Keuangan Keluarga Muslim – Kaidah Dasar Harta (1)

Sebelumnya beberapa kali saya telah memposting tentang teknis manajemen keuangan keluarga, ternyata.. ada banyak kaidah dasar selain presentase maksimal untuk setiap kelompok expenditure, bagaimana memilih investasi dan asuransi serta teknis manajemen keuangan lainnya yang saya belum pahami sebelum mendengar sesi ini dari Ustadz Budi Ashari pekan lalu di Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah bulan ke-4.

Sesi ini diawali dengan kisah Maryam yang dididik oleh Nabi Zakaria dan setiap kali ada beraneka makanan di mihrab tempat Maryam beribadah, Nabi Zakaria selalu bertanya “Dari mana ini berasal wahai Maryam?” Pertanyaan ini semata untuk menjaga sang murid dari harta haram yang tidak jelas sumbernya karena akan berakibat fatal pada karakter dan generasi penerusnya. Nah, dasar ini harus kita pahami sebagai seorang muslim bahwa dari mana harta itu berasal adalah sesuatu yang penting sekali diketahui untuk memilah mana yang haram dan halal.

Landasan Makna Harta Menurut Islam

1. Kebaikan

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

[Diwajibkan atas kalian, apabila salah seorang di antara kalian kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika dia meninggalkan harta, (agar) berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabat dengan cara yang baik (ma’ruf), (sebagai) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.] Al-Baqarah:180.

Nah, pada ayat ini kata-kata “Khairan” yang bermakna kebaikan diartikan sebagai harta, jadi menurut Al-Qur’an harta itulah haruslah berasal dari sesuatu yang baik dan digunakan untuk sesuatu yang baik pula.

2. Untuk Tegaknya Kehidupan

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا  ﴿النساء:٥﴾

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”

Pada ayat ini, dijelaskan bahwa fungsi harta adalah untuk tegaknya kehidupan (qiyaman).

Hal – Hal Yang Perlu Diperhatikan Terkait Harta

  • Pemasukan Keuangan Keluarga
  1. Pastikan kehalalannya, baca lagi berbagai referensi terkait harta halal haram untuk menghindarkan diri dari yang syubhat.
  2. Suami yang berkewajiban menafkahi sebagai bentuk qawwamah seorang suami. Istri sama sekali tidak memiliki kewajiban membiayai rumah tangga, dan suami hanya boleh mengambil atau memanfaatkan harta istri jika diridhoi.
  3. Istri memiliki kewajiban mendidik generasi, kalaupun memiliki penghasilan sifatnya adalah sedekah kepada rumah tangga, keluarga atau umat.
  4. Qana’ah, Rasulullah mengajarkan untuk melihat orang yang keadaannya di bawah kita untuk urusan duniawi.
  • Pengeluaran
  1. Ukur kemampuan membelanjakan harta sesuai dengan kondisi masing-masing. Utamakan kebutuhan, bukan keinginan.
  2. Tidak pelit, namun juga tidak berlebih-lebihan
  3. Mengeluarkan harta untuk kebutuhan orang yang terdekat terlebih dahulu, urutannya bisa dilihat dari urutan waris.
  • Penyimpanan –> jauhkan dari tempat penyimpanan yang mengandung riba, dan ingat bahwa tabungan yang tidak dinafkahi fisabilillah adalah tabungan yang akan menyuguhkan siksa di akhirat nanti
  • Pengembangan/Investasi
  1. Jauhkan dari sistem ribawi
  2. Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka
  3. Jaminan terbaik adalah Kesholehan, ada kisah menarik tentang hal ini:

Pada buku Alfu Qishah wa Qishah oleh Hani al Hajj disebutkan bahwa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Bedanya, anak laki-laki Hisyam memperoleh warisan sebesar 1 juta dinar,sementara anak laki-laki Umar hanya mendapat setengah Dinar. Namun, semua anak Hisyam sepeninggal hidupnya dlm keadaan miskin sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz semua hidup dalam keadaan kaya bahkan seorang diantaranya mampu menyumbang fi sabilillah untuk menyediakan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda. Jadi apa yang membedakan keduanya? Keberkahan. Dengan kesholehahan sang ayah, anaknya akan dijaga.

  • Yang Sering Salah Kaprah
  1. Kebiasaan berutang termasuk penggunaan kartu kredit yang berlebihan. Ingat bahwa, orang yang syahid saja akan terganjal dengan utangnya di dunia yang belum ditunaikan. Rasulullah pun tidak mau menyolati jenazah yang masih punya utang 2 dinar hingga Abu Qatadah bersedia menanggungnya.
  2. Tidak ada istilah harta gono-gini, seharusnya setiap harta diperjelas status kepemilikannya saat dibeli
  3. Suami tidak pernah diminta memberikan seluruh hartanya atau pendapatannya untuk istri, seperti yang termaktub di surah An-Nisa’ ayat 34 bahwa hanya sebagian atau secukupnya.
  4. Hati-hati dengan investasi tanah, jika berinvestasi dalam bentuk tanah atau harta tak bergerak lainnya haruslah dipastikan produktif. Jangan membiarkan bumi Allah kosong dan tidak dimakmurkan.

Semoga setelah memahami kaidah dasar ini, kita semakin bersyukur atas apa yang kita miliki dan mendapatkan keberkahan dari setiap rezeki yang diberikan Allah kepada keluarga kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s