Baca Buku: Cinta di Rumah Hasan Al-Banna

Sesungguhnya peletak dasar pergerakan dakwah modern semisal Hasan Al Banna telah memberi contoh bahwa yang merasakan sentuhan pertama nilai pendidikan seorang da’i, justru orang terdekatnya. Jika seorang ayah, maka istri dan anaknyalah yang merasakan sentuhan pertama. Demikian pula bila ia seorang ibu. (Dra. Hj Wirianingsih)

Bagi saya pribadi, buku ini sangat menarik karena tidak banyak buku yang membahas tentang kehidupan keluarga seorang da’i atau ulama. Seperti pengantar yang dituliskan Ustadzah Wiwik buku ini membuka lembar demi lembar kehidupan Hasan Al Banna dalam berinteraksi dengan anak-anaknya sekaligus menjawab pertanyaan “mana yang lebih penting dakwah untuk ummat atau membina keluarga?” karena ternyata tidak ada dikotomi antara keduanya, keduanya seharusnya sejalan.

20150122_123241

Beberapa poin yang berkesan bagi saya, antara lain:

  • Beliau (mengacu pada Hasan Al-Banna) tampaknya sangat ingin memenuhi tanggung jawabnya sebagai laki-laki di keluarganya sebagaimana hadist yang sering kita dengar dan baca

Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rosulullah SAW bersabda :

“Ketahuilah…Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya, seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya,

seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka,

seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab terhadapnya, setiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian mempunyai tanggung jawab terhadap yang di pimpinnya”. (HR. Abu Daud : 2930)

  • Beliau memiliki 6 anak dan istrinya dipilihkan oleh ibu beliau karena bacaan qur’annya yang mempesona
  • Visi yang benar dan aplikasi sikap yang baik adalah syarat utam tarbiyah di keluarga
  • Menjadi founder dari gerakan Islam yang akhirnya menyebar di 20 negara, di Kairo sendiri ada 2000 cabang Al-Ikhwan tidak membuat beliau meninggalkan momen makan bersama keluarga setiap harinya, bahkan menurut Tsana salah satu putri beliau jika ada tamu, tamu itupun diundang ke rumah agar tetap bisa makan bersama keluarga
  • Tsana bercerita: “kami tidak pernah merasakan adanya beban kegiatan yang dirasakan ayah selama di rumah. Ayah tidak pernah berteriak atau bersuara keras layaknya orang yang memiliki tekanan mental atau fisik walaupun aktifitas di luar rumahnya demikian banyak.
  • Menurut Saiful islam (salah satu putra beliau) Hasan Al Banna memiliki record tentang kehidupan anak-anaknya sangat lengkap dan disimpan rapi, masing-masing anak memiliki map khusus yang berisi tanggal dan sejarah kelahiran, nomer kelahiran, schedule pemberian obat dan makanan, surat kketerangan dokter, catatan kondisi sakit secara detail, ijazah anak-anak, catatan seputar prestasi anak-anak, rapor, dll.
  • Roja salah satu putra beliau mengatakan bahwa saat masih TK ayahnya selalu membawakan bekal makan pagi di sekolah
  • Perhatian beliau terhadap urusan rumah tangga sangat baik, “Ayah menulis sendiri kebutuhan keluarga setiap bulannya dan membayar kebutuhan itu setiap awal bulan kepada salah satu ikhwan yaitu Al Haj Sayed Syihabudin, seorang pemilik toko kelontong” Ujar Saiful Islam. “Ayah mempunyai catatan sendiri tentang kkebutuhan bulanan rumah kami. Sampai terkait sejumlah makanan yang hanya ada sewaktu-waktu seperti kacang, zaitun, nasi, dan semacamnya. Ayah memantau kapan musimnya tiba dan membelinya untuk kami di rumah. Itu karena ayah tahu, Ibu sangat sibuk mengurus rumah tangga.” Tambah Tsana.
  • Beliau memberi uang jajan harian, mingguan dan bulanan pada anak-anaknya di usia tertentu dan memberikan financial education secara implisit kepada mereka. Beliau sangat peduli jika anaknya membutuhkan buku dan mendorong mereka memiliki perpustakaan pribadi sesuai minatnya.
  • Terkadang beliau pun mengirim “mata-mata” untuk mengetahui seberapa kadar infaq anaknya
  • Menasihati tidak secara langsung
  • Menyemai cinta dengan contoh langsung
  • Beliau selalu berupaya menyenangkan hati anak, menenangkannya, mencerahkan pikirannya, menemani bermain dan membuat mereka bahagia.
  • Gaya beliau mengingatkan tentang bagaimana sebaiknya berakhlak baik seperti cerita yang disampaikan putra beliau Saif saat Saif tidak menghormati tamu ayahnya, beliau tida marah malah mengatakan bagaimana jika ayah yang memuliakan tamumu, dan kau juga gantian memuliakan tamu ayah.
  • Anak-anak beliau menurutinya tanpa harus diperintah

Masih banyak lagi sebenarnya… tapi lebih seru dibaca sendiri bukunya🙂 Selamat membaca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s