Seharusnya Sabar Itu (Tak) Terbatas

Kalau ada yang kebetulan diberi kemudahan mengurus anak banyak,alhamdulillah itu adalah nikmat luar biasa dari Allah
Kalau ada yang mengalami naik turun emosi saat mendidik anak, count me in, pada satu titik saya pernah merasa,tampaknya saya belum pantas mendapat amanah ini, tapi segera saya istighfar dan yakin bahwa Allah tidak pernah salah menulis qadha dan qadar nya utk setiap makhluk yang Ia ciptakan,juga Allah tidak akan memberi ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya.

Hal itu yang alhamdulillah mampu menguatkan saya untuk tetap berusaha mencari solusi terbaik atas setiap tantangan dalam mendidik anak-anak kami.


Kadang saya merenung, pasti masih ada yang salah dengan ibadah dan doa doa kami, jadi saat muncul tantangan baru kami harus lebih semangat memompa semangat intropeksi diri,terlebih anak kami belum ada yang aqil baligh jadi tantangan tersebut justru harus menjadi pemicu semangat mumpung masih terbuka kesempatan.
Sama seperti emosi anak yang naik dan turun, sangat manusiawi rasanya jika level kesabaran orang tua juga naik dan turun. Terkadang saat level sabar dan iman sedang baik, emosi anak setinggi apapun saya tetap bisa cool, namun saat level sabar dan iman turun emosi anak meninggi sedikit kita justru emosinya ikut meninggi atau bahkan melebihi emosi anak.
Jadi bagaimana terapinya? Saya rasa apapun masalahnya memang harus dikembalikan ke Dzat Maha Raja,Maha Pencipta, Maha Kuasa Allahu ta’ala..

Ditulis ulang saat menemukan catatan pengasuhan yang terselip di email beberapa bulan lalu saat emosi Haidar sangat tidak stabil. Salah satu saudara dekat saya bahkan menyuruh saya untuk lebih tegas (baca:galak) padanya. Harapannya agar si anak lebih punya rasa takut pada saya.

Memang saat-saat di luar rumah atau saat sedang kedatangan tamu, pola mendidik kita jadi lebih diuji keistiqomahannya. Apakah kita memilih jalan pintas berupa dispensasi atas semua aturan yang biasa kita terapkan atau tetap berjuang istiqomah dengan nilai-nilai yang selama ini kita junjung.

Sebagai Ibu, saya hanya berusaha mencamkan pada diri saya, agar semarah apapun pada anak, jangan sampai lisan kita khilaf mendoakan hal yang kurang baik untuk anak tersebut.

Bagi saya pribadi, saya kadang sungkan dan dilematis saat membawa anak-anak ke acara publik. Di satu sisi, saya  merasa sangat rugi jika tidak hadir di majlis ilmu yang juga bermaksud mengenalkan anak pada aktifitas dakwah dan sosial, namun di sisi lain beberapa tingkah anak-anak saya sadari agak mengganggu orang lain. Maklum ya, terutama si Mas, kadang tanpa diduga cukup ekstrim sikap kurang bersahabatnya terhadap adik, atau iseng berbuat macam-macam. Semoga pihak yang terganggu membukakan pintu maaf pada kami yang masih belajar ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s