Membangun Keteladanan Orang Tua dan Berbagi Peran antara Suami Istri

Melanjutkan posting sebelumnya di sini, pada kuliah pertama ini kami kembali diminta untuk menghadirinya bersama suami, selama setahun kuliah hanya ada 3 sesi yang diminta dihadiri bersama pasangan sehingga sudah dapat dipastikan bahwa sesi ini demikian pentingnya untuk dipahami berdua bersama suami. Sesi satu bertema “Membangun Keteladanan Orang Tua”, bagi saya pribadi sesi ini memang sangat penting karena bagaimanapun usaha kita mendidik anak-anak dengan memberikan pendidikan terbaik (baca:mahal) yang signifikan berpengaruh terhadap kepribadian anak adalah keteladanan dari lingkungan terdekatnya.

 fam

Ustadz Elvin yang menyampaikan materi ini, di awal memberikan perumpamaan yang sangat mengena yaitu jika kita bekerja sebagai karyawan dan atasan kita setiap hari tidak pernah terlambat 5 menit pun tiba di kantor, apakah mungkin karyawannya akan tenang saat beberapa kali terlambat walaupun dengan alasan yang sangat urgent, kemungkinan besar sang karyawan akan tetap merasa tidak enak hati.

Kemudian kepada siapa sebaiknya kita belajar dalam membangun keteladanan? Jawabannya tentu saja kepada manusia yang sudah teruji kebaikan akhlaknya: Rasulullah SAW. Mengapa beliau disebut teruji akhlaknya? Ada yang mengatakan bahwa tempat paling rahasia yang paling dapat menceritakan bagaimana pribadi seseorang adalah di rumah, karena kebanyakan orang akan berusaha menjaga image nya di luar rumah namun di dalam rumah akan nampak bagaimana kualitas akhlak yang sebenarnya. Oleh karena itu, sebaiknya kita juga berkaca dari bagaimana kesaksian orang dalam di rumah Rasulullah SAW.

“Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an” dinyatakan oleh ummul mukminin Aisyah RA, istri Rasulullah yang juga anak dari sahabat Rasulullah, Abu Bakar Ash – Shiddiq.

“Aku tak pernah melihat orang yang akhlaknya sebaik Rasulullah” Ummul Mukminin, Shafiyah binti Huyay, istri Rasulullah yang juga anak dari musuh Rasulullah, seorang pimpinan Yahudi, ayah dan suaminya meninggal di Khaibar.

“Rasulullah adalah orang yang paling baik akhlaknya” Anas bin Malik, pembantu Rasulullah yang bekerja 10 tahun hingga Rasulullah wafat dan diakui oleh Anas sepanjang bekerja untuk Rasulullah, Rasulullah tidak pernah “uh” dan memarahi atau menggerutu kepadanya.

Bagaimana keteladan dari Rasulullah dalam keseharian? Beliau selalu menjadi yang terdepan, memberi contoh dengan sengaja, dan memberikan kalimat motivasi. Ibnu Abbas adalah salah satu anak yang masa kecilnya sempat berinteraksi dengan Rasulullah, apa hasilnya? Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, Ibnu Abbas dipercaya menjadi penasihat Umar di usia yang baru 15 tahun.

Saat sesi Tanya jawab, ada beberapa hal yang saya catat penting untuk diingat:

1.      Sebagai orang tua ataupun pendidik kita harus memperhatikan urutan materi pendidikan disesuaikan dengan usia anak, karena Rasulullah pun demikian. Rasulullah menyampaikan bahwa “setiap muslim pasti akan masuk surga di akhir kehidupan akhiratnya setelah “dicuci” dosanya di neraka” di akhir masa kenabian setelah umat di masa tersebut sudah menikmati ibadah wajib maupun sunnah. Bayangkan jika hadist tersebut disampaikan di awal, bisa jadi sebagian umat menganggap posisinya aman setelah mengucapkan syahadat dan bermalas-malasan melakukan ibadah lainnya.

