Pelajaran dari Akhir Kehidupan

 

Image

Walaupun meninggal dunia bukanlah akhir dari kehidupan yang sebenarnya, namun banyak yang mengistilahkan kematian sebagai periode “tutup buku” bagi seorang manusia untuk melakukan amal sholeh maupun perbuatan dosa.

10 hari yang lalu, kami sekeluarga sangat terpukul saat memperoleh kabar dari kampung bahwa Ibu Mertua saya meninggal dunia dengan sangat mendadak pukul 4.30 pagi. Beliau meninggal tanpa sakit sebelumnya sehingga membuat keluarga cukup shock. Kejadian ini serupa dengan yang menimpa Ibu saya kurang lebih 2 tahun yang lalu saat beliau meninggal di Masjid Nabawi, hanya 15 menit berpisah dengan ayah dan ternyata mereka berdua tidak bertemu lagi.

Saat menerima tamu takziah di kampung selama seminggu kejadian serupa dialami oleh beberapa orang yang dikisahkan oleh peziarah, dalam hati saya berdo’a agar saat diambil nyawa saya nanti, saya dalam kondisi khusnul khotimah, tidak menyusahkan keluarga dan orang lain, aamiin.

Saya tidak akan berpanjang lebar bicara tentang kematian itu sendiri, melainkan hikmah yang saya dapatkan dari kedua kejadian tersebut. Ibu saya belum pernah menulis wasiat sebelum beliau meninggal, catatan hutang piutang pun tidak ada. Namun setelah beliau meninggal, berulang kali kami menanyakan kepada keluarga besar dan teman-teman dekat beliau apakah ada utang piutang yang perlu diselesaikan. Berbekal itu, kami menyelesaikan urusan yang ada walaupun setelah ditanya ke sana kemari yang muncul hanya utang arisan di bulan-bulan berikutnya. Pembagian warisan pun dilakukan berdasarkan catatan harta yang Ayah ingat dan ketahui saja.

Berbeda dengan Ibu mertua yang telah menyiapkan detail catatan harta, hibah dan pembagian lokasi harta warisan untuk ahli warisnya. Utang piutang, tidak ada catatan khusus juga, namun karena ada kakak dari suami yang tinggal bersama mertua maka diketahui utang yang masih dimiliki oleh beliau.

Nah, dalam bisnis, pelajaran ini tampaknya menjadi sangat berharga bagi saya pribadi. Walau telah mencoba sedisiplin apapun dalam mencatat berbagai transaksi bisnis dan keuangan keluarga, ada kalanya saya absen melakukannya (pengakuan dosa) entah karena repot sedang banyak deadline klien, anak sakit, keperluan keluarga mendadak, dan lain-lain. Untuk urusan bisnis, karena bergerak di bidang jasa yang transaksinya tidak sebanyak retail masih cukup mudah menutup kesalahan tersebut dengan mencatat dan men-trace transaksi di rekening khusus untuk bisnis. Yang repot adalah keuangan keluarga, terkadang jadi carut marut pos2 peruntukan untuk setiap item yang ada, namun saya tetap usahakan balancing saldo dan memasukkan pengeluaran sesuai pos yang saya ingat. Nah, jadi absen sejenak saat mencatat saya rasa itu manusiawi, namun jangan pernah berhenti untuk terus mencatat seperti yang dituntunkan oleh agama di Surat Al-Baqarah 282, mengapa??

  1. Kita tidak pernah tahu kapan nyawa kita akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, akan jauh lebih ringan beban ahli waris jika mengetahui catatan utang piutang pribadi maupun bisnis. Terlebih kebanyakan badan hukum yang kita gunakan adalah perorangan sehingga tanggung jawab melekat di pribadi masing-masing dan ahli waris.
  2. Tentukan mana harta milik pribadi, bersama pasangan, dan milik pasangan, karena masing-masing memiliki ahli waris yang berbeda. Catat semua akun rekening yang dimiliki, akun asuransi, periode jatuh tempo jika ada investasi yang bisa dicairkan pada waktu tertentu, dll. Update wasiat secara berkala bersama pasangan (jika sudah punya)🙂
  3. Tentunya kita tidak ingin bisnis kita berhenti saat kita tiada, sehingga tidak ada salahnya memiliki data lengkap tentang customer dan SOP singkat bagaimana menjalankan bisnis tersebut, sehingga jika nanti ada yang ingin melanjutkan bisnis kita bisa dilanjutkan dengan lebih smooth.
  4. Jika catatan, laporan dan analisis keuangan usaha kita rapi dan lengkap, hal tersebut pun akan memudahkan ahli waris kita untuk menganalisis kelangsungan usaha ke depan
  5. Cukup banyak cerita tentang perpecahan keluarga akibat perselisihan pembagian warisan, semua catatan dan pembagian yang adil akan meminimalisir kemungkinan terjadinya hal tersebut.

Wallahu a’lam bish showaab. Semoga bermanfaat.

*Diupload setelah 5 jam mengupdate wasiat milik saya dan suami🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s