Belum Terlambat untuk Belajar Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik

Suatu hari Ali didatangi oleh seseorang yang meminta untuk didoakan sukses berbisnis. Sebelum mendo’akan, Ali bertanya “Apakah kamu sudah paham tentang Fiqh Muamalah?” Orang tersebut menjawab “Bagaimana kalau saya mempelajarinya sambil berbisnis? Dijawab dnegan tegas oleh Ali “Tidak boleh”

Jika untuk berbisnis saja, ilmu dasar Fiqh Muamalah wajib dikuasai, saat akan berumah tangga dan mempunyai anak, sudahkah kita berusaha semaksimal mungkin belajar memahami ilmu-ilmu terkait hal tersebut? Ilmu apa saja? Yang sudah menjadi istri dan ibu pasti tahu bahwa demikian banyak ilmu manajemen harus kita kuasai saat menyandang gelar istri dan ibu tersebut, dari manajemen keuangan, manajemen gizi, manajemen waktu, manajemen pendidikan, dan seabrek ilmu lainnya.

Dengan berbekal informasi dari internet dan rekomendasi beberapa teman, kami sekeluarga kembali belajar untuk dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan sebelumnya, merancang pendidikan anak-anak dan manajemen keluarga selanjutnya. Insya Allah saya akan berusaha rutin mencatat dan menuliskan kembali proses sekolah kami di Akademi Keluarga, semoga bermanfaat.

Pagi itu, kami sekeluarga berangkat pagi-pagi ke Paguyuban Pencak Silat di kawasan Taman Mini demi menemani Ayah dan Bunda menghadiri kuliah perdana Akademi Keluarga yang diadakan oleh Tim Parenting Nabawiyah.

Dalam ruangan yang cukup gegap gempita dengan riuh suara beberapa balita, ulasan shirah yang disampaikan rasanya tetap mengharu biru bagi saya dan suami. Acara ini memang bukan akademi shirah, namun kami diajak untuk meneladani bagaimana para Nabi terdahulu sangat bisa diteladani tentang bagaimana cara mereka mendidik generasi penerus.

Di awal disampaikan bahwa peran seorang Ibu sangatlah penting walaupun tanggung jawab besar pendidikan anak berada di pundak sang Ayah. Kita bisa berkaca dari kisah dua nabi yaitu Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim, bagaimana sebagai sesama Nabi ternyata kondisi keimanan dan akhlak beliau berdua jauh berbeda. Ismail bahkan bersedia saat sang Ayah menyatakan bahwa diminta oleh Allah untuk menyembelihnya, sementara Kan’an putra Nabi Nuh, untuk diselamatkan dari bencana banjir saja justru menolak keras naik ke kapal ayahnya.

Jika keduanya sama – sama memiliki ayah Nabi, apa yang membedakan keduanya? Sangat mungkin adalah karena berbeda cara mendidik sang Ibu. Begitu pula saat disampaikan bahwa semasa kecil Rasulullah, lebih banyak diasuh wanita ketimbang pria. Siapa saja yang berperan dalam pengasuhan masa kecil Rasulullah?

Wanita yang berperan setidaknya ada 6 orang yaitu

  • Ibunda Aminah
  • Tsuwaibah, budak Abu Lahab yang sempat menyusui Rasulullah sebelum Halimah
  • Halimah, Ibu susuan Rasulullah SAW
  • Syaima, anak perempuan Halimah
  • Ummu Aiman, pengasuh Rasulullah yang merupakan khodimat di keluarga Abdul Mutholib. Beliau inilah yang kemudian menikah dengan Zaid bin Haritsah dan melahirkan panglima muda berusia 18 tahun yaitu Usamah bin Zaid
  • Fatimah binti Asad, istri dari Abu Thalib, seorang wanita yang sangat lembut, memliki banyak anak, dan sangat menyayangi Rasulullah SAW.

Adapun laki-laki yang berperan dalam pengasuhan Rasulullah adalah:

  • Suami Halimah
  • Abd Muthalib
  • Abu Thalib

Jika dianalogikan seperti bangunan mendidik seorang anak hingga bisa menjadi kebanggaan bagi agama, keluarga dan bangsa sungguh bukanlah hal yang sederhana dan instan dilakukan. Bandingkan saat kita akan membangun sebuah gubuk, dalam hitungan hari mungkin gubuk tersebut sudah siap dihuni. Namun untuk membangun bangunan dengan tinggi 842 meter yang terdiri dari 162 lantai seperti Burj Dubai membutuhkan 6 tahun saat membangunnya. Berbeda usaha tentu saja juga berbeda hasilnya, gubuk tersebut terkena angin akan langsung rubuh atau reot namun gedung tinggi tersebut lebih tahan akan badai karena pondasinya yang demikian kuat dan dibangun bukan sekedar asal jadi.

  

“Usia 7-12 tahun adalah masa kanak-kanak yang tenang. Bila masa kanak-kanak awal (2-5 tahun) tidak dikawal dengan baik, maka masa kanak-kanak tenang tidak akan tercapai” – Khalid Ahmad (pakar pendidikan Islam)

Sebagai Ibu, saya sadar bahwa masa kanak-kanak awal Faza masih jauh dari sempurna, semoga di kesempatan kedua dan ketiga bersama Haidar dan adiknya kami bisa terus belajar memberikan pondasi terbaik untuk buah hati kami. Aamin ya Rabbal Alamiin.

 

One thought on “Belum Terlambat untuk Belajar Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik

  1. Pingback: Membangun Keteladanan Orang Tua dan Berbagi Peran antara Suami Istri | Me, The World, and The Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s