Ketika Harus Memilih

Sebagai manusia, sewajarnya jika saya, suami dan kita semua selalu menginginkan yang paling ideal, yang paling sesuai menurut kita, selalu ingin yang terbaik, termasuk di dalamnya untuk urusan pengasuhan dan pendidikan anak. Tadi siang, melalui WA salah satu sahabat terbaik saya yang sedang mengandung anak pertamanya bertanya tentang bagaimana dulu kami memutuskan pilihan kami saat lahir anak pertama dan kedua saya masih bekerja. Bagi kami berdua, pilihannya tidak banyak saat itu, pertama kami jauh dari kedua orang tua kami, kedua; saat itu belum menjamur daycare-daycare berkualitas baik seperti sekarang (kalaupun ada, secara jarak dan dana tidak cocok. Saya ingat sekali saat masih bekerja dan Haidar lahir saat itu road show mencari daycare islami yang berkualitas ternyata tarifnya 4 juta lebih sebulan, itu di tahun 2011).

Nah, mempertimbangkan itu semua, akhirnya pilihan kami mengkerucut pada dua saja, yaitu

  • Meng-hire nanny (dengan berbagai konsekuensinya)
  • Saya resign

Saat Faza lahir, pilihan kami jatuh pada yang pertama. Karena saat itu, di kantor seharusnya jadwal saya cukup fleksibel, kuliah profesi pun sudah selesai, mengajar bisa diatur untuk minta jadwal yang tidak terlalu padat. Pun begitu saat Haidar lahir, pilihan kami masih tetap yang pertama, walaupun saat itu tarikan untuk memilih yang kedua makin kuat, namun jabatan saya di kantor berubah, sehingga harusnya makin flesibel lagi. Saya pun optimis tetap bisa membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan dua buah hati kami.

Sebelum menceritakan pahit manis sejarah pengasuhan dua anak kami tersebut, saya ingin berbagi pendapat pribadi saya mengenai positif negatif dari berbagai pilihan yang ada (sekali lagi, ini adalah murni pendapat pribadi saya)

  • Diasuh sendiri oleh bundanya

+) Bundanya pasti selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya, bonding dengan anak semakin kuat, bisa melihat dan mencermati perkembangan anak dari hari ke hari

-) Kelelahan (biasanya jika tidak memiliki khadimat/ART) kadang justru membuat bunda di beberapa waktu menjadi emosi dan berdampak buruk pada hubungannya dengan sang anak, jika pola pengasuhan nya salah anak akan menjadi manja atau terlalu bergantung pada sang ibu

  • Diasuh oleh nanny selama bunda bekerja

+) Bunda dapat membagi waktunya untuk berkegiatan lain, anak mengenal sosok lain selain bundanya, jika nanny nya memiliki kualifikasi yang baik akan bisa mengajari anak beberapa hal dan memberi stimulus yang baik

-) Bagaimanapun nanny bukanlah orang tua dari sang anak (bisa jadi nanny tidak setulus hati merawat anak kita), bonding antara ortu dan anak bisa berkurang jika ortu bergantung pada nanny dan jarang berinteraksi dengan anak (ada beberapa orang tua yang bahkan tidur malam tidak bersama anaknya), terkadang sebagai orang tua karena merasa bersalah tidak bisa selalu bersama anak maka saat weekend sangat memanjakan dan memberi hiburan yang berlebihan

  • Dititipkan di Daycare

+) Hampir sama dengan poin nanny di atas, Bunda dapat membagi waktunya untuk berkegiatan lain, anak mengenal sosok lain selain bundanya, jika daycare nya berkualitas baik akan bisa mengajari anak beberapa hal dan memberi stimulus yang baik, mengajarkan anak bersosialisasi dengan temannya di daycare

-) Bagaimanapun fasilitator di daycare bukanlah orang tua dari sang anak (bisa jadi fasilitator tersebut tidak setulus hati merawat anak kita), bonding antara ortu dan anak bisa berkurang jika ortu bergantung pada daycare dan jarang berinteraksi dengan anak (ada beberapa orang tua yang bahkan di hari libur pun menitipkan anaknya), terkadang sebagai orang tua karena merasa bersalah tidak bisa selalu bersama anak maka saat weekend sangat memanjakan dan memberi hiburan yang berlebihan

  • Dititipkan di orang tua, mertua atau saudara dekat lainnya (untuk pilihan ini sangat dianjurkan tetap meng-hire nanny, agar tidak merepotkan orang yang dititipi)

+) Hampir sama dengan poin  di atas, Bunda dapat membagi waktunya untuk berkegiatan lain, anak mengenal sosok lain selain bundanya, jika yang dititipi memiliki visi misi dan nilai-nilai yang sama dengan orang tuaakan bisa mengajari anak beberapa hal dan memberi stimulus yang baik, mengajarkan anak bersosialisasi dengan orang lain di sekitarnya

-) Jika yang dititipi memiliki nilai-nilai yang berbeda dengan ajaran dan aturan dari orang tua, anak akan menjadi bingung. bonding antara ortu dan anak bisa berkurang jika ortu bergantung pada orang yang dititipi dan jarang berinteraksi dengan anak (ada beberapa orang tua yang bahkan di hari libur pun menitipkan anaknya), terkadang sebagai orang tua karena merasa bersalah tidak bisa selalu bersama anak maka saat weekend sangat memanjakan dan memberi hiburan yang berlebihan

Karena akan cukup panjang cerita tentang kami, anak-anak dan para pengasuhnya, akan saya tulis di posting yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s