Catatan Pengasuhan Faza dan Haidar

Saya masih ingat sekali, sejak Faza lahir hingga saya sudah harus bekerja kembali, saya bahkan belum nyetok asip sama sekali dan belum juga mengontak yayasan-yayasan untuk mencari nanny, kayaknya walau sempat agak baby blues di hari-hari pertama karena benar-benar baru sekali attach dekat dengan bayi, tapi saya seperti enggan harus bekerja kembali. Namun apa daya, tanggal 6 Februari 2009 saya harus masuk setelah memperpanjang cuti selama seminggu, setelah semingguan saat extend cuti itu telp yayasan sana sini dapatlah satu nanny yang available mau megang anak usia 2 bulan lebih dikit.

Tgl 6 Feb pagi, sang nanny baru datang. Namanya Hidayah, alhamdulillah mbaknya berjilbab, di ktp nya usianya hanya terpaut satu tahun dengan saya. Karena baru datang, namun saya juga harus jalan untuk rapat marathon di beberapa tempat di Jakarta (ga mungkin dong saya langsung titipkan anak saya), maka kami bertiga (saya, Faza dan Mbak Hida) bagai rombongan sirkus di mobil bos saya dari pagi sampai malam keliling ke Kemenkop, Kemenkeu, terakhir di gedung SMESCO.

Seperti prolog di atas karena memang tidak siap dengan asip melimpah, perjalanan asi eksklusif saya dan Faza dipenuhi dengan beraktifitas bertiga hampir setiap hari, atau kalaupun saya tidak bisa mengajak Faza dan Mbak Hida, maka bisa dipastikan menjelang sore saya deg-degan jia SMS dari Mbak Hida masuk “bunda, ASInya Faza sudah habis”. Dramanya banyak bangett deh🙂 tapi alhamdulillah, we did it nak..😀

Mbak Hida menemani kami sampai bulan November 2009, karena akan menikah dengan sekretaris desa di kampungnya🙂 Tapi karena mendadak bilangnya, jadilah saya kelimpungan cari penggantinya. Setelah telepon sana-sini lagi (teknik nelepon dan wawancara ke yayasan kayaknya sudah pernah saya tulis atau nanti akan saya tulis di posting terpisah, haha sok penting) dapatlah di salah satu yayasan di mana kami harus jemput ke daerah kebon jeruk. Oke, demi Faza kami jalani itu. Yang ini namanya Kayah, karena berasal dari Majalengka, which is itu Sunda maka kami biasa memanggilnya Teteh.

foto teteh saat makan bersama dg kami

foto teteh saat makan bersama dg kami

Teteh ini terhitung lama bersama kami, 3 tahun🙂 Orangnya sudha mature, berpengalaman karena pernah jadi TKI juga di Arab, cukup telaten ngurus anak, pintar bersosialisasi dan seneng gaul, ke manapun teteh pergi selalu punya kenalan baru, dan akhirnya itu pula yang memisahkan kami karena akkhirnya teteh mengaku akan menikah dengan laki-laki yang dikenalnya di terminal saat mudik (hoho..)

Karena bilangnya mendadak juga maka adegan berikutnya bisa ditebak, urusan telp menelp kali ini tidak semulus perjalanan sebelumnya. Nanny pengganti teteh yang pertama namanya XXX sangat tidak oke, sering terlihat menangis, saya tanya kenapa kkatanya ingat keluarga di rumah padahal usianya sudah 35th lebih, saya ajak ngobrol, kalau gitu mbak mau pulang saja? kalau begitu juga gak papa, nanti saya antar ke yayasan. tapi dia gak mau, malah setelah dua minggu minta pulang tanpa pamit ke yayasan dengan alasan mau ambil obat. saya tanya sakit apa mbak? Flek paru, deg.. Langsung panik dong, dan keesokan harinya langsung saya kembalikan ke yayasan dengan sedikit ngomel harusnya kan nanny yang dikirim “bersih” kesehatannya. Mana waktu itu Haidar masih umur setahun, hampir saja kami melakukan serangkaian tes mantoux dan lainnya. Tapi versi yayasan sambil menunjukkan hasil rontgen si mbak, hasilnya bagus. Kemungkinan memang si mbak saja yang punya banyak alasan.😦

Alhamdulillah setelah itu kami dapat nanny dari yayasan lain namanya Evi, usianya masih sangat muda. Sampai-sampai saya takut dikira mempekerjakan anak di bawah umur. Alhamdulillah, ini juga awet sampai kami mau pindah ke Sangatta, karena Mbak Evi gak berani tinggal terlalu jauh dari orang tuanya maka kami harus berpisah.

Ada lagi namanya Mbak Anis, yang kami hire setelah saya melahirkan Faza untuk membantu teteh mengawasi anak-anak. Jadi saat anak kami dua ya pengasuhnya dua, hanya saja Mbak Anis sistemnya pulang pergi, jika saya sudah pulang ke rumah, maka Mbak Anis yang rumahnya di kampung dekat komplek kami juga pulang.

Uniknya, anak-anak kami, jika saya telat pulang sebentar saja setelah maghrib, pasti sudah pada tidur semua. Padahal jika saya pulang normal jam 5 kami masih bisa bermain-main sampai jam 10 malem, saat itulah kami mulai bimbang mungkin ini saatnya saya lebih dekat dengan anak-anak. Selanjutnya hingga saya resign saya tulis di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s