Cerita tentang Telinga: Berbagi Cerita Faza dan OMA

Wahai manusia! Sungguh telah, datang kepadamu pelajaran Al-Quran) dari Rabbmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. – Yunus ayat 57 (10:57)

He who has health, has hope; and he who has hope, has everything. – Thomas Carlyle

 

sehat

Curhat ini kami tulis agar orang tua lain waspada ketika sang anak mulai terlihat “nakal” karena saat diminta melakukan sesuatu tidak dikerjakan, padahal bisa jadi bukan karena tidak mau atau nakal, namun karena ada yang kurang pas dengan pendengaran sang anak.

Sejak hampir setahun lalu, beberapa kali saat Faza demam diikuti dengan keluhan sakit di telinganya. Awalnya baik kami (ayah bundanya) maupun dokter mengira bahwa hal tersebut hanya karena demam yang dibarengi pilek sehingga membuat telinga berdengung. Setelah dua kali demam dalam waktu kurang lebih 3 bulan keluhan tersebut selalu ada, kami mengajak Faza ke dokter THT di RS Hermina, saat itu juga telinga Faza dibersihkan, lumayan susah meganginnya, karena Faza berontak hebat🙂 Ternyata dua bulan kemudian Faza masih mengeluh hal yang sama, kami pun mencari dr THT lain yang biasa menangani anak-anak di RSPI. Karena terlihat kotor di bagian telinga luar maka diminta untuk ditetes terlebih dahulu agar kotorannya melunak, setelah itu kami ke sana lagi dan dibersihkan.

Alhamdulillah, setelah itu agak lama tidak ada keluhan apapun. Sekitar bulan Feb atau Maret saat demam, keluhan itu kembali muncul. Mulai bulan April menjelang Mei, saya dan suami merasakan ada yang kurang beres dengan pendengaran putri kami itu. Beberapa kali saat dipanggil atau diajak bicara Faza tidak merespon dengan baik. Awalnya hipotesa kami sederhana sekali, kebetulan rambut faza agak panjang dan berombak, kami pikir rambut tersebut yang menutupi telinga jadi kurang oke saat mendengar. Jadilah kami membawa Faza ke salon dengan susah payah, karena walaupun anak cewek tapi Faza ini susah banget diajak nyalon (belum bs diajak nyalon bareng bunda). Yuhuuu setelah potong rambut di Kiddy Cut Margo dengan susah payah membujuk si Kaka, kami berharap setelah itu Faza jd lebih konsentrasi mendengar.

 

Diagnosa kedua kami adalah Faza mulai berubaha menjadi anak yang pembangkang, karena tiap kali diminta melakukan sesuatu harus disampaikan berkali-kali, saya sudah hampir membuat janji dengan psikolog anak, hingga kami menemukan kenyataan lain. Ternyata dua bulan terakhir, kami merasa pendengarannya makin kurang baik. Untuk membuktikannya, saat mengajar di kelas TPA sengaja saya menggantikan guru kelas Faza dan mengajak santri di sana (termasuk Faza tentunya) bermain kuda berbisik. Permainan ini intinya membisikkan pesan dari 1 orang ke orang lainnya apakah pesan yang diterima di awal hingga akhir masih sama? Ternyata benar, beberapa kali dibisikin Faza kurang bisa mendengar untuk suara yang lirih tapi saat disampaikan agak keras bisa didengar dengan baik.

Mencari Second Opinion

Seminggu kemudian kami sepakat mengajak Faza ke RS THT Proklamasi, menemui dokter yang biasa menangani gangguan pendengaran pada anak. Kami memeriksakan Faza dan Haidar karena Haidar juga pernah sekali mengeluh sakit telinganya. Haidar tidak ada masalah apa-apa, sementara Faza memang terlihat kotor bagian telinga luarnya (telinga luar di sini bukan yang di daun telinga tapi agak menjorok ke dalam, mungkin tumpukan saat membersihkan dengan cotton bud). Kami diberi obat tetes telinga dan 4 hari kemudian diminta kembali kontrol.

