Serba Serbi Stay at Home FTM (Full Time Mother)

Saat menyebut Ibu yang stay di rumah dengan sebutan FTM rasanya tidak adil dengan working mom, namanya Ibu yah pasti 24 jam waktunya tetap saja berperan menjadi Ibu. Yang membedakan sebenarnya hanya tempat mereka berada, yang satu stay di rumah yang satu sebagian waktunya berada di kantor atau lokasi lain. Makanya di atas saya tambahkan stay at home FTM walaupun jadi panjanggg banget namanya…. Karena bagi saya semua ibu adalah full time mother..😀

Kaos Haidar

26 Sept 2014 nanti, insya Allah saya akan merayakan satu tahun saya menjadi stay at home FTM🙂 Nah, selama hampir 11 bulan menjalani peran ini.. Saya ingin sedikit berbagi beberapa hal yang menurut saya seru walau gak penting, hehe.. semoga catatan ini bisa bermanfaat untuk emak-emak lainnya sesama stay at home FTM.

  • Mental dan Kondisi Psikis seorang Stay at Home FTM menurut saya adalah yang pertama perlu disiapkan, terutama untuk yang sebelumnya menjadi working mom. Alhamdulillah, saya juga gak langsung brek.. stay full di rumah, sebagian waktu saya masih digunakan untuk mengajar, menyelesaikan rapat sisa kerjaan, dan berbisnis kecil-kecilan. Nah, siapa yang berperan untuk menyiapkan mental tersebut? Tentu saja kita sendiri, malahan ini harus disiapkan sejak kita belum menjadi stay at home FTM, misal untuk yg baru mau nikah, kalau suami minta kita full di rumah berarti sdh harus ditata hatinya dari sejak persiapan menikah. Saya sendiri, sejak 3 bulan menjelang resign sdh sibuk menata hati, walaupuun ya… Namanya persiapan pasti ga seheboh peristiwa riilnya, setidaknya persiapan itu mengurangi momen2 penuh drama setelah menjalani peran ini. Terus siapa lagi yang berperan? Menurut saya, suami. Alhamdulillah wa syukurillah, saya dikaruniai suami yang pandai bersyukur dengan kondisi istrinya yg sangat apa adanya iniiih.. Setelah saya resign, dan serius bergelut di rumah, menata pola pendidikan anak-anak, memulai bisnis kecil-kecilan dan lainnya, suamih tak pernah lupa mensupport, bahkan yang bikin terharu dan membuat saya tersandung adalah saat memuji bagaimana anak-anak makin baik setelah emaknya di rumah. Hehe, jangan2 karena emaknya sering ngomel jadi anaknya jadi lebih behaved, semoga enggak..😀 Jadi, sekali lagi makasii yah suamiih..
  • Mau Ngapain??? Mirip2 dengan kondisi di atas, sebaiknya saat akan memutuskan menjadi stay at home FTM, kita juga merencanakan mau ngapain di rumah. Maksudnya?? Bukannya tanpa ditanya pekerjaan di rumah yang sdh seabrek itu adalah suatu keniscayaan job baru yang harus dikerjakan. Belum tentu, buibu sekalian. Saat memutuskan resign, saya dan suami berdiskusi panjang tentang mau ngapain nanti saya di rumah? Jangan sampai hanya fisik saya saja yang ada di rumah, namun tidak menambah kebaikan apapun pada jiwa keluarga kami. Dan, hasil diskusinya adalah saya stay di rumah untuk memperbaiki pola pendidikan anak-anak. Dengan modal ilmu kuliah di akuntansi FEUI saya penuh perhitungan (sok-sokan) membuat berbagai jadwal, list permainan dan worksheet, dan seabrek list lainnya. Hasilnya?? Akan saya bahas di posting terpisah yaa… panjang banget kalo ditulis di sini.

         Ini beberapa tulisan menjelang saya resign, ini saat 2 hari menjelang resign, ini saat galau menjelang memutuskan resign. Pemicu utama yang akhirnya membuat saya memutuskan harus resign adalaaahh.. momen tanggal 15 Juni 2013 saat saya sedang mengikuti training di Jawa Timur untuk kantor daan saat itu bertepatan dengan pentas akhir tahun Faza, saya pikir Faza akan fine tanpa bundanya.. tapii saat saya telp ternyata suaranya lirih dan dia nangis gak mau pentas karena ga ada bunda. Well, saat itu juga saya merasa bahwa apapun yang sedang saya usahakan untuk anak-anak pasti tidak senilai dengan kehadiran sang bunda. Saya menangis sejadi-jadinya daan keputusan saya sudah bulat saat itu. 

  • Perbanyak Stok Sabar. Menjadi stay at home FTM tidak seindah yang dibayangkan, jadi kalau diilustrasikan begini ya.. saat menjadi working mom, beberapa saat tiba di rumah sudah menyiapkan senyum pelukan dan lainnya, jadi isinya hampir hanya bulan madu dan peluk2an sama anak. Nahhh.. Saat stay hampir 24 jam di rumah, stok itu bisa berkurang seiring dengan tingkah polah para bocah, hihi… Awalnya saya ga sesantai sekarang saat melihat rumah acak adut, duo bocah berantem ga jelas, susahnya ngajak sesuai jadwal (padahal pas bikin jadwal sama2 lho sama kakak, tapi yahh namanya anak2), sekarang setelah belajar beberapa bulan, saya jadi lebih santai, klo ga mau diajakin main craft ya diajak main lainnya, paling gampang ngajak main air, walau imbasnya adalah rumah jadi kadang tak berbentuk.. Alhamdulillah, sampai abis lebaran ini masih ada servant yang bantu2 di rumah, jadi ya untuk urusan bersih2 bisa didelegasikan.
  • Evaluasi Rutin. Jangan dibayangkan evaluasi rutin ini semacam rapat resmi atau cek dokumen, bagi saya evaluasi rutin hanya berupa ngobrol santai dengan suami, liat dari jauh pas anak-anak bermain, kira2 ada peningkatan atau tidak, apa saja perilaku yang perlu dievaluasi dll.

Yahhh begitulah kira-kira, serba serbi menjadi FTM.. ada dukanya tapi banyaaakk sekali sukanya, Intinya semakin kita bersyukur insya Allah semakin banyak nikmat yang diberikan dari Allah.. Jadi, mari bersyukur🙂

With Kiddos 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s