu waktunya ASI setelah sarapan kemudian tidur.

Saya mencoba cari gendongan jarik khas Jawa yang biasanya dulu saya pakai untuk menidurkan Mush’ab sewaktu bayi, gak ketemu, yang ada hanya kain Hanaroo, baiklah, saya pakai dengan gaya sebisa saya🙂 Langsung tidur? Tentu tidak… Mush’ab panik, dan mulai mencari “kantong ASI andalannya”😀

Hingga usia menjelang 21 bulan memang kemampuan Mush’ab mengeluarkan kosa kata masih minim sehingga jika saya katakan, adek sudah besar sekarang minumnya pakai gelas ya.. Dalam keadaan normal tidak mengantuk responnya cukup baik, namun saat mengantuk seperti pagi itu maka yang ada malah meronta tidak karuan. Beberapa kali saya harus memperbaiki posisi kain Hanaroo nya (maklum yaa gak biasa pakai, hihi).

Mush’ab tetep keukeuh, walhasil, kami terpaksa kembali ke tips tradisional dengan mengoleskan pasta gigi ke “kantong ASI” dan mengatakan sekarang tempat mimik adek warnanya putih, jadi ga bisa mimik lagi. Awalnya saya sempat mengatakan “sakit” karena memang mulai bengkak karena biasanya lancar dikeluarkan untuk Mush’ab, tapi suami melarang dan mengatakan cukup bilang aja putih.

Mush’ab seperti freeze saat melihat dan ditutup kembali, namun seolah tetap berharap dalam sehari itu sekitar 5 kali Mush’ab membuka dengan harap-harap cemas, dan kembali ditutup setelah melihat warnanya.

Bagi beberapa orang, mungkin ini sudah bukan masuk kategori WWL, namun saya sungguh melakukannya dengan cinta..

Drama Menjelang Tengah Malam

Sejak pukul 21.00 kegelisahan Mush’ab makin menjadi.. Mush’ab nangis tanpa henti hingga menjelang 23.00, 2 jam yang berat bagi kami.. Saat Mush’ab menangis, entah mengapa airmata saya juga tak tertahan, kami menangis berdua.. Bagi saya, momen tersebut sangat berat, saya yang merasa tak pernah direpotkan Mush’ab selama 20 bulan terakhir ini.. Mush’ab yang begitu manis semasa bayi sejak dilahirkan hingga 1 bulan pertama, begitu pengertian pada adjustment kakak2nya, pada kesibukan bunda menyiapkan pindahan dari Depok ke Sangatta..

Bahkan setelah di Sangatta, Allah demikian Maha Pengasih dan Penyayang menjadikan  Mush’ab begitu tenang selama Bunda mengerjakan pekerjaan domestik tanpa asisten.. hingga opname di RS karena trombositosis pun Mush’ab relatif tetap tenang..

Baru kali ini Mush’ab menangis sejadi-jadinya…

Saya hanya bisa berdo’a sambil menggendong dengan aneka posisi, berdzikir dan berbisik, insya Allah adek kuat, adek sabar, adek hebat yaa…

Dan Allah menjawab melalui 2 potong biskuit yang adek minta di pukul 23.00 lewat.. Adek duduk dipangku bunda sambil makan biskuit dan kemudian tertidur… Rasanya lega..

Apakah sudah berakhir? Alhamdulillah belum.. hihi.. jam 2 an di hari Ahad adek kembali terbangun dan tantrum.. hingga 1 jam lebih baru tertidur kembali.. Atas ijin Allah keesokan paginya adek sudah jauh lebih tenang sudah mulai tahu tidur minta digendong sebentar atau sekedar guling-guling di kasur kemudian lelap..

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin..

Firman Allah SWT, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,” (QS al-Baqarah [2]: 233). Namun tak ada salahnya jika si ibu tak sampai dua tahun dalam menyusui bayinya.

Menyusui sampai bayi berumur dua tahun hanyalah sebatas anjuran, bukan kewajiban. Ini diterangkan dalam penghujung ayat tersebut, “Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (QS al-Baqarah [2]: 233).

Pandangan Ibnu Abbas, masa dua tahun untuk menyusui hanya diperuntukkan bagi bayi yang lahir prematur, seperti enam bulan masa kandungan. Sementara, jika lahir dalam usia kandungan lebih dari enam bulan, jangka waktu untuk menyusui otomatis berkurang dari dua tahun.

Ibnu Abbas berdalil dengan Alquran surat al-Ahqaf [46] ayat 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”

Dalam ayat ini disebutkan, masa mengandung dan menyusui totalnya selama 30 bulan. Jika dua tahun (24 bulan) dihabiskan untuk menyusui, maka sisanya hanya enam bulan untuk masa mengandung. Jika masa mengandung sampai 9 bulan, maka otomatis masa menyusui menjadi 21 bulan.

Catatan: Bagi saya 2 tahun tetaplah waktu yang paling ideal, namun karena memang bagi saya dan suami belum bisa memenuhi skenario lainnya maka menyapih di usia 21 bulan menjadi pilihan.

Sebelumnya juga terpikir untuk menabung ASI Perah untuk Mush’ab selama ditinggal, namun ternyata stok ASIP yang saya coba perah minim sekali bahkan sudah berusaha datang ke konselor ASI dan juga Mush’ab tidak mau minum dari botol atau apapun yang berbentuk susu, justru sukanya air putih🙂

Kondisi terakhir:

Alhamdulillah, Mush’ab masih konsisten bisa tidur dengan digendong sebentar atau guling-guling di kasur hingga lelap, senang minum air putih, daan makin anteng di car seat karena dulunya klo haus atau ngantuk kan pasti langsung maju serentak ke kursi tempat bunda nyetir😀 Sekarang cukup ambil sendiri gelas berpipet yang sudah bunda siapkan duduk manis atau tidur.

Ya Allah.. Jadikan momen ini sebagai momen yang menjadi pembelajaran bagi hamba dan Mush’ab, semoga Muh’ab makin mature dan siap menghadapi milestone tumbuh kembang berikutnya.. Semoga Allah menjadikanmu pemimpin orang-orang yang beriman dan sholih yaa Nak..

Bunda sayang Mush’ab karena Allah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s