Di kehidupan nyata sebenarnya pun sama, anak tidak dianjurkan untuk diperintah melakukan sholat melainkan cukup melalui tindakan dan biarkan anak bebas memilih mau ikut sholat atau tidak. Suatu saat ada cerita sang Ibu sedang mendengar ceramah radio bahwa sebelum usia 7 tahun anak tidak boleh disuruh sholat, karena si anak mendengar maka setelah itu, sang anak selalu punya alas an untuk menolak diajak sholat bersama ibunya. Nah, itulah tantangan kita untuk dapat memilah urutan materi pembelajaran bagi anak. Hadist tentang gugurnya kewajiban sholat di masjid saat hujan, sebaiknya diberitahukan setelah anak sangat menikmati ibadah di rumah Allah.

2.      Selalu kaitkan setiap fase pendidikan dengan keeratan hubungan dengan Allah. Saat memberikan hadiah misalnya, sampaikan bahwa ini adalah bentuk kasih saying Allah kepada sang anak melalui ayah bundanya.

3.      Ayah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak, karena ibarat sebuah sekolah, sang ayah adalah kepala sekolah yang menetapkan visi misi pendidikan dan garis besar haluan pendidikan, sang ibu sebagai operator pelaksana di lapangan bersama sang ayah juga tentunya, karena peran sebagai teladan bukan hanya kewajiban salah satu dari orang tua melainkan keduanya.

Sesi kedua diisi dengan materi “Berbagi Peran antara Suami dan istri” yang disampaikan oleh Ustadz Herfi. Kami diajak menyelami makna Surat An-Nisa’ ayat 34 yang terjemahnya sebagai berikut:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin (Qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.  (4: 34)

Qawwam tersebut dimiliki oleh kaum laki-laki karena kelebihan mereka pada beberapa hal antara lain:

  • Akal : rasionalitas kaum laki-laki normalnya lebih tinggi dibandingkan kaum wanita, itulah mengapa saksi laki-laki dianggap dapat mewakili dua orang wanita. Contoh sederhana lainnya, dulu saya pernah ditanya oleh kawan yang non muslim mengapa di Islam “agak curang” karena yang menjatuhkan talak adalah laki-laki. Dengan ilmu agama seadanya saya jawab bla, bla, bla, sok filosofis. Setelah berumah tangga hampir 7 tahun saya jadi sangat paham, apa jadinya kalau wanita pun bisa menjatuhkan talak, dengan pikiran yang sangat sensitive dan emosional biasa jadi angka perceraian naik sangat signifikan karena tiap ngambek selalu bilang “cerai/talak” hehe…
  • Agama: karena secara kodrati kaum laki-laki tidak terhalangi ibadahnya dengan haid, nifas, dan sebagainya.
  • Dalam Islam, wanita dicukupi oleh suami, jika suami tiada maka yang bertanggung jawab kembali pada orang tua (ayah), jika orang tua tiada maka kepada anak laki-laki, dan jika anak laki-laki tiada maka tanggung jawab atas kebutuhan wanita tersebut harus ditanggung oleh saudara laki-lakinya.

Bagaimana dengan peran wanita, bagaimana seharusnya karakter minimal seorang istri?

  • Qanitat: taat kepada perintah Allah dan suami
  • Hafidzoh lil ghoib: menjaga diri kehormatan dan harta suaminya saat ditinggalkan
  • Karakter lainnya adalah harus dapat membawa ketenangan hati bagi suami dan keluarganya, sebagaimana yang tercantum di Surat 30 ayat 21

“Penggunaan nama sakinah pasti diambil dari al Qur’an surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Tuhan menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain.  Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan.

 Dalam keluarga itu ada mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis  cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut,  siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga, sebaliknya, rahmah, lama kelamaan menumbuhkan mawaddah.”

 Bagi yang belum mengikuti program Sekolah Orang Tua ini, tanpa diminta oleh panitia, saya sangat merekomendasikan untuk ikut, sangat baik jika diikuti sebelum menikah jadi lebih punya ilmu dan siap saat menikah dan punya momongan, jangan seperti saya yang baru belajar dan kadang jadi “banyak menyesal” :D Wallahu a’lam bish showwab

2 thoughts on “Membangun Keteladanan Orang Tua dan Berbagi Peran antara Suami Istri

  1. Pingback: Harmonisasi Suami Istri dan Peranan Wanita (Serial Akademi Keluarga) | Me, The World, and The Stories

  2. Pingback: Berkah Mendidik Anak Laki-Laki dan Perempuan | Me, The World, and The Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s