Renungan tentang Pendidikan

Saya tercenung lama setelah membaca pesan whatsapp berikut ini dari seorang teman.. Saya pribadi masih harus banyak dan terus belajar untuk menjadi seorang pendidik bukan sekedar pengajar bagi anak-anak saya sendiri juga untuk anak didik lainnya. Bismillahirrahmanirrahiim..

Cuplikan buku LIFE TIME 2 (Lifetime Behavior):
Revolusi Manusia

Saya baru mengerti kenapa Kaisar Hirohito bertanya berapa jumlah guru yang masih tersisa ketika Nagasaki dan Hirosima porakporanda dan ribuan orang Jepang mati. Bukan sekedar soal pendidikan itu penting, tetapi yang dididik itu adalah manusia. Manusia itulah yang jauh lebih penting, yang dilihat oleh Kaisar Hirohito sebagai aset Jepang untuk bangkit dari keterpurukan. Perlakuan pada manusia itulah yang menjadi intisari Revolusi Meiji, yang membawa Jepang menjadi negara industri terkemuka saat ini. Kisah kuno Kaisar Hirohito ini mendapatkan afirmasi ketika beberapa waktu lalu seorang pendidik asal Selandia Baru, John Hattie, melakukan sebuah penelitian raksasa. Hattie adalah pendidik sekaligus peneliti pendidikan yang kini menjadi profesor di Universitas Melbourne. Tahun 2008, ia mengeluarkan buku “Visible Learning” yang dipersiapkan selama 15 tahun. Buku ini adalah hasil ketekunannya dalam melakukan penelitian dengan menggunakan berbagai macam metode mutakhir atas data statistik dan mengkombinasikan dengan pelbagai disiplin ilmu. Hattie melakukan lebih dari 800 meta analisis, dan membuat kategorisasi ke dalam beberapa variabel, seperti murid, rumah, sekolah, guru, kurikulum, dan cara mengajar. Semua variabel yang ia buat adalah daftar yang selama ini diyakini sebagai penyumbang keberhasilan sebuah proses pembelajaran. Meta analisis ini melibatkan tidak kurang dari 80.000.000 siswa dari seluruh belahan dunia dan melakukan 50.000 penelitian yang lebih kecil lingkupnya. Sebuah penelitian yang benar-benar akbar sehingga membuat majalah Times menjuluki Hattie sebagai peneliti dan sarjana pendidikan yang kini paling diperhitungkan.
Yang membuat dunia pendidikan terperangah dengan penelitian Hattie, bukanlah tentang keluasan dan kuantitas datanya, tapi tentang kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian tersebut. Kalau selama ini banyak orang beranggapan bahwa politik pendidikan berpengaruh kepada keberhasilan sebuah proses pembelajaran, ternyata dalam penelitian Hattie variabel seperti ini menempati urutan terbawah, artinya tidak begitu berpengaruh bagi pendidikan. Juga, masalah kelengkapan fasilitas dan finansial juga ditemukan memiliki pengaruh yang sangat minim terhadap sukses tidaknya proses pembelajaran. Sama halnya dengan faktor besar kecilnya kelas. Orang mengira, kelas dengan murid sedikit lebih efektif sehingga diusahakan membuat kelas kecil, walau biaya menjadi makin besar. Menurut Hattie, kecilnya kelas tidak juga menjamin pelajaran efektif. Dalam penelitian Hattie, variabel ini menduduki ranking ke-106. Selain itu, sering juga diributkan tentang sekolah negeri dan swasta. Ternyata penelitian Hattie membuktikan, bentuk sekolah apakah swasta atau negeri, juga tidak berpengaruh pada kemajuan anak didik. Demikian juga soal sekolah teladan, ternyata tidak relevan bagi kemajuan belajar.
Kesimpulan penelitian Hattie yang mengguncang dunia pendidikan saat ini adalah bahwa maju tidaknya pelajaran anak didik ditentukan bukan oleh faktor lain tapi oleh faktor pendidik. Jadi, dalam pendidikan, seorang pendidik adalah nomor satu, faktor lain nomor dua. Menurut Hattie, pendidik bukan sekedar pengiring mahasiswa belajar, bukan pula arsitek atau fasilitator pembelajaran. Pendidik adalah regisseur dan activator yang menguasai kelas, mengenal anak didiknya, dan dinamika kelas. Pendidik harus menguasai classroom management. Pendidik yang baik tidak akan membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu. Ia mesti memahami saat yang tepat bertindak keras atau humor dalam menanggapi situasi kelas. Pada skala Hattie, teacher clarity juga menduduki ranking yang amat tinggi. Artinya, pendidik tak boleh menyampaikan sesuatu secara kabur. “Pendidik yang baik,” menurut Hattie, “adalah guru yang melihat dan memahami pengajarannya dengan mata dan pikiran para siswanya.”
Mendidik manusia agar mencapai level kualitas tertinggi, hanya bisa dilakukan oleh manusia dengan level kualitas tertinggi, dan itu hanya bisa dilakukan lewat proses pendidikan, entah formal atau informal. Mendidik tentu berbeda dengan mengajar. Mengajar adalah kegiatan transfer of knowledge. Paulo Freire menulis, mengajar punya pola seperti perbankan (banking concept of education), dimana peserta didik adalah penerima yang rekening otaknya akan diisi oleh pendidik dengan narasinya (transfer of knowledge). Si penerima diharapkan bisa menghafal informasi yang diterima di kelas dalam bentuk ujian, kuis dan segala hal yang mensyaratkan jawaban kata demi kata sesuai persis dengan apa yang diajarkan oleh pendidiknya. Dalam kelas bermodel bank seperti ini, pendidik memiliki otoritas dan anak didik tertekan dan tertindas. Anak didik tidak mampu mengembangkan cara berpikir kritis dan kreatif karena pendidikan masih berpusat pada guru dan bahan, belum pada murid dan belum secara serius memperhatikan prosesnya.
Sementara itu mendidik adalah kegiatan transfer of value. Nilai-nilai jauh lebih penting daripada pengetahuan, seperti kejujuran, ketegasan, kebaikan, ketelitian, tanggung jawab dan lain sebagainya. Dalam pepatah Latin “Non Scholae sed Vitae”; yang penting itu adalah nilai-nilai kehidupan, bukan sekedar sekolah.

NB: Saya belum menemukan penulis buku tersebut sehingga ini hanyalah cuplikan bukunya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s