Saat kontrol 4 hari kemudian tanggal 15 Juli 2014, telinganya sudah bersih dan tidak perlu dilakukan tindakan apapun. Namun, karena semalam saya kembali bermain dnegan Faza dan masih dengan kondisi pendengaran yang sama. Kami keukeuh minta diperiksa lagi. Akhirnya dirujuk untuk melakukan audiometri dan tympanometri. Pemeriksaan ini sederhana dan tidak menyakitkan, Faza dipasangi semacam earphone untuk mengetahui tekanan saraf telinganya kalau tidak salah, kmdn ada juga pemeriksaan yang Faza diminta mendengar suara via ear phone kmdn melakukan yang diintruksikan, misalnya disuruh mengangkat tangan kanan dll. Hasilnya langsung bisa diprint beberapa menit kemudian dan kami bawa lagi ke dokter. Dari print-out hasil pemeriksaan tersebut, terlihat bahwa memang ada masalah cairan pekat yang menumpuk di selaput gendang telinga, sebelum tindakan operasi dilakukan dokter tersebut menganjurkan untuk melakukan fisioterapi dan minum obat selama 5 hari berturut2 kmdn tes lagi dan hasilnya dikonsul kembali. Diagnosa yang tertulis di kertas rujukan fisioterapi adalah OMA kiri dan kanan.

Sejujurnya sore itu, sebagai org tua kami sudah mulai deg-degan, bagaimana kalau fisioterapi ini blm berhasil, apakah Faza harus dioperasi? Tapi, kami berusaha optimis dan berdo’a mumpung bulan Ramadhan. 19 Juli 2014 setelah 5 kali fisioterapi dan karena sudah mudik ke Surabaya, agak susah payah nyari RS dengan fasilitas alat tes tersebut. Beberapa RS besar yang saya hubungi pun ternyata tidak mempunyai alat untuk pemeriksaan Tympanometri, alhamdulillah di RS Premier Sby ada. Setelah tes, saya kirim via WA ke dokter yang memeriksa Faza di RS THT Proklamasi. Menurut beliau, fisioterapi masih harus dilanjutkan 5 kali lagi.

Tgl 21 – 25 Juli kami lanjutkan melakukan fisioterapi setiap pagi, semua petugas sampai hafal dengan rombongan kecil kami. Karena Faza harus ditemani oleh orang lain selain saya, karena ada radiasi dari alat fisioterapi yang tidak boleh mengenai ibu hamil. Jadi minimal rombongan kecil kami terdiri dari 4 orang. Saya, Faza, Haidar dan Om atau mbah kung nya😀 Tgl 25 Juli kami tes lagi, agar lebih yakin kami ingin konsul juga dengan Prof Sunaryadi yang ahli THT di RS tersebut, namun hari itu daftar pasien beliau sudah penuh, kami baru mendapat jadwal tgl 31 Juli.

Nah, jadilah setelah lebaran di Pare kami langsung tancap gas tgl 31 Juli pagi menuju Premier. Ketemu juga dengan Prof Sun, panggilan beliau, sudah sepuh tapi tetap ramah dan teliti. Setelah dites ulang dan diperiksa dengan teliti, beliau menyatakan bahwa cairan di selaput gendang Faza sudah terlalu pekat, sehingga fisioterapi dan obat tidak mampu membuat cairan tersebut keluar sendiri. Solusinya harus disedot dengan menyobek sedikit selaput gendangnya, istilah pengobatannya adalah tindakan parasintesis. Sebenarnya untuk org dewasa yang tidak takut terhadap tindakan medis ini termasuk operasi ringan dan tidak perlu dibius, namun karena Faza masih berusia 5 th 8 bulan dan pastinya panik dong saat masuk ruang operasi, maka jika kami setuju atas tindakan tersebut, Faza harus dibius total.

Saya dan suami sempat berpandangan sebentar, suami meminta penjelasan lebih detail lagi tentang tindakan yang akan dikerjakan saat operasi, persiapan dan dampaknya jika operasi itu dilakukan atau tidak dilakukan. Dengan sabar Prof Sun menjelaskan tentang detail penyakit dan tindakan untuk Faza nantinya.

