Membangun Baitul Hikmah Masa Kini

Menurut catatan resmi terakhir, tercatat bahwa ada 643.843 masjid di Indonesia ini di tahun 2004 berdasarkan data tahun 2010, data terbaru per 2014 tidak jelas namun diperkirakan berjumlah sekitar 1 juta menurut link ini. Banyak sekali bukan? Secara kuantitas tidak diragukan lagi banyaknya, namun yang harus juga diperhatikan adalah sebaran dan kualitas fungsinya.

Saat membaca buku Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia karya Prof. Dr. Raghib As-Sirjani dan saya sangat tertegun betapa fungsi masjid di jaman Rasulullah maupun kekhalifahan sangat menginspirasi. Saat inipun beberapa masjid telah sangat kreatif dan inovatif mengelola program-programnya sesuai kebutuhan umat, sayangnya jumlah masjid dengan inovasi seperti itu masih sangat sedikit.

Salah satu fungsi yang sangat menonjol adalah masjid sebagai pusat keilmuan. Tak hanya di masjid, di berbagai sektor, perpustakaan menjadi elemen penting yang wajib ada. Di Indonesia, seringkali kita mendapati Islamic Center namun fungsi yang paling menonjol adalah function room nya yang digunakan sebagai ruang yang biasa disewa untuk event pernikahan atau seminar dan sejenisnya.

Kembali lagi ke perpustakaan, Khalifah Al-Umawi di tahun 961 M atau 350 H mendirikan perpustakaan Cordova yang memiliki pegawai khusus untuk memelihara, mengumpulkan naskah, menentukan dan mengatur tata letak buku sesuai katalognya. Perpustakaan ini mempu memenuhi segala rujukan para ulama dan pencari ilmu di Andalusia.

Di Baghdad, kiprah pembangunan perpustakaan yang kemudian disebut sebagai Baitul Hikmah telah dimulai pada masa Khalifah Abbasiyah Abu Ja’far Al Manshur, dilanjutkan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid (170-193H) yang memerintahkan manuskrip dan kitab ditulis ulang dan diterjemahkan serta dipindahkan ke ruangan yang lebih aman dan nyaman.  Selanjutnya di masa Pemerintahan Al-Ma’mun, beliau mengutus utusan ke Konstantinopel untuk membeli buku dan mengirimnya ke Baitul Hikmah, bahkan jizyah (pajak) terkadang dibayar dengan buku, Beliau pula yang menulis surat kepada Raja Romawi untuk meminta ijin menumbuhkembangkan ilmu kuno bangsa Yunani dan setelah diijinkan, kitab-kitab yang ada itupun dikaji ulang dan diterjemahkan. Masya Allah, indahnya..

Di sanalah banyak dicetak ilmuwan seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Nadim, Ar-Razi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Al-Batani, Ibnu Nafis, dll. Sayangnya, hanya sedikit karangan ilmiah yang dapat diselamatkan saat orang – orang Tartar melemparkan peninggalan Islam tersebut ke Sungai Tigris sehingga air sungai tersebut berubah hitam karena tinta buku.😦

Kini, belum terlambat untuk membangun kembali peradaban yang lebih baik dengan memulai mewujudkan baitul hikmah di masjid ataupun lingkungan setempat kita berada. Tak hanya dengan buku, akses internet dan informasi bisa menjadi salah satu aset penting dalam membangun baitul hikmah masa kini. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk mewujudkan peradaban Madani yang jauh lebih baik, aamiin.

Catatan: Bagi yang tertarik untuk memulai membuat taman baca kecil – kecilan bisa membaca sharing sebelumnya di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s