Kira-kira begini penjelasannya, Otitis media adalah infeksi atau inflamasi / peradangan di telinga tengah. Telinga sendiri terbagi menjadi tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga tengah adalah daerah yang dibatasi dengan dunia luar oleh gendang telinga. Daerah ini menghubungkan suara dengan alat pendengaran di telinga dalam. Selain itu di daerah ini terdapat saluran Eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan bagian atas. Guna saluran ini adalah:

  • Menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan menyesuaikannya dengan tekanan udara di dunia luar.
  • Mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan sel-sel yang melapisi telinga tengah ke bagian belakang hidung.
  • Sebagai sawar kuman yang mungkin akan masuk ke dalam telinga tengah

Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

The Day-Parasintesis Faza

Baiklah, karena sudah mendapat penjelasan yang memadai dan kami ingin sekali telinga Faza kembali normal, bismillah kami setuju operasi dilakukan esok hari tgl 1 Agustus 2014 dengan catatan Faza harus puasa sejak jam 7 pagi karena operasi akan dilakukan jam 14 dan bius total mengharuskan lambung pasien kosong. Esok harinya, kami siapkan sarapan kesukaan Faza yaitu soto ayam.. dan kami menemani Faza puasa sampai tiba di RS pukul 13.15. Jam 13.45 Faza masuk dan mulai dibius ditemani ayahnya dengan cara disuruh menghirup obat biusnya hingga lama kelamaan tertidur. Ayahnya diminta keluar dan sesi paling menegangkan dimulai, kami harap2 cemas di luar. Walau katanya hanya operasi kecil tindakan tersebut juga mempengaruhi syaraf2 telinga, kami hanya bisa bertawakkal memohon yang terbaik dari Allah.

Pukul 15.00 kami dipanggil ke ruang recovery di mana Faza sudah berbaring masih tak sadarkan diri. baru 45 menit kemudian Faza sadar dan mulai menangis bukan karena sakit tapi takut melihat selang infus dan kabel layar monitor yang terhubung di tubuhnya. Setelah dilepas, dan coba duduk serta makan minum tidak pusing akhirnya Faza boleh pulang. Sebelum pergi, Prof Sun menjelaskan bahwa operasi tadi lancar dan sukses untuk telinga kanan, sementara di telinga kiri karena sebagian cairan terlalu pekat maka setelah obat yang diberikan habis di Jakarta kami diminta kontrol ke Prof Masrin Munir di RS THT Ciranjang. Kami diwanti2 bahwa telinga Faza tidak boleh kena air selama sebulan, tidak boleh minum air dingin atau makan buah dan apapun yang dingin atau berasal dari kulkas.

Pasca Operasi

Jum’at malam saat pertama kali memberikan obat tetes telinga dan pembersih luka ke Faza adalah perjuangan yang panjang, kurang lebih 2 jam sang ayah harus berkutat membersihkan bekas luka di telinga Faza yang kalo ditetes dengan Hydrogen Peroxide jadi berbusa, nah baru bisa selesai kalau sdh tidak berbusa jadi lama sekaliii terutama telinga kiri, sampai2 kami bertiga ketiduran🙂 Tapi alhamdulillah berikut2nya lancar jayyaa.. Jum’at berikutnya tgl 8 Agustus obat Faza habis dan kami berencana ke Prof Masrin Munir hari Sabtu, karena Jum’at beliau tidak praktek. Untuk bikin janji dengan beliau hanya bs menelepon di hari H mulai jam 7.30, sabtu lalu saya baru berhasil menelepon jam 8 lebih dikit dan sudah dapat nomer urut 19🙂 Kira2 jam 14.00 tiba giliran Faza dipanggil, setelah menjelaskan asal muasal operasi Faza, kmdn Faza diperiksa dan saya melihat dokter itu mengeluarkan darah kotor kering dari telinga kiri Faza. Alhamdulillah, sisa kotoran di telinga kiri sudah berhasil dikeluarkan dan Prof Masrin menyatakan insya Allah sdh tdk perlu kontrol lagi, hanya saja diberi obat lagi untuk mencegah batpil selama masa pengeringan luka sisa operasi.

Daaann.. Memang setelah operasi kemajuan pendengaran Faza luar biasa.. Sekarang suara kecil pun mampu kembali didengar oleh putri tercinta kami🙂 Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s